Manajemen Perioperatif Kasus Urologi Onkologi
Buku 7 dari 9Kata Pengantar
Buku ini disusun sebagai bagian dari Seri Pendidikan Dokter Spesialis Urologi Subspesialis Urologi Onkologi, yang mengacu pada Keputusan Konsil Kedokteran Indonesia Nomor 47/KKI/KEP/V/2023 tentang Standar Pendidikan Profesi Dokter Spesialis Urologi Subspesialis Urologi Onkologi. Buku ketujuh dari sembilan buku dalam seri ini membahas secara khusus manajemen perioperatif pada kasus-kasus urologi onkologi, yang merupakan Pokok Keterampilan Klinis Nomor 23 pada Lampiran 2 Tabel 8 keputusan tersebut.
Manajemen perioperatif merupakan aspek yang menentukan keberhasilan luaran bedah onkologi urologi, mencakup periode praoperatif, intraoperatif, dan pascaoperatif secara terintegrasi. Peserta didik program subspesialis urologi onkologi dituntut menguasai kompetensi ini pada Tingkat 4, yaitu mampu mendiagnosis dan merencanakan penatalaksanaan secara mandiri dan tuntas, mengingat kompleksitas pasien onkologi yang sering disertai komorbiditas, status nutrisi yang terganggu, serta risiko bedah yang lebih tinggi dibandingkan populasi umum.
Buku ini disusun dengan kerangka Enhanced Recovery After Surgery (ERAS) sebagai benang merah utama, memadukan prinsip optimalisasi praoperatif, manajemen anestesi dan hemodinamik intraoperatif, serta pemulihan pascaoperatif yang terstruktur. Penulis menyampaikan penghargaan kepada seluruh pemangku kepentingan pendidikan subspesialis urologi onkologi di Indonesia atas kontribusinya terhadap penyusunan standar kompetensi yang menjadi acuan buku ini.
Semoga buku ini bermanfaat bagi peserta didik, dokter spesialis urologi, serta tenaga kesehatan lain yang terlibat dalam tata laksana perioperatif pasien kanker traktus urinarius dan genitalia pria.
Malang, 2026
Penulis
BAB I — Pendahuluan Prinsip Manajemen Perioperatif Onkologi Urologi
Manajemen perioperatif pada kasus urologi onkologi mencakup keseluruhan rangkaian asuhan pasien sejak diagnosis ditegakkan dan rencana pembedahan ditetapkan, melalui periode praoperatif, intraoperatif, hingga pascaoperatif sampai pasien pulih dan kembali ke aktivitas fungsionalnya. Berbeda dengan bedah non-onkologi, pasien kanker traktus urinarius dan genitalia pria sering datang dengan beban penyakit yang lebih berat: usia lanjut, komorbiditas kardiovaskular dan metabolik, status nutrisi yang terganggu akibat proses keganasan, serta prosedur bedah yang cenderung lebih ekstensif (mis. sistektomi radikal dengan diversi urin, nefrektomi sitoreduktif, atau diseksi kelenjar getah bening retroperitoneal).
Prinsip dasar manajemen perioperatif modern berpijak pada konsep Enhanced Recovery After Surgery (ERAS), yaitu pendekatan multimodal dan multidisiplin yang bertujuan mengurangi respons stres bedah, mempertahankan fungsi organ, dan mempercepat pemulihan fungsional pasien7. Protokol ERAS pertama kali dikembangkan secara sistematis pada bedah kolorektal dan kemudian diadaptasi secara khusus untuk bedah urologi onkologi, khususnya sistektomi radikal, melalui rekomendasi ERAS Society6.
1.1 Tujuan Manajemen Perioperatif Onkologi Urologi
Tujuan utama manajemen perioperatif pada kasus urologi onkologi meliputi:
- Menurunkan angka morbiditas dan mortalitas perioperatif melalui optimalisasi kondisi pasien sebelum pembedahan.
- Mempertahankan stabilitas hemodinamik dan fungsi organ selama tindakan bedah yang kompleks dan berdurasi panjang.
- Mempercepat pemulihan fungsional pascaoperatif (early recovery) sehingga lama rawat inap dapat dipersingkat tanpa mengorbankan keselamatan pasien.
- Meminimalkan komplikasi spesifik bedah onkologi urologi, seperti ileus pascaoperatif, kebocoran anastomosis, infeksi luka operasi, dan komplikasi tromboemboli.
- Memastikan kesinambungan tata laksana onkologis (terapi sistemik adjuvan/neoadjuvan) tidak tertunda akibat komplikasi perioperatif yang dapat dicegah.
Kompetensi manajemen pre dan post operatif kanker traktus urinarius dan genitalia pria tercantum sebagai Pokok Keterampilan Klinis Nomor 23 dalam Lampiran 2 Tabel 8 Keputusan Konsil Kedokteran Indonesia Nomor 47/KKI/KEP/V/2023, dengan tingkat kompetensi 4 (mendiagnosis dan merencanakan penatalaksanaan secara mandiri dan tuntas)18.
1.2 Kerangka Konseptual: Bedah sebagai Kontinum Perioperatif
Pendekatan kontemporer memandang pembedahan bukan sebagai peristiwa tunggal, melainkan sebagai kontinum asuhan yang saling memengaruhi. Keputusan yang diambil pada fase praoperatif — misalnya optimalisasi anemia, kontrol glikemik, atau prehabilitasi fisik — akan memengaruhi toleransi pasien terhadap stres bedah intraoperatif, yang pada gilirannya menentukan kecepatan pemulihan pascaoperatif. Prinsip ini menjadi dasar filosofis seluruh bab dalam buku ini, yang disusun mengikuti kontinum praoperatif (Bab II), intraoperatif (Bab III), dan pascaoperatif (Bab IV), sebelum diintegrasikan pada pembahasan kasus khusus kanker traktus urinarius dan genitalia pria (Bab V).
