Terapi Operatif Lanjut dan Diversi Urin
pada Kanker Urologi Onkologi
Mengacu pada Keputusan Konsil Kedokteran Indonesia (KKI) Nomor 47/KKI/KEP/V/2023
tentang Standar Pendidikan Profesi Dokter Spesialis Urologi Subspesialis Urologi Onkologi
KATA PENGANTAR
Buku ini disusun sebagai bagian dari Seri Pendidikan Dokter Spesialis Urologi Subspesialis Urologi Onkologi, yang mengacu pada Keputusan Konsil Kedokteran Indonesia (KKI) Nomor 47/KKI/KEP/V/2023 tentang Standar Pendidikan Profesi Dokter Spesialis Urologi Subspesialis Urologi Onkologi. Buku keenam dari sembilan buku dalam seri ini secara khusus membahas terapi operatif lanjut dan diversi urin pada kanker urologi onkologi, mencakup seluruh Pokok Keterampilan Klinis Nomor 10 hingga 22 pada Lampiran 2 Tabel 8 keputusan tersebut.
Penyusunan buku ini dilandasi kebutuhan akan sumber pembelajaran yang komprehensif, terstruktur, dan sesuai kaidah ilmiah kedokteran mutakhir bagi peserta didik Program Pendidikan Dokter Subspesialis Urologi Onkologi. Materi disusun dengan merujuk pada sumber pustaka utama yang diakui secara internasional, yaitu Campbell-Walsh-Wein Urology dan Panduan European Association of Urology (EAU) on Oncology, dilengkapi rujukan pendukung dari National Comprehensive Cancer Network (NCCN), American Urological Association (AUA), AJCC Cancer Staging Manual, serta pedoman nasional yang relevan.
Setiap bab disusun dengan kerangka yang konsisten—mencakup definisi, epidemiologi, patologi, manifestasi klinis, pendekatan diagnostik dan stadium, tata laksana multimodal, komplikasi, hingga pemantauan pascaterapi—guna memudahkan proses pembelajaran terstruktur dan penilaian pencapaian kompetensi peserta didik sesuai tingkat kompetensi yang dipersyaratkan.
Semoga buku ini bermanfaat sebagai salah satu sumber pembelajaran bagi peserta didik dan sejawat urologi yang berminat mendalami bidang urologi onkologi, serta berkontribusi pada peningkatan mutu pelayanan kesehatan urologi onkologi di Indonesia.
Tim Penyusun
BAB I — PENDAHULUAN PRINSIP BEDAH ONKOLOGI UROLOGI
Bab ini memaparkan prinsip dasar yang melandasi seluruh tindakan bedah onkologi urologi lanjut yang dibahas pada bab-bab berikutnya, mencakup filosofi bedah onkologi, prinsip perencanaan perioperatif, serta kerangka pengambilan keputusan multidisiplin yang menjadi acuan bagi peserta didik Program Pendidikan Dokter Subspesialis Urologi Onkologi sesuai Keputusan Konsil Kedokteran Indonesia (KKI) Nomor 47/KKI/KEP/V/2023.[15]
1.1 Filosofi dan Tujuan Bedah Onkologi Urologi
Bedah onkologi urologi lanjut bertujuan mencapai kontrol tumor lokoregional yang optimal (oncologic control) dengan tetap memperhatikan fungsi organ, kualitas hidup, dan keselamatan pasien. Prinsip en bloc resection dengan batas sayatan bebas tumor (negative surgical margin), penanganan atraumatik terhadap jaringan tumor untuk mencegah tumor seeding, serta diseksi anatomis yang presisi merupakan kaidah dasar yang berlaku pada seluruh prosedur yang dibahas pada buku ini.[1]
Keputusan operatif pada kanker urologi tidak dapat dipisahkan dari stadium penyakit, status fungsional pasien, komorbiditas, serta preferensi pasien setelah proses informed consent yang komprehensif. Pendekatan multimodal—memadukan bedah, terapi sistemik, dan radioterapi sesuai indikasi—menjadi standar tata laksana kanker urologi kontemporer.[2,5,6]
1.2 Prinsip Perencanaan Perioperatif
Perencanaan prabedah mencakup penilaian stadium klinis melalui pencitraan (CT, MRI, PET-CT sesuai indikasi), optimalisasi status fisiologis pasien (kardiopulmoner, nutrisi, fungsi ginjal), serta konseling mengenai risiko dan dampak fungsional tindakan (kontinensia, potensi seksual, fungsi ginjal). Protokol Enhanced Recovery After Surgery (ERAS) direkomendasikan pada prosedur bedah mayor seperti sistektomi radikal dan nefrektomi terbuka untuk mempercepat pemulihan dan menurunkan morbiditas pascabedah.[1,3]
Pemilihan pendekatan bedah—terbuka, laparoskopik, atau robotik—harus mempertimbangkan stadium tumor, ketersediaan fasilitas dan keahlian operator, serta bukti ilmiah terkini mengenai luaran onkologis dan fungsional dari masing-masing pendekatan. European Association of Urology (EAU) dan National Comprehensive Cancer Network (NCCN) merekomendasikan bahwa pemilihan teknik minimal invasif harus tidak mengorbankan prinsip onkologis dasar.[2,3,5,6]
1.3 Prinsip Diseksi Kelenjar Getah Bening dan Diversi Urin
Diseksi kelenjar getah bening (KGB) regional merupakan komponen esensial pada sebagian besar bedah onkologi urologi lanjut, baik untuk tujuan staging maupun terapeutik, dan dibahas secara khusus pada Bab V. Diversi urin merupakan konsekuensi wajib pascasistektomi radikal maupun pascauretrektomi luas, dan pemilihan jenis diversi—kontinen atau inkontinen—memerlukan pertimbangan cermat terhadap fungsi ginjal, status kognitif, kemampuan perawatan diri, dan preferensi pasien, sebagaimana dibahas mendalam pada Bab VI.[1,3]
1.4 Kerangka Kompetensi menurut KKI No. 47/KKI/KEP/V/2023
Seluruh prosedur bedah onkologi urologi lanjut yang dibahas dalam buku ini termasuk dalam Pokok Keterampilan Klinis Nomor 10 hingga 22 pada Lampiran 2 Tabel 8 Keputusan KKI Nomor 47/KKI/KEP/V/2023, dengan Tingkat Kompetensi 4 (Does)—yaitu lulusan Dokter Subspesialis Urologi Onkologi mampu melakukan keterampilan klinis tersebut secara mandiri.[15] Tingkat kompetensi ini menuntut penguasaan penuh terhadap indikasi, teknik operatif, penanganan komplikasi, dan pemantauan pascabedah pada seluruh prosedur yang dibahas.
- Prinsip onkologis dasar (en bloc resection, margin bebas tumor, minimalisasi tumor seeding) berlaku universal pada seluruh bedah onkologi urologi lanjut.
- Pendekatan multimodal dan keputusan bedah individual (shared decision making) merupakan standar tata laksana kanker urologi kontemporer.
- Seluruh prosedur pada buku ini menuntut Tingkat Kompetensi 4 sesuai Lampiran 2 Tabel 8 Keputusan KKI No. 47/KKI/KEP/V/2023.
BAB II — TERAPI OPERATIF KANKER SALURAN KEMIH
Bab ini membahas prosedur bedah pada keganasan saluran kemih bagian atas dan bawah, mencakup reseksi transuretra tumor buli berisiko tinggi, sistektomi, nefrektomi onkologis, nefroureterektomi, ureterektomi parsial, dan uretrektomi, sesuai kerangka Pokok Keterampilan Klinis Nomor 10–15 dan 17–18 pada Lampiran 2 Tabel 8 Keputusan KKI No. 47/KKI/KEP/V/2023.