Respons stres bedah (surgical stress response) yang tidak termodulasi dapat memicu katabolisme protein, resistensi insulin, disfungsi imun, dan disfungsi organ pascaoperatif, sehingga strategi anestesi dan bedah invasif minimal, kontrol nyeri multimodal, serta mobilisasi dini menjadi komponen esensial pengurangan beban fisiologis tersebut1.
1.3 Peran Tim Multidisiplin
Manajemen perioperatif onkologi urologi yang optimal memerlukan kolaborasi erat antara dokter spesialis urologi (subspesialis urologi onkologi), dokter spesialis anestesiologi dan terapi intensif, dokter spesialis penyakit dalam (terutama subspesialis kardiologi, endokrinologi, dan geriatri bila relevan), ahli gizi klinik, perawat onkologi, serta fisioterapis. Koordinasi ini idealnya dimulai sejak keputusan operasi ditetapkan pada forum tumor board, sehingga rencana optimalisasi praoperatif dapat disusun dengan waktu yang memadai.
BAB II — Persiapan Praoperatif
Persiapan praoperatif merupakan fondasi keberhasilan manajemen perioperatif onkologi urologi. Bab ini membahas evaluasi risiko bedah dan optimalisasi komorbiditas, serta penerapan protokol Enhanced Recovery After Surgery (ERAS) pada fase praoperatif.
2.1 Evaluasi Risiko Bedah dan Optimalisasi Komorbiditas
Evaluasi praoperatif bertujuan mengidentifikasi faktor risiko yang dapat dimodifikasi maupun tidak dapat dimodifikasi, guna menstratifikasi risiko bedah pasien dan menyusun rencana optimalisasi. Klasifikasi status fisik American Society of Anesthesiologists (ASA Physical Status Classification) merupakan sistem stratifikasi risiko anestesi yang paling luas digunakan secara global9.
2.1.1 Klasifikasi ASA Physical Status
| Kelas ASA | Deskripsi |
|---|---|
| ASA I | Pasien sehat normal, tanpa gangguan sistemik |
| ASA II | Pasien dengan gangguan sistemik ringan-sedang, tidak membatasi aktivitas (mis. hipertensi terkontrol, diabetes terkontrol) |
| ASA III | Pasien dengan gangguan sistemik berat, membatasi aktivitas namun tidak mengancam nyawa |
| ASA IV | Pasien dengan gangguan sistemik berat yang mengancam nyawa secara terus-menerus |
| ASA V | Pasien moribund yang diperkirakan tidak akan bertahan tanpa operasi |
| ASA VI | Pasien dengan mati batang otak yang organnya akan diambil untuk donor |
Akhiran 'E' (emergency) ditambahkan bila prosedur bersifat kedaruratan. Pada bedah onkologi urologi elektif seperti sistektomi radikal atau nefrektomi radikal, mayoritas pasien tergolong ASA II-III mengingat usia dan komorbiditas yang menyertai keganasan urologi9.
2.1.2 Evaluasi Kardiovaskular
Evaluasi kardiovaskular praoperatif difokuskan pada identifikasi kondisi jantung aktif (mis. sindrom koroner akut, gagal jantung dekompensasi, aritmia bermakna, penyakit katup berat) yang memerlukan penundaan atau optimalisasi sebelum pembedahan elektif. Kapasitas fungsional pasien, yang dapat dinilai secara sederhana melalui kemampuan menaiki dua tingkat tangga atau setara dengan 4 metabolic equivalents (METs), digunakan bersama jenis prosedur bedah untuk menentukan kebutuhan pemeriksaan lanjutan seperti ekokardiografi atau uji latih jantung.
Praktik anestesiologi kontemporer menekankan bahwa pemeriksaan kardiologi invasif rutin tidak diperlukan pada pasien tanpa gejala aktif dan kapasitas fungsional adekuat, sehingga menghindari penundaan operasi yang tidak perlu pada kasus onkologi yang bersifat time-sensitive10.
2.1.3 Optimalisasi Anemia dan Status Nutrisi
Anemia praoperatif dijumpai pada proporsi bermakna pasien kanker buli dan kanker ginjal, sering akibat hematuria kronik atau anemia penyakit kronik. Koreksi anemia sebelum pembedahan besar (mis. suplementasi besi intravena pada anemia defisiensi besi, atau transfusi terencana pada kasus tertentu) direkomendasikan untuk mengurangi kebutuhan transfusi alogenik intraoperatif dan menurunkan risiko komplikasi terkait transfusi.
Skrining status nutrisi menggunakan instrumen tervalidasi (mis. Nutritional Risk Screening) dianjurkan pada seluruh pasien yang akan menjalani bedah onkologi urologi mayor. Pasien dengan risiko malnutrisi tinggi diarahkan untuk mendapat dukungan nutrisi oral atau enteral selama 7-14 hari sebelum operasi bila kondisi klinis memungkinkan penundaan tersebut.
2.1.4 Optimalisasi Glikemik dan Komorbiditas Metabolik
Kontrol glikemik praoperatif yang optimal (target HbA1c di bawah ambang yang disepakati tim multidisiplin, umumnya di bawah 8%) berkaitan dengan penurunan risiko infeksi luka operasi dan komplikasi penyembuhan luka pascaoperatif. Pasien dengan diabetes melitus tidak terkontrol sebaiknya dirujuk untuk optimalisasi bersama dokter spesialis penyakit dalam sebelum operasi elektif dijadwalkan.