2.1 Transurethral Resection of Bladder Tumor (TURBT) dengan Komplikasi dan/atau Risiko Tinggi
Definisi. TURBT adalah prosedur reseksi endoskopik transuretra terhadap tumor buli yang berfungsi baik sebagai modalitas diagnostik (penentuan stadium dan derajat histologis) maupun terapeutik pada kanker buli non-invasif otot (non-muscle-invasive bladder cancer, NMIBC). TURBT berisiko tinggi merujuk pada tumor multipel, ukuran besar (>3 cm), lokasi sulit (dekat orifisium ureter atau divertikel), atau disertai komorbiditas signifikan yang meningkatkan risiko perforasi, perdarahan, atau sindrom TUR.[2]
Epidemiologi dan Etiologi. Kanker buli merupakan keganasan saluran kemih tersering, dengan sekitar 75% kasus baru terdiagnosis pada stadium NMIBC. Faktor risiko utama meliputi paparan asap rokok, paparan okupasional terhadap amina aromatik, dan infeksi kronik (Schistosoma haematobium pada karsinoma sel skuamosa).[2,9]
Patologi dan Klasifikasi. Karsinoma urotelial merupakan tipe histologis tersering (>90%). Klasifikasi WHO membagi derajat menjadi low-grade dan high-grade; stratifikasi risiko EAU maupun NCCN (risiko rendah, menengah, tinggi, sangat tinggi) menentukan strategi tata laksana dan surveilans pascareseksi.[2,10]
Manifestasi Klinis. Hematuria makroskopik nyeri tanpa disertai gejala lain (painless gross hematuria) merupakan gejala tersering; gejala iritatif buli (frekuensi, urgensi, disuria) dapat menyertai terutama pada karsinoma in situ.
Diagnostik dan Stadium. Sistoskopi dengan biopsi/reseksi merupakan baku emas diagnosis. Pencitraan cahaya biru (photodynamic diagnosis) atau narrow band imaging meningkatkan deteksi karsinoma in situ dan menurunkan angka residu tumor. Stadium ditentukan menurut sistem TNM AJCC edisi ke-8, dengan tumor terbatas pada lamina propria (T1) atau muscularis propria utuh sebagai penentu tata laksana konservasi buli.[9]
| Kategori Risiko EAU | Karakteristik Tumor | Rekomendasi Tata Laksana |
|---|---|---|
| Risiko rendah | Ta, low-grade, soliter, <3 cm | Reseksi tunggal + instilasi kemoterapi pasca-TUR dosis tunggal |
| Risiko menengah | Rekuren, Ta low-grade multipel/besar | Reseksi + terapi intravesikal adjuvan (kemoterapi/BCG) |
| Risiko tinggi | T1, high-grade, KIS, atau kombinasi | Re-TURBT dalam 2–6 minggu + BCG induksi-maintenance |
| Risiko sangat tinggi | T1 high-grade + KIS, varian histologis agresif, kegagalan BCG | Pertimbangkan sistektomi radikal dini |
Tata Laksana Multimodal. TURBT dilakukan dengan reseksi bertahap (tumor eksofitik, dasar, tepi) menggunakan energi monopolar atau bipolar; reseksi en bloc semakin dianjurkan pada tumor terpilih untuk memperbaiki akurasi staging patologis. Re-TURBT dalam 2–6 minggu wajib dilakukan pada tumor T1 atau bila reseksi awal tidak lengkap/tidak terdapat otot detrusor pada spesimen. Instilasi kemoterapi intravesikal pascareseksi segera (dalam 24 jam) menurunkan risiko rekurensi pada tumor risiko rendah-menengah. Pada risiko tinggi, terapi intravesikal Bacillus Calmette-Guérin (BCG) induksi enam minggu dilanjutkan maintenance merupakan standar tata laksana lini pertama.[2]
Komplikasi. Perforasi buli (intraperitoneal atau ekstraperitoneal), perdarahan signifikan, sindrom TUR (pada penggunaan cairan irigasi hipotonik dengan energi monopolar), striktur uretra, dan cedera orifisium ureter merupakan komplikasi yang perlu diantisipasi terutama pada tumor besar dan multipel.
Pemantauan dan Surveilans. Sistoskopi surveilans dijadwalkan berdasarkan stratifikasi risiko—setiap 3 bulan pada risiko tinggi selama 2 tahun pertama, diperpanjang bertahap bila tidak ada rekurensi—disertai sitologi urin pada kasus risiko tinggi.[2]
Tingkat Kompetensi: 4 — mampu melakukan TURBT dengan komplikasi dan/atau risiko tinggi secara mandiri dan tuntas.
- TURBT adalah prosedur diagnostik sekaligus terapeutik utama pada NMIBC; kualitas reseksi menentukan akurasi staging.
- Re-TURBT wajib pada tumor T1, high-grade, atau reseksi awal tanpa otot detrusor pada spesimen.
- Stratifikasi risiko EAU menentukan intensitas terapi intravesikal adjuvan dan jadwal surveilans.
2.2 Sistektomi Radikal/Parsial/Paliatif
Definisi. Sistektomi radikal adalah pengangkatan buli beserta jaringan perivesikal, dan pada pria mencakup prostat dan vesikula seminalis, sedangkan pada wanita dapat mencakup uterus, adneksa, dan sebagian dinding vagina anterior sesuai perluasan tumor, disertai diseksi KGB panggul bilateral. Sistektomi parsial merupakan reseksi segmental buli pada tumor terseleksi yang soliter dan berada jauh dari trigonum. Sistektomi paliatif ditujukan untuk kontrol gejala (perdarahan tidak terkontrol, nyeri) pada penyakit metastatik lanjut.[1,3]
Indikasi. Sistektomi radikal merupakan tata laksana standar pada kanker buli invasif otot (muscle-invasive bladder cancer, MIBC) T2–T4a N0-Nx M0, serta pada NMIBC risiko sangat tinggi yang gagal terapi intravesikal (BCG-unresponsive). Kemoterapi neoadjuvan berbasis cisplatin direkomendasikan sebelum sistektomi pada pasien MIBC dengan fungsi ginjal adekuat karena memberikan manfaat kesintasan.[3,10]
Teknik Operatif. Sistektomi radikal dapat dilakukan melalui pendekatan terbuka, laparoskopik, atau robotik-asistensi, dengan prinsip diseksi bidang anatomis (ruang retzius, ruang rektovesikal/rektoprostatik) untuk mencapai margin bebas tumor. Diseksi KGB panggul standar (obturator, iliaka eksterna dan interna) hingga bifurkasio iliaka komunis, atau diseksi diperluas hingga arteri mesenterika inferior, dilakukan bersamaan untuk staging dan terapeutik.[1,3]
| Jenis Sistektomi | Indikasi Utama | Cakupan Reseksi |
|---|---|---|
| Radikal | MIBC T2–T4a, NMIBC risiko sangat tinggi gagal BCG | Buli + prostat/vesikula seminalis (pria) atau uterus/adneksa (wanita) + KGB panggul |
| Parsial | Tumor soliter, jauh dari trigonum, tanpa KIS difus | Reseksi segmental dinding buli dengan margin sehat |
| Paliatif | Metastasis luas dengan gejala lokal tidak terkontrol | Reseksi buli untuk kontrol gejala tanpa tujuan kuratif |
Diversi Urin Pasca-sistektomi. Setelah sistektomi radikal, diversi urin wajib dilakukan; pilihan meliputi konduit ileum (inkontinen), neobladder ortotopik, atau kantong kateterisasi kontinen, sebagaimana dibahas rinci pada Bab VI.
Komplikasi. Komplikasi awal meliputi ileus, kebocoran anastomosis ureter-usus, infeksi luka operasi, dan tromboemboli vena; komplikasi lanjut meliputi striktur ureteroileal, gangguan metabolik akibat reabsorpsi usus, dan disfungsi seksual pascareseksi struktur neurovaskular.[1]
Pemantauan. Surveilans pascasistektomi mencakup pencitraan berkala (CT toraks-abdomen-pelvis), evaluasi fungsi ginjal, dan pemantauan status metabolik terkait diversi urin, dengan interval lebih rapat pada 2 tahun pertama sesuai risiko rekurensi.
Tingkat Kompetensi: 4 — mampu melakukan sistektomi radikal/parsial/paliatif secara mandiri dan tuntas.
- Sistektomi radikal disertai diseksi KGB panggul adalah standar tata laksana MIBC nonmetastatik.
- Kemoterapi neoadjuvan berbasis cisplatin direkomendasikan sebelum sistektomi bila fungsi ginjal memungkinkan.
- Pilihan diversi urin harus didiskusikan sejak prabedah bersama pasien.
2.3 Nefrektomi Radikal/Parsial/Sitoreduktif dengan Komplikasi dan/atau Risiko Tinggi
Definisi. Nefrektomi radikal adalah pengangkatan ginjal beserta fasia Gerota, dengan atau tanpa adrenalektomi ipsilateral sesuai indikasi. Nefrektomi parsial (nephron-sparing surgery) mereseksi tumor dengan mempertahankan parenkim ginjal sehat. Nefrektomi sitoreduktif dilakukan pada karsinoma sel ginjal metastatik sebagai bagian dari tata laksana multimodal bersama terapi sistemik.[1,5]
Epidemiologi dan Faktor Risiko. Karsinoma sel ginjal (renal cell carcinoma, RCC) merupakan 90% keganasan ginjal, dengan subtipe clear cell tersering. Faktor risiko meliputi merokok, obesitas, hipertensi, dan penyakit ginjal kistik didapat pada pasien hemodialisis kronik.[5]
Klasifikasi Histologis. Subtipe utama meliputi clear cell RCC, papillary RCC (tipe 1 dan 2), dan chromophobe RCC, masing-masing dengan profil molekular dan prognosis berbeda.[5]
Diagnostik dan Stadium. CT atau MRI abdomen dengan kontras merupakan modalitas utama karakterisasi massa ginjal dan staging TNM; biopsi perkutan dipertimbangkan pada kasus dengan diagnosis ambigu atau sebelum terapi sistemik pada penyakit metastatik.[5,9]
| Stadium TNM (ringkas) | Deskripsi | Pendekatan Bedah Lini Pertama |
|---|---|---|
| T1 (≤7 cm, terbatas ginjal) | Tumor lokal terbatas | Nefrektomi parsial (bila memungkinkan secara teknis) |
| T2 (>7 cm, terbatas ginjal) | Tumor lokal besar | Nefrektomi radikal atau parsial selektif |
| T3 | Invasi vena renalis/vena kava/lemak perinefrik | Nefrektomi radikal ± trombektomi vena kava |
| M1 | Metastasis jauh | Nefrektomi sitoreduktif + terapi sistemik (kasus terseleksi) |
Tata Laksana Multimodal. Nefrektomi parsial merupakan standar pada tumor T1 bila secara teknis dapat dilakukan, karena memberikan preservasi fungsi ginjal setara kontrol onkologis dengan nefrektomi radikal.[16] Pada tumor risiko tinggi dengan trombus tumor vena kava, pendekatan multidisiplin bedah vaskular/kardiotoraks diperlukan. Pada penyakit metastatik, nefrektomi sitoreduktif dipertimbangkan pada pasien dengan status performa baik dan beban tumor metastatik terbatas, dikombinasikan dengan terapi target molekular atau imunoterapi.[5,11]
Komplikasi. Perdarahan, cedera organ berdekatan (limpa, pankreas, kolon, duodenum), kebocoran urin pada nefrektomi parsial, dan gangguan fungsi ginjal pascabedah merupakan risiko utama, meningkat pada tumor kompleks (skor nefrometri tinggi) atau trombus vena kava.
Pemantauan. Surveilans pascabedah menggunakan pencitraan berkala dan evaluasi fungsi ginjal, dengan interval disesuaikan stadium patologis dan risiko rekurensi menurut model prognostik yang divalidasi (misalnya UISS atau Leibovich).
Tingkat Kompetensi: 4 — mampu melakukan nefrektomi radikal/parsial/sitoreduktif dengan komplikasi dan/atau risiko tinggi secara mandiri dan tuntas.
- Nefrektomi parsial adalah standar pada tumor T1 bila teknis memungkinkan, demi preservasi fungsi ginjal.
- Trombus tumor vena kava memerlukan perencanaan multidisiplin.
- Nefrektomi sitoreduktif hanya bermanfaat pada subkelompok pasien metastatik terseleksi.
2.4 Nefroureterektomi
Definisi. Nefroureterektomi radikal adalah pengangkatan ginjal, ureter secara utuh hingga muara ureter beserta manset jaringan vesika (bladder cuff excision), merupakan tata laksana standar karsinoma urotelial saluran kemih bagian atas (upper urinary tract urothelial carcinoma, UTUC) risiko tinggi.[4]
Epidemiologi. UTUC relatif jarang, mencakup sekitar 5–10% karsinoma urotelial, dengan kecenderungan multifokalitas dan asosiasi dengan Lynch syndrome pada sebagian kasus.[4]
Diagnostik dan Stadium. Ureteroskopi diagnostik dengan biopsi, sitologi urin selektif, dan CT urografi digunakan untuk menegakkan diagnosis dan stratifikasi risiko (risiko rendah versus tinggi) yang menentukan pilihan antara tata laksana konservasi ginjal (ureteroskopi ablatif) versus nefroureterektomi radikal.[4]
Tata Laksana. Pada UTUC risiko tinggi, nefroureterektomi radikal dengan eksisi manset vesika merupakan standar, dilakukan melalui pendekatan terbuka, laparoskopik, atau robotik, dengan prinsip menghindari manipulasi berlebihan sistem pelvikalises untuk mencegah tumor seeding. Diseksi KGB templat regional dipertimbangkan pada tumor stadium lanjut. Kemoterapi adjuvan berbasis platinum direkomendasikan pada pT2–T4 dan/atau N+ berdasarkan bukti uji klinis fase III.[4]
Komplikasi. Kebocoran anastomosis manset vesika, striktur, dan risiko rekurensi intravesikal pascabedah (dilaporkan hingga 22–47%) merupakan pertimbangan penting dalam pemantauan pascabedah.[4]
Pemantauan. Sistoskopi surveilans rutin diperlukan pascanefroureterektomi mengingat tingginya risiko rekurensi intravesikal, disertai pencitraan berkala untuk memantau rekurensi lokoregional atau metastasis.
Tingkat Kompetensi: 4 — mampu melakukan nefroureterektomi secara mandiri dan tuntas.
- Eksisi manset vesika (bladder cuff excision) adalah komponen wajib nefroureterektomi radikal.
- Stratifikasi risiko UTUC menentukan pilihan antara tata laksana konservasi ginjal dan nefroureterektomi radikal.
- Risiko rekurensi intravesikal pascabedah tinggi sehingga surveilans sistoskopi rutin wajib dilakukan.