2.1.5 Penghentian Obat Antitrombotik dan Manajemen Risiko Tromboemboli
Pasien kanker urologi memiliki risiko tromboemboli vena yang meningkat akibat status hiperkoagulasi terkait keganasan, ditambah imobilisasi perioperatif dan durasi bedah yang panjang. Penghentian obat antikoagulan dan antiplatelet perlu direncanakan berdasarkan indikasi penggunaan (mis. fibrilasi atrium, pemasangan stent koroner) dan waktu paruh obat, dengan pertimbangan bridging pada kasus risiko trombosis tinggi. Profilaksis tromboemboli vena mekanis dan farmakologis pascaoperatif dibahas lebih lanjut pada Bab IV.
- Stratifikasi risiko menggunakan klasifikasi ASA sebagai bahasa komunikasi bersama tim bedah dan anestesi.
- Identifikasi dan optimalisasi komorbiditas kardiovaskular, metabolik, dan hematologis sebelum bedah elektif mayor.
- Skrining dan koreksi status nutrisi, khususnya pada pasien dengan penurunan berat badan bermakna.
- Perencanaan penghentian/bridging obat antitrombotik sesuai indikasi dan risiko individual pasien.
2.2 Enhanced Recovery After Surgery (ERAS) pada Bedah Onkologi Urologi
ERAS Society menerbitkan pedoman khusus perawatan perioperatif pasca sistektomi radikal untuk kanker buli, yang menjadi acuan utama penerapan ERAS pada bedah urologi onkologi6. Protokol ini terdiri atas serangkaian elemen berbasis bukti yang diterapkan secara konsisten pada fase pra-, intra-, dan pascaoperatif. Sepuluh tahun setelah publikasi awal, kajian sistematis dan konsensus ahli terbaru menegaskan relevansi mayoritas elemen ERAS pada sistektomi radikal sekaligus memperbarui bobot rekomendasi beberapa item berdasarkan bukti yang terkumpul sejak 201320.
2.2.1 Elemen ERAS Fase Praoperatif
| Elemen ERAS | Deskripsi Singkat |
|---|---|
| Edukasi & konseling pasien | Penjelasan rencana perioperatif, ekspektasi lama rawat, dan target mobilisasi sejak kunjungan praoperatif |
| Optimalisasi nutrisi | Skrining risiko malnutrisi dan suplementasi bila diperlukan |
| Karbohidrat loading | Pemberian minuman karbohidrat 2-3 jam sebelum induksi anestesi untuk mengurangi resistensi insulin pascaoperatif |
| Pembatasan puasa | Puasa makanan padat 6 jam, cairan jernih diperbolehkan hingga 2 jam sebelum anestesi |
| Bowel preparation minimal | Persiapan usus mekanis rutin dihindari kecuali terdapat indikasi bedah spesifik |
| Profilaksis tromboemboli | Inisiasi profilaksis farmakologis dan mekanis sesuai stratifikasi risiko |
| Profilaksis antibiotik | Pemberian dalam 60 menit sebelum insisi sesuai pedoman antibiotik bedah |
2.2.2 Prehabilitasi
Prehabilitasi merupakan intervensi multimodal (latihan fisik terstruktur, optimalisasi nutrisi, dan dukungan psikologis) yang diberikan pada periode antara diagnosis dan pembedahan, bertujuan meningkatkan cadangan fisiologis pasien sehingga lebih toleran terhadap stres bedah. Pada pasien onkologi urologi dengan jadwal operasi yang memungkinkan jeda waktu, prehabilitasi selama 2-4 minggu dapat dipertimbangkan, khususnya pada pasien lanjut usia atau dengan status fungsional marginal.
Prinsip umum ERAS menekankan bahwa keberhasilan protokol bergantung pada kepatuhan multidisiplin terhadap seluruh elemen secara konsisten, bukan penerapan sebagian elemen secara terpisah7, karena efek kumulatif berbagai elemen kecil inilah yang menghasilkan percepatan pemulihan yang bermakna secara klinis.
BAB III — Manajemen Intraoperatif
Fase intraoperatif menuntut kolaborasi erat antara operator bedah dan tim anestesiologi untuk menjaga stabilitas hemodinamik, meminimalkan kehilangan darah, dan mempertahankan homeostasis fisiologis selama prosedur yang dapat berlangsung beberapa jam pada kasus bedah onkologi urologi mayor.
3.1 Manajemen Anestesi dan Hemodinamik
Pemilihan teknik anestesi (anestesi umum, kombinasi anestesi umum dengan anestesi regional/epidural, atau teknik loko-regional pada prosedur tertentu) disesuaikan dengan jenis dan durasi prosedur, status komorbid pasien, serta preferensi tim anestesiologi. Pada sistektomi radikal dan nefrektomi radikal, anestesi umum dengan kombinasi analgesia epidural torakal atau blok fasia bidang transversus abdominis sering digunakan sebagai bagian dari strategi analgesia multimodal opioid-sparing.
3.1.1 Manajemen Cairan Perioperatif (Goal-Directed Fluid Therapy)
Terapi cairan berbasis target (goal-directed fluid therapy) menggantikan pendekatan pemberian cairan liberal tradisional, dengan tujuan mempertahankan euvolemia dan perfusi organ optimal tanpa kelebihan cairan yang dapat memperlambat pemulihan fungsi usus dan meningkatkan risiko edema jaringan7. Pemantauan hemodinamik lanjut (mis. variasi volume sekuncup) dapat digunakan untuk memandu titrasi cairan pada prosedur bedah mayor dengan risiko pergeseran cairan yang besar.
3.1.2 Pencegahan Hipotermia
Hipotermia perioperatif berkaitan dengan peningkatan risiko perdarahan, infeksi luka operasi, dan gangguan koagulasi. Pemantauan suhu inti secara kontinu dan penggunaan alat penghangat aktif (forced-air warming) sejak awal induksi hingga akhir prosedur merupakan standar perawatan pada bedah onkologi urologi mayor yang berdurasi panjang.