2.5 Ureterektomi Parsial
Definisi. Ureterektomi parsial (segmental) adalah reseksi segmen ureter yang mengandung tumor dengan rekonstruksi kontinuitas saluran kemih (ureteroureterostomi, reimplantasi ureterovesikal, atau interposisi ileum), merupakan pilihan konservasi ginjal pada UTUC risiko rendah atau UTUC risiko tinggi terseleksi dengan ginjal soliter fungsional atau gangguan fungsi ginjal kontralateral.[4]
Indikasi. Tumor ureter distal risiko rendah, tumor multifokal terbatas segmen, atau situasi klinis yang mewajibkan preservasi fungsi ginjal (ginjal tunggal, insufisiensi ginjal kronik, tumor bilateral).
Teknik Operatif. Reseksi segmental dengan margin bebas tumor diikuti rekonstruksi sesuai lokasi dan panjang segmen yang direseksi: ureter distal direkonstruksi dengan reimplantasi langsung atau teknik Boari flap/psoas hitch; segmen tengah dan proksimal dapat memerlukan interposisi ileum pada defek panjang.[1,4]
Komplikasi. Striktur anastomosis, kebocoran urin, dan refluks vesikoureter merupakan komplikasi spesifik yang perlu dipantau pascarekonstruksi.
Pemantauan. Surveilans ureteroskopik dan sitologi berkala diperlukan mengingat risiko rekurensi lokal pada segmen ureter tersisa dan risiko rekurensi intravesikal.
Tingkat Kompetensi: 4 — mampu melakukan ureterektomi parsial secara mandiri dan tuntas.
- Ureterektomi parsial adalah strategi konservasi ginjal utama pada UTUC risiko rendah atau situasi klinis khusus.
- Pemilihan teknik rekonstruksi bergantung pada lokasi dan panjang segmen ureter yang direseksi.
2.6 Uretrektomi
Definisi. Uretrektomi adalah pengangkatan sebagian atau seluruh uretra pada kasus karsinoma uretra primer atau karsinoma urotelial rekuren pada uretra pascasistektomi (urethral recurrence).[1]
Indikasi. Karsinoma uretra primer stadium lanjut, keterlibatan uretra prostatika difus pada kanker buli yang menjalani sistoprostatektomi, atau rekurensi uretra pascasistektomi yang tidak responsif terhadap terapi konservasi.
Teknik Operatif. Pendekatan bedah disesuaikan lokasi tumor (uretra anterior versus posterior) dan dapat memerlukan reseksi en bloc dengan struktur sekitar (korpus kavernosum pada keterlibatan luas), disertai diseksi KGB inguinal pada tumor uretra anterior dengan risiko metastasis nodal.[1]
Komplikasi. Perdarahan, disfungsi seksual, dan kebutuhan diversi urin permanen (urostomi kutan) pada uretrektomi total merupakan konsekuensi fungsional yang harus dikomunikasikan sejak prabedah.
Pemantauan. Pemeriksaan berkala area bedah dan pencitraan sesuai stadium awal untuk deteksi rekurensi lokal atau metastasis.
Tingkat Kompetensi: 4 — mampu melakukan uretrektomi secara mandiri dan tuntas.
- Uretrektomi diindikasikan pada karsinoma uretra primer lanjut dan rekurensi uretra pascasistektomi.
- Keputusan operatif harus mempertimbangkan dampak fungsional yang signifikan terhadap kontinensia dan fungsi seksual.
BAB III — TERAPI OPERATIF KANKER GENITALIA PRIA
Bab ini membahas prosedur bedah onkologi pada keganasan prostat, testis, dan penis, sesuai Pokok Keterampilan Klinis Nomor 12–14 pada Lampiran 2 Tabel 8 Keputusan KKI No. 47/KKI/KEP/V/2023.
3.1 Prostatektomi Radikal/Sitoreduktif/Salvage
Definisi. Prostatektomi radikal adalah pengangkatan kelenjar prostat beserta vesikula seminalis dengan atau tanpa diseksi KGB panggul, merupakan salah satu modalitas kuratif utama pada kanker prostat lokal. Prostatektomi sitoreduktif dilakukan pada kanker prostat metastatik terseleksi sebagai bagian tata laksana multimodal. Prostatektomi salvage dilakukan pada rekurensi lokal pascaterapi radiasi definitif atau modalitas fokal lain.[1,6]
Epidemiologi. Kanker prostat merupakan keganasan tersering pada pria di banyak negara, dengan insidensi meningkat seiring bertambahnya usia; skrining berbasis prostate-specific antigen (PSA) dan biopsi terarah MRI meningkatkan deteksi dini.[6]
Klasifikasi dan Stratifikasi Risiko. Sistem grade group International Society of Urological Pathology (ISUP), berdasarkan skor Gleason, dikombinasikan dengan PSA dan stadium klinis (cT) membentuk stratifikasi risiko D'Amico/EAU (risiko rendah, menengah, tinggi) yang menentukan pilihan tata laksana.[6]
| Kategori Risiko | Kriteria (PSA, cT, ISUP Grade) | Peran Bedah |
|---|---|---|
| Risiko rendah | PSA<10, cT1–T2a, Grade Group 1 | Prostatektomi radikal atau surveilans aktif |
| Risiko menengah | PSA 10–20 atau cT2b–c atau Grade Group 2–3 | Prostatektomi radikal ± diseksi KGB panggul |
| Risiko tinggi | PSA>20 atau cT3 atau Grade Group 4–5 | Prostatektomi radikal + diseksi KGB panggul diperluas |
| Metastatik terseleksi | cN1/M1 volume rendah | Prostatektomi sitoreduktif (dalam konteks multimodal/uji klinis) |
Teknik Operatif. Prostatektomi radikal dapat dilakukan melalui pendekatan retropubik terbuka, laparoskopik, atau robotik-asistensi, dengan prinsip diseksi apeks prostat presisi untuk meminimalkan risiko margin positif sekaligus mempertahankan sfingter uretra eksterna. Teknik nerve-sparing dipertimbangkan pada pasien risiko rendah-menengah dengan fungsi ereksi prabedah baik dan tanpa kecurigaan ekstensi ekstrakapsular pada sisi terkait. Diseksi KGB panggul diperluas (obturator, iliaka eksterna dan interna, fossa Marcille) direkomendasikan pada risiko menengah-tinggi untuk staging akurat.[6]
Prostatektomi Salvage. Dilakukan pada rekurensi lokal terbukti biopsi pascaradioterapi definitif tanpa bukti metastasis jauh, dengan risiko komplikasi lebih tinggi (inkontinensia, cedera rektum) akibat perubahan jaringan pascaradiasi, sehingga memerlukan keahlian bedah tingkat lanjut.[1,6]
Komplikasi. Inkontinensia urin, disfungsi ereksi, striktur anastomosis vesikouretral, dan cedera rektum (jarang) merupakan komplikasi utama yang harus dikomunikasikan sejak prabedah, dengan angka lebih tinggi pada prostatektomi salvage.
Pemantauan. PSA pascabedah dipantau berkala (target tak terdeteksi); PSA persisten atau meningkat mengindikasikan penyakit residual/rekuren dan memerlukan evaluasi lanjut untuk terapi salvage (radioterapi adjuvan/salvage, terapi hormonal).[6,12]
Tingkat Kompetensi: 4 — mampu melakukan prostatektomi radikal/sitoreduktif/salvage secara mandiri dan tuntas.
- Stratifikasi risiko D'Amico/EAU menentukan indikasi dan luas diseksi KGB pada prostatektomi radikal.
- Teknik nerve-sparing mempertimbangkan keseimbangan kontrol onkologis dan preservasi fungsi seksual.
- PSA pascabedah adalah penanda utama pemantauan keberhasilan terapi dan deteksi rekurensi.
3.2 Orchidectomy (Subcapsular dan Radikal/Inguinal) dengan Komplikasi dan/atau Risiko Tinggi
Definisi. Orkidektomi radikal (inguinal) adalah pengangkatan testis beserta funikulus spermatikus hingga anulus inguinalis interna melalui insisi inguinal, merupakan tata laksana diagnostik sekaligus terapeutik standar pada tumor testis yang dicurigai ganas. Orkidektomi subkapsular merupakan prosedur paliatif/hormonal (pengangkatan jaringan parenkim testis dengan preservasi tunika albuginea) pada tata laksana kanker prostat metastatik sebagai alternatif kastrasi medikamentosa.[1,7]
Epidemiologi. Kanker testis merupakan keganasan padat tersering pada pria usia 15–35 tahun, dengan faktor risiko utama kriptorkismus, riwayat keluarga, dan germ cell neoplasia in situ.[7]
Klasifikasi Histologis. Tumor sel germinal dibagi menjadi seminoma dan non-seminoma (karsinoma embrional, tumor yolk sac, koriokarsinoma, teratoma), dengan implikasi prognostik dan terapeutik berbeda; penanda tumor serum (AFP, beta-hCG, LDH) esensial untuk diagnosis, staging, dan pemantauan.[7]
Diagnostik dan Stadium. USG skrotum merupakan modalitas awal karakterisasi massa testis; orkidektomi radikal inguinal wajib dilakukan sebelum terapi definitif lain (biopsi transskrotal dikontraindikasikan karena risiko diseminasi limfatik inguinal dan skrotal). Staging menggunakan sistem TNM disertai kategori S (penanda tumor serum) khusus untuk tumor testis.[7,9]
Tata Laksana. Pendekatan inguinal dengan kontrol dini funikulus spermatikus pada anulus interna sebelum manipulasi testis merupakan prinsip onkologis wajib untuk mencegah diseminasi limfatik menyimpang. Pada tumor risiko tinggi metastasis jauh, orkidektomi tetap dilakukan diikuti kemoterapi sistemik berbasis platinum sesuai stratifikasi risiko International Germ Cell Cancer Collaborative Group (IGCCCG). Orkidektomi subkapsular pada kanker prostat metastatik memberikan kastrasi cepat dan permanen sebagai alternatif agonis/antagonis LHRH.[7,13,17]
Komplikasi. Hematoma skrotal/inguinal, infeksi luka, dan dampak psikologis kehilangan organ (pertimbangkan protesis testis) merupakan hal yang perlu diantisipasi dan dikomunikasikan.
Pemantauan. Penanda tumor serum dan pencitraan berkala (CT abdomen-pelvis, radiografi/CT toraks) digunakan untuk surveilans pascaorkidektomi sesuai stratifikasi risiko histologis dan stadium.[7]
Tingkat Kompetensi: 4 — mampu melakukan orkidektomi subkapsular dan radikal/inguinal dengan komplikasi dan/atau risiko tinggi secara mandiri dan tuntas.
- Kontrol dini funikulus spermatikus pada anulus inguinalis interna adalah prinsip wajib orkidektomi radikal.
- Biopsi transskrotal dikontraindikasikan pada kecurigaan tumor testis ganas.
- Penanda tumor serum (AFP, beta-hCG, LDH) esensial untuk diagnosis, staging, dan surveilans.
3.3 Penektomi Total/Parsial/Penile Preserving Surgery dengan Komplikasi dan/atau Risiko Tinggi
Definisi. Penektomi parsial adalah amputasi sebagian batang penis dengan mempertahankan panjang batang yang cukup untuk fungsi miksi berdiri; penektomi total mencakup pengangkatan seluruh batang penis dengan pembuatan uretrostomi perineal. Penile preserving surgery (eksisi luas lokal, glansektomi, Mohs surgery, laser, atau circumcision terapeutik) merupakan pendekatan konservasi organ pada tumor terbatas.[1,8]
Epidemiologi dan Faktor Risiko. Kanker penis relatif jarang di negara maju namun insidensinya lebih tinggi di sejumlah wilayah berkembang; faktor risiko meliputi infeksi human papillomavirus (HPV), fimosis kronik, balanitis kronik, dan status sirkumsisi.[8]
Klasifikasi Histologis. Karsinoma sel skuamosa merupakan tipe histologis tersering (>95%), dengan berbagai subtipe (klasik, basaloid, verukosa, sarkomatoid) yang memengaruhi risiko metastasis nodal.[8]
Diagnostik dan Stadium. Biopsi lesi primer untuk konfirmasi histologis dan penilaian kedalaman invasi, disertai pencitraan (USG/MRI penis) untuk menilai invasi korpus kavernosum, serta penilaian status KGB inguinal (klinis dan radiologis) yang menentukan kebutuhan diseksi KGB (dibahas pada Bab V).[8,14]
| Stadium Tumor Primer (ringkas) | Deskripsi | Pilihan Bedah |
|---|---|---|
| Tis/Ta, T1a | Terbatas epitel/lamina propria, tanpa invasi limfovaskular | Penile preserving surgery (eksisi lokal, glansektomi, laser) |
| T1b–T2 | Invasi korpus spongiosum/kavernosum terbatas | Penektomi parsial atau preserving surgery terseleksi dengan margin adekuat |
| T3 | Invasi uretra/prostat | Penektomi total dengan uretrostomi perineal |
Tata Laksana. Pemilihan antara penektomi dan penile preserving surgery mempertimbangkan ukuran, kedalaman invasi, dan lokasi tumor, dengan prinsip margin bedah yang saat ini direkomendasikan lebih konservatif (beberapa milimeter jaringan sehat) dibanding rekomendasi historis, tanpa mengorbankan kontrol onkologis, guna memaksimalkan preservasi fungsi seksual dan urinasi.[8]
Komplikasi. Striktur meatus/uretrostomi, dampak psikoseksual signifikan, dan risiko rekurensi lokal memerlukan pemantauan ketat serta dukungan psikososial pascabedah.
Pemantauan. Surveilans lokal (inspeksi/palpasi area bedah) dan regional (KGB inguinal) dilakukan berkala mengingat risiko rekurensi lokal dan progresi nodal, terutama pada 2 tahun pertama pascabedah.[8]
Tingkat Kompetensi: 4 — mampu melakukan penektomi total/parsial/penile preserving surgery dengan komplikasi dan/atau risiko tinggi secara mandiri dan tuntas.
- Prinsip margin bedah kontemporer pada kanker penis lebih konservatif untuk memaksimalkan preservasi organ tanpa mengorbankan kontrol onkologis.
- Pemilihan teknik bedah harus mempertimbangkan dampak fungsional dan psikoseksual secara menyeluruh.
- Status KGB inguinal adalah faktor prognostik terpenting pada kanker penis.
BAB IV — TERAPI OPERATIF KANKER ADRENAL DAN RETROPERITONEAL
Bab ini membahas prosedur bedah pada tumor adrenal dan tumor retroperitoneal primer non-adrenal, sesuai Pokok Keterampilan Klinis Nomor 16 dan 22 pada Lampiran 2 Tabel 8 Keputusan KKI No. 47/KKI/KEP/V/2023.