3.1.3 Pemilihan Pendekatan Bedah dan Dampaknya terhadap Fisiologi Intraoperatif
Pendekatan minimal invasif (laparoskopi atau robotik) pada nefrektomi, prostatektomi, dan sistektomi memerlukan perhatian khusus terhadap efek pneumoperitoneum dan posisi ekstrem (Trendelenburg curam) terhadap tekanan intrakranial, komplians paru, dan hemodinamik. Tim anestesiologi perlu mengantisipasi perubahan fisiologis ini, termasuk penyesuaian ventilasi mekanis dan pemantauan tekanan jalan napas.
- Terapi cairan berbasis target lebih dianjurkan dibandingkan pemberian cairan liberal tanpa target fisiologis jelas.
- Normotermia dipertahankan aktif sepanjang prosedur untuk mengurangi risiko koagulopati dan infeksi luka operasi.
- Analgesia multimodal opioid-sparing dimulai sejak fase intraoperatif untuk mendukung pemulihan fungsi usus pascaoperatif.
- Komunikasi terbuka bedah–anestesi mengenai estimasi durasi dan tahapan kritis prosedur meningkatkan keselamatan pasien.
3.2 Manajemen Perdarahan dan Transfusi
Prosedur bedah onkologi urologi mayor seperti sistektomi radikal dengan diseksi kelenjar getah bening pelvis luas, nefrektomi sitoreduktif dengan trombektomi vena kava, dan prostatektomi radikal terbuka memiliki potensi kehilangan darah yang bermakna.
3.2.1 Strategi Konservasi Darah
Strategi konservasi darah intraoperatif mencakup teknik bedah meticulous hemostasis, penggunaan cell salvage pada prosedur dengan risiko perdarahan tinggi (dengan mempertimbangkan kontraindikasi onkologis relatif pada kasus tertentu yang memerlukan diskusi kasus per kasus), serta penggunaan agen hemostatik topikal bila diperlukan.
3.2.2 Ambang Transfusi
Keputusan transfusi sel darah merah intraoperatif didasarkan pada kombinasi nilai hemoglobin, laju dan volume perdarahan aktif, status hemodinamik, serta cadangan fisiologis pasien (usia, fungsi kardiopulmoner), bukan semata-mata angka hemoglobin absolut. Pendekatan transfusi restriktif pada pasien stabil secara hemodinamik umumnya lebih disukai dibandingkan pendekatan liberal, mengingat risiko komplikasi terkait transfusi alogenik.
3.2.3 Koagulopati Terkait Perdarahan Masif
Pada kasus perdarahan masif intraoperatif, tim anestesiologi perlu waspada terhadap koagulopati dilusional dan konsumtif, yang memerlukan pemantauan parameter koagulasi (termasuk viskoelastik bila tersedia) dan pemberian komponen darah tambahan (plasma beku segar, konsentrat trombosit, kriopresipitat) sesuai kebutuhan klinis dan protokol transfusi masif institusi.
| Prosedur | Estimasi Kehilangan Darah Median (mL)* |
|---|---|
| TURBT | Minimal (<100) |
| Prostatektomi radikal (pendekatan robotik) | 100–300 |
| Nefrektomi radikal/parsial | 200–500 |
| Sistektomi radikal dengan diversi urin | 500–1000 |
| Nefrektomi sitoreduktif dengan trombektomi vena kava | Bervariasi luas, dapat >1000 |
*Nilai bersifat estimasi umum dan sangat bervariasi tergantung kompleksitas kasus, pengalaman operator, dan pendekatan bedah; angka institusional spesifik hendaknya digunakan untuk perencanaan klinis.
BAB IV — Manajemen Pascaoperatif
Periode pascaoperatif menentukan kecepatan pemulihan fungsional pasien dan deteksi dini komplikasi. Bab ini membahas manajemen nyeri, pemantauan komplikasi, serta dukungan nutrisi dan rehabilitasi pascaoperatif.
4.1 Manajemen Nyeri Pascaoperasi
Analgesia multimodal merupakan standar tata laksana nyeri pascaoperatif pada bedah onkologi urologi, menggabungkan beberapa golongan analgesik dengan mekanisme kerja berbeda untuk mengurangi kebutuhan opioid sekaligus efek sampingnya (ileus, sedasi, depresi napas, retensi urin).
- Parasetamol/asetaminofen terjadwal sebagai basis analgesia non-opioid.
- Anti-inflamasi non-steroid (NSAID) bila tidak terdapat kontraindikasi (fungsi ginjal, risiko perdarahan).
- Analgesia regional (epidural torakal, blok fasia transversus abdominis, infiltrasi luka dengan anestetik lokal kerja panjang) sesuai jenis insisi.
- Opioid disediakan sebagai terapi penyelamat (rescue) untuk nyeri breakthrough, bukan sebagai andalan utama.
- Gabapentinoid dapat dipertimbangkan pada pasien tertentu dengan mempertimbangkan risiko sedasi berlebih, khususnya pada lansia.
Pendekatan opioid-sparing ini sejalan dengan prinsip ERAS, yang menekankan bahwa kontrol nyeri efektif tanpa sedasi berlebihan merupakan prasyarat mobilisasi dini dan pemulihan fungsi usus7.
4.2 Pemantauan Komplikasi Dini dan Lanjut
Pemantauan pascaoperatif terstruktur bertujuan mendeteksi komplikasi secara dini sebelum berkembang menjadi kondisi yang mengancam nyawa. Klasifikasi Clavien-Dindo digunakan secara luas untuk menstandardisasi pelaporan dan derajat keparahan komplikasi bedah.