4.1 Adrenalektomi
Definisi. Adrenalektomi adalah pengangkatan kelenjar adrenal, dilakukan pada tumor adrenal primer ganas (karsinoma adrenokortikal), tumor fungsional dengan kecurigaan keganasan, metastasis adrenal soliter, atau sebagai bagian nefrektomi radikal pada tumor ginjal besar dengan kecurigaan invasi adrenal langsung.[1]
Epidemiologi. Karsinoma adrenokortikal merupakan keganasan langka dengan prognosis umumnya buruk pada stadium lanjut; sebagian besar massa adrenal yang ditemukan insidental (adrenal incidentaloma) bersifat jinak, sehingga evaluasi fungsional dan radiologis cermat diperlukan sebelum keputusan operatif.[1]
Diagnostik. Evaluasi meliputi penilaian fungsi hormonal (kortisol, aldosteron, katekolamin/metanefrin, androgen adrenal) dan karakterisasi radiologis (CT/MRI dengan protokol adrenal, ukuran, densitas, washout kontras) untuk menilai kecurigaan keganasan; biopsi perkutan umumnya dihindari kecuali untuk konfirmasi metastasis pada kasus terseleksi karena risiko diseminasi tumor sepanjang jalur jarum.
Tata Laksana. Adrenalektomi terbuka direkomendasikan pada kecurigaan karsinoma adrenokortikal atau tumor besar (umumnya >6 cm) dengan tanda invasi lokal, untuk memastikan reseksi en bloc tanpa ruptur kapsul tumor. Adrenalektomi laparoskopik dapat dipertimbangkan pada tumor lebih kecil tanpa tanda invasi lokal oleh operator berpengalaman. Persiapan prabedah khusus (blokade alfa-adrenergik) wajib pada feokromositoma untuk mencegah krisis hipertensi intraoperatif.[1]
Komplikasi. Krisis hipertensi intraoperatif (feokromositoma tanpa persiapan adekuat), insufisiensi adrenal pascabedah (pada adrenalektomi bilateral atau penekanan aksis hipotalamus-hipofisis-adrenal), dan cedera organ berdekatan (limpa, pankreas, hati, vena kava/vena renalis) merupakan risiko utama.
Pemantauan. Evaluasi fungsi hormonal pascabedah dan pencitraan surveilans sesuai histologi tumor; pada karsinoma adrenokortikal, surveilans ketat diperlukan mengingat risiko rekurensi tinggi.
Tingkat Kompetensi: 4 — mampu melakukan adrenalektomi secara mandiri dan tuntas.
- Kecurigaan karsinoma adrenokortikal atau tumor besar dengan tanda invasi lokal merupakan indikasi adrenalektomi terbuka dengan prinsip en bloc, tanpa ruptur kapsul.
- Persiapan blokade alfa-adrenergik prabedah wajib pada feokromositoma.
- Biopsi perkutan adrenal umumnya dihindari kecuali indikasi khusus karena risiko diseminasi tumor.
4.2 Eksisi Tumor Retroperitoneal
Definisi. Eksisi tumor retroperitoneal adalah reseksi tumor primer retroperitoneal non-adrenal (umumnya sarkoma retroperitoneal) atau massa residual pascakemoterapi pada tumor sel germinal nonseminoma (retroperitoneal lymph node dissection/RPLND paska-kemoterapi), yang sering memerlukan reseksi multivisera dan pendekatan multidisiplin.[1,7]
Epidemiologi. Sarkoma retroperitoneal merupakan tumor langka dengan liposarkoma dan leiomiosarkoma sebagai subtipe tersering; massa residual retroperitoneal pascakemoterapi pada tumor sel germinal nonseminoma metastatik memerlukan reseksi bedah pada residu >1 cm untuk mengevaluasi kemungkinan teratoma matur atau tumor viabel residual.[7]
Diagnostik. CT/MRI abdomen-pelvis kontras untuk pemetaan anatomis dan hubungan tumor dengan struktur vaskular mayor dan organ berdekatan; biopsi jarum inti (core needle biopsy) direkomendasikan untuk konfirmasi histologis prabedah pada kecurigaan sarkoma guna perencanaan operatif dan multimodal yang tepat.
Tata Laksana. Reseksi en bloc dengan margin bebas tumor, termasuk reseksi struktur berdekatan yang terlibat (ginjal, kolon, otot psoas, struktur vaskular) bila diperlukan untuk mencapai reseksi komplit (R0), merupakan prinsip utama tata laksana sarkoma retroperitoneal, idealnya dilakukan di pusat rujukan berpengalaman dengan tim bedah multidisiplin (urologi, bedah onkologi, bedah vaskular). Pada RPLND pascakemoterapi, diseksi templat bilateral atau modified template dilakukan sesuai lokasi tumor primer dan luas residu, dengan perhatian khusus pada preservasi saraf simpatis untuk mempertahankan ejakulasi antegrad bila memungkinkan.[1,7]
Komplikasi. Perdarahan masif akibat kedekatan struktur vaskular mayor (aorta, vena kava), cedera organ multivisera, kiluria/asites kilosa akibat cedera duktus limfatik, dan disfungsi ejakulasi pascaRPLND merupakan risiko yang signifikan.
Pemantauan. Surveilans pencitraan berkala jangka panjang diperlukan mengingat risiko rekurensi lokal tinggi pada sarkoma retroperitoneal; pada RPLND pascakemoterapi, pemantauan penanda tumor dan pencitraan sesuai protokol tumor sel germinal.
Tingkat Kompetensi: 4 — mampu melakukan eksisi tumor retroperitoneal secara mandiri dan tuntas.
- Reseksi en bloc R0, termasuk reseksi struktur berdekatan bila diperlukan, adalah prinsip utama tata laksana sarkoma retroperitoneal.
- RPLND pascakemoterapi diindikasikan pada massa residual >1 cm pada tumor sel germinal nonseminoma.
- Tata laksana idealnya dilakukan di pusat rujukan dengan tim bedah multidisiplin.
BAB V — DISEKSI KELENJAR GETAH BENING PADA KANKER UROLOGI ONKOLOGI
Bab ini membahas prinsip dan teknik diseksi kelenjar getah bening (KGB) regional pada kanker saluran kemih dan genitalia pria, sesuai Pokok Keterampilan Klinis Nomor 20 pada Lampiran 2 Tabel 8 Keputusan KKI No. 47/KKI/KEP/V/2023. Status KGB regional merupakan faktor prognostik terpenting pada hampir seluruh keganasan urologi, dan diseksi KGB memiliki peran ganda sebagai prosedur staging sekaligus terapeutik.
Definisi. Diseksi KGB (lymph node dissection, LND) adalah pengangkatan kelenjar getah bening regional beserta jaringan lemak dan limfatik di sekitarnya sesuai templat anatomis spesifik organ primer, dilakukan bersamaan dengan reseksi tumor primer pada sebagian besar kasus.[1]
Prinsip Umum. Luas templat diseksi (standar versus diperluas) ditentukan oleh lokasi tumor primer, stadium klinis, dan tujuan (staging pada risiko rendah versus terapeutik pada risiko tinggi). Diseksi templat yang lebih luas umumnya meningkatkan akurasi staging dan berpotensi memberikan manfaat kesintasan pada subkelompok pasien tertentu, namun juga meningkatkan risiko komplikasi limfatik (limfokel, limfedema).[1,3,6]
| Organ Primer | Templat Diseksi KGB | Indikasi Utama |
|---|---|---|
| Kanker Buli (Sistektomi Radikal) | Obturator, iliaka eksterna/interna ± perluasan hingga arteri mesenterika inferior | Seluruh MIBC dan NMIBC risiko sangat tinggi yang menjalani sistektomi |
| Kanker Prostat | Obturator, iliaka eksterna/interna, fossa Marcille (diseksi diperluas) | Risiko menengah–tinggi berdasarkan nomogram prabedah |
| Kanker Testis (RPLND) | Templat retroperitoneal (interaortokaval, para-aortik, parakaval sesuai sisi) | Nonseminoma stadium klinis I risiko tinggi atau massa residual pascakemoterapi |
| Kanker Penis | Inguinal superfisial ± profunda, dilanjutkan pelvis bila KGB inguinal positif | cN0 risiko tinggi (dinamik/sentinel) atau cN+ (terapeutik) |
| Kanker Ginjal (RCC) | Hilar ± templat regional diperluas | Kecurigaan klinis/radiologis keterlibatan KGB (bukan rutin pada cN0) |
Teknik Operatif. Diseksi KGB dilakukan dengan identifikasi batas anatomis templat (pembuluh darah besar, saraf, otot sebagai penanda), ligasi cermat pembuluh limfatik untuk meminimalkan kebocoran limfe, dan pengangkatan jaringan en bloc untuk pemeriksaan patologis akurat (termasuk penghitungan jumlah KGB dan rasio KGB positif). Pada kanker penis, teknik dynamic sentinel node biopsy dapat digunakan pada kasus cN0 risiko tinggi terseleksi sebelum memutuskan diseksi templat lengkap.[8]
Komplikasi. Limfokel, limfedema tungkai (terutama pasca-diseksi inguinal), infeksi luka, cedera saraf (obturator, genitofemoral, femoralis), dan tromboemboli vena merupakan komplikasi yang perlu diantisipasi dan dikelola secara aktif, termasuk penggunaan drain penutup dan mobilisasi dini.