4.2.1 Klasifikasi Derajat Komplikasi (Clavien-Dindo, Ringkasan)
| Derajat | Deskripsi Umum |
|---|---|
| I | Penyimpangan dari perjalanan pascaoperatif normal tanpa memerlukan terapi farmakologis, bedah, endoskopik, atau radiologis |
| II | Memerlukan terapi farmakologis di luar yang diizinkan derajat I (termasuk transfusi darah dan nutrisi parenteral total) |
| III | Memerlukan intervensi bedah, endoskopik, atau radiologis (IIIa: tanpa anestesi umum; IIIb: dengan anestesi umum) |
| IV | Komplikasi yang mengancam nyawa memerlukan perawatan unit intensif (IVa: disfungsi satu organ; IVb: disfungsi multiorgan) |
| V | Kematian pasien |
4.2.2 Komplikasi Spesifik Berdasarkan Jenis Prosedur
Komplikasi dini pascaoperatif yang perlu diwaspadai secara spesifik meliputi ileus pascaoperatif berkepanjangan (khususnya pasca sistektomi radikal dengan diversi urin menggunakan segmen usus), kebocoran anastomosis urin atau usus, infeksi luka operasi, komplikasi tromboemboli vena, cedera organ sekitar yang baru terdeteksi pascaoperatif, dan gangguan elektrolit terkait diversi urin (khususnya asidosis metabolik hiperkloremik pada diversi urin menggunakan segmen usus).
Komplikasi lanjut yang memerlukan surveilans jangka panjang mencakup striktur ureteroenterik atau uretra, disfungsi ginjal progresif, hernia parastomal (pada diversi urin inkontinen), serta gangguan fungsi seksual dan kontinensia pasca prostatektomi radikal.
4.2.3 Pemantauan Tromboemboli Vena Pascaoperatif
Mengingat risiko tromboemboli vena yang meningkat pada bedah onkologi mayor, profilaksis farmakologis dengan heparin dosis rendah atau heparin berat molekul rendah umumnya dilanjutkan hingga beberapa minggu pascaoperatif pada prosedur risiko tinggi seperti sistektomi radikal, sesuai kebijakan institusi dan stratifikasi risiko individual, dikombinasikan dengan profilaksis mekanis (stoking kompresi, kompresi pneumatik intermiten) dan mobilisasi dini.
4.3 Nutrisi dan Rehabilitasi Pascaoperasi
Protokol ERAS menganjurkan pemberian nutrisi oral dini pascaoperatif (dalam 24 jam pertama bila memungkinkan) menggantikan pendekatan tradisional nil per os hingga terdapat tanda kembalinya fungsi usus, karena nutrisi oral dini terbukti mempercepat pemulihan fungsi usus dan mengurangi lama rawat inap6.
4.3.1 Strategi Mengurangi Ileus Pascaoperatif
Selain nutrisi oral dini, strategi mengurangi ileus pascaoperatif mencakup pembatasan cairan intravena berlebih, penggunaan permen karet (chewing gum) sebagai stimulasi motilitas usus non-farmakologis, penghindaran opioid berlebihan, serta penggunaan antagonis reseptor opioid perifer (mis. alvimopan bila tersedia) pada pasien terpilih pasca sistektomi radikal dengan diversi usus.
4.3.2 Mobilisasi Dini
Mobilisasi dini (target duduk di luar tempat tidur pada hari operasi atau hari pertama pascaoperasi, dan berjalan progresif pada hari-hari berikutnya) merupakan salah satu elemen ERAS dengan bukti manfaat konsisten dalam mengurangi komplikasi paru, tromboemboli, dan atrofi otot, serta mempercepat pemulihan fungsional secara keseluruhan.
4.3.3 Perencanaan Pemulangan (Discharge Planning)
Perencanaan pemulangan idealnya dimulai sejak fase praoperatif dengan edukasi pasien dan keluarga mengenai kriteria kesiapan pulang (toleransi diet oral, kontrol nyeri dengan analgesik oral, mobilisasi mandiri, tidak ada tanda komplikasi aktif), perawatan stoma atau kateter di rumah bila relevan, serta jadwal kontrol pascaoperatif dan rencana kelanjutan terapi onkologis adjuvan bila diindikasikan.
- Cerantola Y, et al. ERAS Society recommendations pasca sistektomi radikal.
- Ljungqvist O, Scott M, Fearon KC. Enhanced Recovery After Surgery: A Review.
- Klasifikasi Clavien-Dindo untuk standardisasi pelaporan komplikasi bedah.
BAB V — Manajemen Pre dan Post Operatif Kanker Traktus Urinarius dan Genitalia Pria (Kasus Khusus)
Bab ini mengintegrasikan prinsip-prinsip manajemen perioperatif yang telah dibahas pada Bab II-IV ke dalam konteks spesifik masing-masing jenis prosedur bedah onkologi urologi utama, sesuai Pokok Bahasan Keterampilan Klinis pada Lampiran 2 Tabel 8 Keputusan KKI Nomor 47/KKI/KEP/V/2023.
5.1 Manajemen Perioperatif Sistektomi Radikal (Kanker Buli)
Sistektomi radikal dengan diseksi kelenjar getah bening pelvis bilateral merupakan tata laksana standar kanker buli otot-invasif tanpa metastasis jauh, direkomendasikan oleh pedoman European Association of Urology2. Prosedur ini termasuk kategori bedah mayor dengan risiko komplikasi tertinggi di antara prosedur urologi onkologi, sehingga penerapan protokol ERAS secara ketat memberikan manfaat klinis terbesar pada populasi ini6.