Pemantauan. Hasil patologi KGB (jumlah KGB terangkat, jumlah KGB positif, ekstensi ekstranodal) digunakan untuk menentukan kebutuhan terapi adjuvan (kemoterapi, radioterapi) dan menyusun rencana surveilans pascabedah.
Tingkat Kompetensi: 4 — mampu melakukan diseksi KGB pada tumor saluran kemih dan genitalia pria secara mandiri dan tuntas.
- Status dan luas keterlibatan KGB adalah faktor prognostik terpenting pada hampir seluruh kanker urologi.
- Templat diseksi ditentukan oleh organ primer, stadium, dan tujuan staging versus terapeutik.
- Manajemen komplikasi limfatik pascabedah (limfokel, limfedema) memerlukan kewaspadaan dan tata laksana aktif.
BAB VI — DIVERSI URIN
Bab ini membahas prinsip dan teknik diversi urin pascasistektomi radikal atau prosedur lain yang memerlukan pengalihan aliran urin permanen, mencakup diversi urin kontinen dan inkontinen, sesuai Pokok Keterampilan Klinis Nomor 21 pada Lampiran 2 Tabel 8 Keputusan KKI No. 47/KKI/KEP/V/2023.
Prinsip Pemilihan Jenis Diversi. Pemilihan jenis diversi urin mempertimbangkan fungsi ginjal (klirens kreatinin adekuat, umumnya >35–50 mL/menit, untuk diversi kontinen berbasis usus), fungsi hepar, status kognitif dan manual dexterity pasien (untuk kateterisasi mandiri pada kantong kontinen), riwayat radiasi/pembedahan abdomen sebelumnya, panjang mesenterium usus yang tersedia, harapan hidup, serta preferensi pasien setelah konseling komprehensif mengenai konsekuensi fungsional masing-masing pilihan.[1,3]
6.1 Diversi Urin Kontinen
Definisi. Diversi urin kontinen adalah rekonstruksi saluran kemih menggunakan segmen usus (umumnya ileum atau kolon) yang memungkinkan penyimpanan urin tanpa kebutuhan kantong stoma eksternal permanen, terdiri atas dua kategori utama: neobladder ortotopik (disambungkan ke uretra, memungkinkan miksi per uretra) dan kantong kateterisasi kontinen kutan (continent cutaneous reservoir, disambungkan ke dinding abdomen dengan mekanisme katup kontinen, memerlukan kateterisasi intermiten mandiri).[1,3]
Indikasi dan Kontraindikasi. Neobladder ortotopik memerlukan margin uretra bebas tumor (terutama uretra prostatika pada pria), fungsi sfingter uretra eksterna yang adekuat, dan fungsi ginjal serta kognitif yang baik untuk pembelajaran teknik berkemih dengan mekanisme Valsava/relaksasi dasar panggul. Kontraindikasi meliputi keterlibatan tumor pada margin uretra, insufisiensi ginjal berat, penyakit inflamasi usus, dan keterbatasan kognitif/fisik yang menghambat kepatuhan perawatan.
| Jenis Diversi Kontinen | Segmen Usus | Karakteristik Fungsional |
|---|---|---|
| Neobladder ortotopik (mis. teknik Studer/Hautmann) | Ileum terminal (umumnya 40–60 cm), dikonfigurasi ulang berbentuk bola/W untuk menurunkan tekanan reservoir | Miksi per uretra dengan mekanisme Valsava; risiko inkontinensia nokturnal lebih tinggi dibanding siang hari |
| Kantong kateterisasi kontinen kutan (mis. teknik Indiana/Mitrofanoff) | Sekum-kolon asenden atau ileum dengan katup kontinen (apendiks/ileum intususepsi) | Memerlukan kateterisasi intermiten mandiri melalui stoma kutan setiap 4–6 jam |
Teknik Operatif. Prinsip umum mencakup detubularisasi segmen usus untuk membentuk reservoir bertekanan rendah dan berkapasitas adekuat, anastomosis ureteroileal (teknik Bricker atau Wallace) yang meminimalkan risiko striktur dan refluks, serta pada neobladder ortotopik, anastomosis reservoir-uretra yang presisi untuk memaksimalkan kontinensia. Pembelajaran teknik berkemih pascaoperasi (latihan dasar panggul, jadwal berkemih terjadwal) merupakan bagian penting keberhasilan fungsional neobladder.[1,3]
Komplikasi. Komplikasi awal meliputi kebocoran anastomosis, ileus prolonged, dan infeksi; komplikasi lanjut meliputi asidosis metabolik hiperkloremik akibat reabsorpsi usus, defisiensi vitamin B12 (pada penggunaan segmen ileum panjang), litiasis reservoir, striktur ureteroileal, inkontinensia (terutama nokturnal pada neobladder), dan retensi urin memerlukan kateterisasi intermiten pada sebagian kasus neobladder.
Pemantauan. Evaluasi fungsi ginjal, status asam-basa, kadar vitamin B12, dan pencitraan saluran kemih atas berkala untuk deteksi dini hidronefrosis akibat striktur ureteroileal; pada kantong kateterisasi kutan, edukasi kepatuhan jadwal kateterisasi esensial untuk mencegah komplikasi metabolik dan infeksi berulang.[1]
Tingkat Kompetensi: 4 — mampu melakukan diversi urin kontinen secara mandiri dan tuntas.
- Neobladder ortotopik memerlukan margin uretra bebas tumor dan fungsi sfingter yang adekuat.
- Detubularisasi segmen usus adalah prinsip kunci membentuk reservoir bertekanan rendah.
- Asidosis metabolik hiperkloremik dan defisiensi vitamin B12 adalah komplikasi metabolik jangka panjang yang khas pada diversi berbasis usus.