Pertimbangan khusus meliputi: optimalisasi nutrisi praoperatif mengingat prevalensi malnutrisi yang tinggi pada populasi ini; edukasi konseling stoma praoperatif oleh perawat stoma bersertifikat bila direncanakan diversi urin inkontinen (konduit ileum); serta perencanaan pemantauan elektrolit ketat pascaoperatif akibat risiko asidosis metabolik hiperkloremik pada diversi kontinen.
Konsensus ahli terbaru merekomendasikan penekanan lebih besar pada prehabilitasi dan optimalisasi nutrisi praoperatif dibandingkan beberapa elemen ERAS klasik lain yang bukti manfaatnya pada sistektomi radikal kini dinilai lebih lemah, sehingga tim perioperatif dianjurkan memprioritaskan elemen dengan dampak klinis terbesar20.
Kompetensi: Tingkat 4 — mendiagnosis dan merencanakan penatalaksanaan perioperatif secara mandiri dan tuntas.
5.2 Manajemen Perioperatif Nefrektomi (Kanker Ginjal)
Nefrektomi radikal, parsial, atau sitoreduktif merupakan tata laksana utama karsinoma sel ginjal terlokalisasi maupun pada konteks tertentu penyakit metastatik, sesuai pedoman European Association of Urology on Renal Cell Carcinoma3.
Pertimbangan perioperatif spesifik meliputi evaluasi fungsi ginjal kontralateral praoperatif (terutama pada nefrektomi radikal), kewaspadaan terhadap trombus tumor pada vena renalis/vena kava inferior yang memerlukan perencanaan bedah dan anestesi lintas disiplin (bedah vaskular, bedah kardiotoraks bila trombus mencapai atrium), serta pemantauan fungsi ginjal pascaoperatif secara serial.
5.3 Manajemen Perioperatif Prostatektomi Radikal (Kanker Prostat)
Prostatektomi radikal, baik melalui pendekatan terbuka, laparoskopik, maupun robotik, merupakan salah satu pilihan tata laksana kuratif kanker prostat lokal berisiko sedang-tinggi sesuai pedoman European Association of Urology on Prostate Cancer4.
Fokus perioperatif meliputi konseling praoperatif mengenai ekspektasi realistis fungsi kontinensia dan seksual pascaoperatif, manajemen kateter uretra pascaoperatif dan edukasi perawatannya, serta pemantauan komplikasi spesifik seperti kebocoran anastomosis vesikouretral dan limfokel pada kasus dengan diseksi kelenjar getah bening pelvis luas.
5.4 Manajemen Perioperatif Orkidektomi dan Tumor Testis/Paratestikular
Orkidektomi radikal (inguinal) merupakan prosedur diagnostik sekaligus terapeutik awal pada tumor testis, umumnya bersifat bedah minor dengan risiko perioperatif relatif rendah dibandingkan prosedur lain pada bab ini, namun tetap memerlukan konseling praoperatif mengenai preservasi fertilitas (bank sperma bila relevan) dan opsi prostesis testis. Perhatian khusus diberikan pada kewaspadaan potensi diseksi kelenjar getah bening retroperitoneal lanjutan pada kasus stadium lebih tinggi, yang membawa profil risiko perioperatif berbeda dan lebih mendekati kompleksitas eksisi tumor retroperitoneal.
5.5 Manajemen Perioperatif Penektomi (Kanker Penis)
Penektomi parsial, total, atau prosedur penile-preserving surgery pada kanker penis memerlukan pertimbangan perioperatif yang menekankan aspek psikososial dan citra tubuh, sehingga konseling multidisiplin (termasuk dukungan psikologis) sejak praoperatif dianjurkan. Diseksi kelenjar getah bening inguinal, bila diindikasikan berdasarkan stadium dan faktor risiko, membawa risiko komplikasi limfatik (limfedema, limfokel, seroma) yang memerlukan strategi pencegahan khusus seperti penggunaan stoking kompresi dan drain terkontrol.
5.6 Manajemen Perioperatif Diseksi Kelenjar Getah Bening dan Eksisi Tumor Retroperitoneal
Prosedur ini, baik sebagai bagian dari sistektomi/nefrektomi/orkidektomi maupun sebagai prosedur retroperitoneal ekstensif tersendiri, memiliki risiko perdarahan dan cedera struktur vaskular mayor yang lebih tinggi, sehingga memerlukan perencanaan bedah dan anestesi yang cermat, termasuk kesiapan produk darah dan komunikasi tim bedah vaskular bila terdapat keterlibatan struktur vaskular mayor.
5.7 Ringkasan Stratifikasi Kompleksitas Perioperatif Antarprosedur
| Prosedur | Kompleksitas Perioperatif Relatif | Fokus Utama |
|---|---|---|
| Orkidektomi radikal | Rendah | Konseling fertilitas, prostesis |
| TURBT | Rendah | Profilaksis perdarahan, instilasi pascaoperatif |
| Prostatektomi radikal | Sedang | Kontinensia, fungsi seksual, kateter |
| Nefrektomi radikal/parsial | Sedang-Tinggi | Fungsi ginjal, trombus vena |
| Penektomi + diseksi inguinal | Sedang-Tinggi | Psikososial, komplikasi limfatik |
| Sistektomi radikal + diversi urin | Tinggi | Nutrisi, elektrolit, stoma, ileus |
| Eksisi tumor retroperitoneal luas | Tinggi | Risiko vaskular, perdarahan masif |
- Setiap prosedur memiliki profil risiko perioperatif spesifik yang menuntut penyesuaian protokol ERAS umum.
- Sistektomi radikal dengan diversi urin membawa kompleksitas perioperatif tertinggi dan manfaat ERAS terbesar.
- Konseling psikososial dan preservasi fungsi (fertilitas, kontinensia, citra tubuh) merupakan bagian integral persiapan praoperatif, bukan pelengkap.
- Seluruh prosedur pada bab ini tergolong kompetensi Tingkat 4 sesuai Lampiran 2 Tabel 8 Keputusan KKI Nomor 47/KKI/KEP/V/2023.
Daftar Referensi
- Wein AJ, Kavoussi LR, Partin AW, Peters CA, editors. Campbell-Walsh-Wein Urology. 12th ed. Philadelphia: Elsevier; 2020.
- European Association of Urology. EAU Guidelines on Muscle-invasive and Metastatic Bladder Cancer. Arnhem: EAU Guidelines Office; edisi 2025. Tersedia dari: uroweb.org/guidelines/muscle-invasive-and-metastatic-bladder-cancer
- European Association of Urology. EAU Guidelines on Renal Cell Carcinoma. Arnhem: EAU Guidelines Office; edisi 2026 (pembaruan terbatas dari edisi 2025). Tersedia dari: uroweb.org/guidelines/renal-cell-carcinoma
- European Association of Urology–EANM–ESTRO–ESUR–ISUP–SIOG. Guidelines on Prostate Cancer. Arnhem: EAU Guidelines Office; edisi 2026 (pembaruan terbatas dari edisi 2025). Tersedia dari: uroweb.org/guidelines/prostate-cancer
- European Association of Urology. EAU Guidelines on Non-muscle-invasive Bladder Cancer. Arnhem: EAU Guidelines Office; edisi terbaru. Tersedia dari: uroweb.org/guidelines/non-muscle-invasive-bladder-cancer
- Cerantola Y, Valerio M, Persson B, et al. Guidelines for perioperative care after radical cystectomy for bladder cancer: Enhanced Recovery After Surgery (ERAS®) society recommendations. Clin Nutr. 2013;32(6):879-887.
- Ljungqvist O, Scott M, Fearon KC. Enhanced Recovery After Surgery: A Review. JAMA Surg. 2017;152(3):292-298.
- Gustafsson UO, Scott MJ, Hubner M, et al. Guidelines for Perioperative Care in Elective Colorectal Surgery: Enhanced Recovery After Surgery (ERAS®) Society Recommendations 2018. World J Surg. 2019;43(3):659-695.
- American Society of Anesthesiologists. ASA Physical Status Classification System. Schaumburg: ASA; 2020. Tersedia dari: asahq.org/standards-and-practice-parameters/statement-on-asa-physical-status-classification-system
- American Society of Anesthesiologists Task Force on Preanesthesia Evaluation. Practice Advisory for Preanesthesia Evaluation. Anesthesiology. 2012;116(3):522-538.
- Haynes AB, Weiser TG, Berry WR, et al. A Surgical Safety Checklist to Reduce Morbidity and Mortality in a Global Population. N Engl J Med. 2009;360(5):491-499.
- National Comprehensive Cancer Network. NCCN Clinical Practice Guidelines in Oncology: Bladder Cancer. Plymouth Meeting: NCCN; edisi terbaru. Tersedia dari: nccn.org/guidelines/category_1
- National Comprehensive Cancer Network. NCCN Clinical Practice Guidelines in Oncology: Kidney Cancer. Plymouth Meeting: NCCN; edisi terbaru. Tersedia dari: nccn.org/guidelines/category_1
- National Comprehensive Cancer Network. NCCN Clinical Practice Guidelines in Oncology: Prostate Cancer. Plymouth Meeting: NCCN; edisi terbaru. Tersedia dari: nccn.org/guidelines/category_1
- Amin MB, Edge SB, Greene FL, et al, editors. AJCC Cancer Staging Manual. 8th ed. New York: Springer; 2017.
- Chang SS, Boorjian SA, Chou R, et al. Diagnosis and Treatment of Non-Muscle Invasive Bladder Cancer: AUA/SUO Guideline. J Urol. 2016;196(4):1021-1029.
- Patel HD, Ball MW, Cohen JE, Kates M, Pierorazio PM, Allaf ME. Morbidity of urologic surgical procedures: an analysis of rates, risk factors, and outcomes. Urology. 2015;85(3):552-559.
- Konsil Kedokteran Indonesia. Keputusan Konsil Kedokteran Indonesia Nomor 47/KKI/KEP/V/2023 tentang Standar Pendidikan Profesi Dokter Spesialis Urologi Subspesialis Urologi Onkologi. Jakarta: KKI; 2023.
- Herrstedt J, Roila F, Warr D, Celio L, Navari RM, Bosnjak SM, et al. 2023 MASCC and ESMO guideline update for the prevention of chemotherapy- and radiotherapy-induced nausea and vomiting and of nausea and vomiting in advanced cancer patients. Multinational Association of Supportive Care in Cancer. Tersedia dari: mascc.org/resources/mascc-guidelines
- Albisinni S, Orecchia L, Mjaess G, Aoun F, Del Giudice F, Antonelli L, et al. Enhanced Recovery After Surgery for patients undergoing radical cystectomy: surgeons' perspectives and recommendations ten years after its implementation. Eur J Surg Oncol. 2024. doi:10.1016/j.ejso.2024.109543.
Glosarium
- Analgesia multimodal
- Strategi kombinasi beberapa golongan obat dan teknik analgesik dengan mekanisme kerja berbeda untuk mengoptimalkan kontrol nyeri sekaligus mengurangi dosis dan efek samping opioid.
- ASA Physical Status Classification
- Sistem stratifikasi risiko anestesi berdasarkan status kesehatan sistemik pasien sebelum pembedahan, dari kelas I (sehat) hingga VI (donor organ mati batang otak).
- Asidosis metabolik hiperkloremik
- Gangguan keseimbangan asam-basa yang dapat terjadi pasca diversi urin menggunakan segmen usus akibat reabsorpsi klorida dan sekresi bikarbonat oleh mukosa usus yang bersentuhan dengan urin.
- Cell salvage
- Teknik intraoperatif untuk mengumpulkan, mencuci, dan mentransfusikan kembali darah pasien sendiri yang hilang selama pembedahan.
- Clavien-Dindo, Klasifikasi
- Sistem klasifikasi standar untuk menilai derajat keparahan komplikasi bedah berdasarkan jenis terapi yang diperlukan untuk menanganinya.
- Diversi urin
- Prosedur bedah untuk mengalihkan aliran urin setelah pengangkatan kandung kemih, dapat bersifat kontinen (mis. neobladder) atau inkontinen (mis. konduit ileum).
- ERAS (Enhanced Recovery After Surgery)
- Protokol perawatan perioperatif multimodal dan multidisiplin berbasis bukti yang bertujuan mempercepat pemulihan fungsional pasien pascabedah.
- Goal-directed fluid therapy
- Strategi pemberian cairan intraoperatif yang dipandu oleh parameter hemodinamik target, bukan volume tetap yang ditentukan sebelumnya.
- Ileus pascaoperatif
- Gangguan sementara motilitas saluran cerna setelah pembedahan abdomen, ditandai distensi, mual, dan keterlambatan flatus/defekasi.
- Karbohidrat loading
- Pemberian minuman kaya karbohidrat pada periode beberapa jam sebelum induksi anestesi untuk mengurangi resistensi insulin pascaoperatif.
- Kompetensi Tingkat 4
- Tingkat kemampuan tertinggi dalam sistem kompetensi klinis KKI, yaitu mampu mendiagnosis dan merencanakan penatalaksanaan penyakit/prosedur secara mandiri dan tuntas.
- Limfokel
- Kumpulan cairan limfe yang terperangkap di rongga tubuh setelah diseksi kelenjar getah bening, dapat menyebabkan nyeri, infeksi, atau kompresi struktur sekitar.
- MET (Metabolic Equivalent)
- Satuan yang menggambarkan konsumsi oksigen saat istirahat, digunakan untuk mengukur kapasitas fungsional pasien praoperatif.
- Mobilisasi dini
- Strategi menggerakkan pasien keluar dari tempat tidur dan berjalan sesegera mungkin setelah pembedahan untuk mengurangi komplikasi imobilisasi.
- Nefrektomi sitoreduktif
- Pengangkatan ginjal yang mengandung tumor primer pada pasien dengan penyakit metastatik, bertujuan mengurangi beban tumor sebagai bagian dari strategi terapi multimodal.
- Neobladder
- Jenis diversi urin kontinen yang dibentuk dari segmen usus untuk menggantikan fungsi kandung kemih, memungkinkan berkemih melalui uretra.
- Orkidektomi radikal
- Pengangkatan testis beserta struktur tunika dan sebagian funikulus spermatikus melalui pendekatan inguinal, merupakan tata laksana awal standar tumor testis.
- Penektomi
- Prosedur pengangkatan sebagian (parsial) atau seluruh (total) penis sebagai tata laksana kanker penis.
- Prehabilitasi
- Intervensi multimodal (latihan fisik, nutrisi, dukungan psikologis) pada periode sebelum pembedahan untuk meningkatkan cadangan fisiologis pasien.
- Profilaksis tromboemboli vena
- Tindakan pencegahan pembentukan trombus vena dalam dan emboli paru melalui metode farmakologis (mis. heparin) dan mekanis (mis. kompresi pneumatik intermiten).
- Prostatektomi radikal
- Pengangkatan kelenjar prostat beserta vesikula seminalis sebagai tata laksana kuratif kanker prostat lokal.
- Respons stres bedah
- Rangkaian perubahan hormonal, metabolik, dan imunologis tubuh sebagai reaksi terhadap trauma pembedahan.
- Sistektomi radikal
- Pengangkatan kandung kemih beserta struktur sekitarnya (prostat dan vesikula seminalis pada pria) disertai diseksi kelenjar getah bening pelvis, sebagai tata laksana standar kanker buli otot-invasif.
- Skrining risiko nutrisi
- Proses identifikasi pasien dengan risiko malnutrisi menggunakan instrumen tervalidasi untuk menentukan kebutuhan intervensi nutrisi lebih lanjut.
- Trombektomi vena kava
- Prosedur bedah pengangkatan trombus tumor yang meluas dari vena renalis ke dalam vena kava inferior, sering dijumpai pada karsinoma sel ginjal lanjut.
- Tumor board
- Forum diskusi multidisiplin yang membahas rencana tata laksana pasien kanker secara terintegrasi antarspesialisasi.
Tentang Buku Ini
Buku ini merupakan Buku 7 dari 9 dalam Seri Pendidikan Dokter Spesialis Urologi Subspesialis Urologi Onkologi, yang secara khusus membahas manajemen perioperatif kasus urologi onkologi sebagai Pokok Keterampilan Klinis Nomor 23 pada Lampiran 2 Tabel 8 Keputusan Konsil Kedokteran Indonesia Nomor 47/KKI/KEP/V/2023. Pembahasan dalam buku ini berkaitan erat dengan buku-buku lain dalam seri yang membahas tata laksana definitif masing-masing keganasan traktus urinarius dan genitalia pria (kanker buli, kanker ginjal, kanker prostat, kanker testis, dan kanker penis), sehingga pembaca dianjurkan menelaah buku tersebut sebagai rujukan silang untuk pemahaman komprehensif mengenai indikasi dan teknik bedah yang mendasari pertimbangan manajemen perioperatif yang dibahas di sini.