6.2 Diversi Urin Inkontinen
Definisi. Diversi urin inkontinen adalah pengalihan aliran urin ke permukaan kulit melalui stoma yang memerlukan kantong penampung eksternal permanen (urostomy bag), dengan konduit ileum (ileal conduit, teknik Bricker) sebagai bentuk tersering dan paling banyak dipilih secara global karena teknik relatif lebih sederhana dan angka komplikasi lebih rendah dibanding diversi kontinen.[1,3]
Indikasi. Diversi inkontinen diindikasikan pada pasien dengan fungsi ginjal borderline, usia lanjut atau komorbiditas signifikan, keterbatasan kognitif/manual dexterity, keterlibatan tumor pada uretra, harapan hidup terbatas pada penyakit lanjut, atau preferensi pasien setelah konseling mengenai kelebihan kesederhanaan perawatan dibanding diversi kontinen.[3]
Teknik Operatif. Konduit ileum dibentuk dari segmen ileum terminal (umumnya 15–20 cm) yang diisolasi dengan kontinuitas mesenterium terjaga, dengan anastomosis ureteroileal pada ujung proksimal (teknik Bricker/Wallace) dan pembuatan stoma pada ujung distal melalui dinding abdomen kuadran kanan bawah, dirancang menonjol (rosebud) untuk memudahkan pemasangan kantong stoma dan meminimalkan kebocoran urin ke kulit peristomal. Konduit kolon (jejunum jarang digunakan) merupakan alternatif pada kondisi tertentu (riwayat radiasi pelvis luas yang membatasi penggunaan ileum).[1,3]
| Aspek | Konduit Ileum | Neobladder Ortotopik (pembanding) |
|---|---|---|
| Kompleksitas teknik | Relatif sederhana | Lebih kompleks, waktu operasi lebih lama |
| Kebutuhan perawatan | Kantong stoma eksternal permanen | Tidak memerlukan kantong; sebagian memerlukan kateterisasi intermiten |
| Risiko komplikasi metabolik | Lebih rendah (segmen usus lebih pendek) | Lebih tinggi (segmen usus lebih panjang) |
| Kesesuaian pasien | Usia lanjut, komorbiditas, fungsi kognitif terbatas | Pasien muda, fungsi ginjal/kognitif baik, motivasi tinggi |
Komplikasi. Komplikasi stoma (stenosis, retraksi, prolaps, hernia parastomal, iritasi kulit peristomal), striktur ureteroileal, infeksi saluran kemih berulang, dan gangguan elektrolit (asidosis metabolik hiperkloremik, meski lebih ringan dibanding diversi kontinen akibat segmen usus lebih pendek dan waktu kontak urin-mukosa lebih singkat) merupakan komplikasi yang perlu dipantau jangka panjang.
Pemantauan. Perawatan stoma oleh perawat terlatih (enterostomal therapist), evaluasi fungsi ginjal berkala, dan pencitraan saluran kemih atas untuk deteksi hidronefrosis/striktur merupakan komponen penting surveilans jangka panjang pascadiversi inkontinen.[1]
Tingkat Kompetensi: 4 — mampu melakukan diversi urin inkontinen secara mandiri dan tuntas.
- Konduit ileum adalah bentuk diversi urin inkontinen tersering dengan teknik relatif lebih sederhana dan komplikasi lebih rendah dibanding diversi kontinen.
- Pembuatan stoma yang menonjol (rosebud) penting untuk memudahkan perawatan dan mencegah kebocoran peristomal.
- Pemilihan jenis diversi harus individual berdasarkan fungsi organ, kondisi kognitif/fisik, dan preferensi pasien.
DAFTAR REFERENSI
Seluruh referensi di bawah ini telah ditelusuri dan diverifikasi keberadaannya (termasuk URL, apabila dicantumkan) pada bulan Juli 2026. Beberapa dokumen NCCN memerlukan registrasi akun gratis di situs NCCN.org untuk akses penuh.
- Partin AW, Dmochowski RR, Kavoussi LR, Peters CA, Wein AJ, editors. Campbell-Walsh-Wein Urology. 12th ed. Philadelphia: Elsevier; 2020.
- Gontero P, Birtle A, Compérat EM, et al. EAU Guidelines on Non-muscle-invasive Bladder Cancer (Ta, T1, and Carcinoma in Situ). Arnhem: EAU Guidelines Office; 2026. Tersedia pada: https://uroweb.org/guidelines/non-muscle-invasive-bladder-cancer
- van der Heijden AG, Witjes JA, Bruins HM, et al. EAU Guidelines on Muscle-invasive and Metastatic Bladder Cancer. Arnhem: EAU Guidelines Office; 2026. Tersedia pada: https://uroweb.org/guidelines/muscle-invasive-and-metastatic-bladder-cancer
- Masson-Lecomte A, Birtle A, Pradere B, et al. EAU Guidelines on Upper Urinary Tract Urothelial Carcinoma. Arnhem: EAU Guidelines Office; 2026. Tersedia pada: https://uroweb.org/guidelines/upper-urinary-tract-urothelial-cell-carcinoma
- Ljungberg B, Albiges L, Bedke J, et al. EAU Guidelines on Renal Cell Carcinoma. Arnhem: EAU Guidelines Office; 2026. Tersedia pada: https://uroweb.org/guidelines/renal-cell-carcinoma
- Cornford P, Tilki D, van den Bergh RCN, et al. EAU-EANM-ESTRO-ESUR-ISUP-SIOG Guidelines on Prostate Cancer. Arnhem: EAU Guidelines Office; 2026. Tersedia pada: https://uroweb.org/guidelines/prostate-cancer
- Heidenreich A, Berney DM, Boormans JL, et al. EAU Guidelines on Testicular Cancer. Arnhem: EAU Guidelines Office; 2026. Tersedia pada: https://uroweb.org/guidelines/testicular-cancer
- Brouwer OR, Tagawa ST, Albersen M, et al. EAU-ASCO Guidelines on Penile Cancer. Arnhem: EAU Guidelines Office; 2026. Tersedia pada: https://uroweb.org/guidelines/penile-cancer
- Amin MB, Edge SB, Greene FL, et al., editors. AJCC Cancer Staging Manual. 8th ed. New York: Springer; 2017. (Edisi ke-8 tetap menjadi acuan aktif untuk keganasan urologi hingga digantikan oleh protokol AJCC Version 9 spesifik-organ yang bersangkutan.)
- National Comprehensive Cancer Network. NCCN Clinical Practice Guidelines in Oncology: Bladder Cancer. (memerlukan registrasi akun gratis di NCCN.org) Tersedia pada: https://www.nccn.org/professionals/physician_gls/pdf/bladder.pdf
- National Comprehensive Cancer Network. NCCN Clinical Practice Guidelines in Oncology: Kidney Cancer. (memerlukan registrasi akun gratis di NCCN.org) Tersedia pada: https://www.nccn.org/professionals/physician_gls/pdf/kidney.pdf
- National Comprehensive Cancer Network. NCCN Clinical Practice Guidelines in Oncology: Prostate Cancer. (memerlukan registrasi akun gratis di NCCN.org) Tersedia pada: https://www.nccn.org/professionals/physician_gls/pdf/prostate.pdf
- National Comprehensive Cancer Network. NCCN Clinical Practice Guidelines in Oncology: Testicular Cancer. (memerlukan registrasi akun gratis di NCCN.org) Tersedia pada: https://www.nccn.org/professionals/physician_gls/pdf/testicular.pdf
- National Comprehensive Cancer Network. NCCN Clinical Practice Guidelines in Oncology: Penile Cancer. (memerlukan registrasi akun gratis di NCCN.org) Tersedia pada: https://www.nccn.org/professionals/physician_gls/pdf/penile.pdf
- Konsil Kedokteran Indonesia. Keputusan Konsil Kedokteran Indonesia Nomor 47/KKI/KEP/V/2023 tentang Standar Pendidikan Profesi Dokter Spesialis Urologi Subspesialis Urologi Onkologi. Jakarta: KKI; 2023.
- Campbell SC, Clark PE, Chang SS, Karam JA, Souter L, Uzzo RG. Renal Mass and Localized Renal Cancer: Evaluation, Management, and Follow-Up: AUA Guideline. J Urol. 2021;206(2):199–208. Tersedia pada: https://www.auanet.org/guidelines/guidelines/renal-mass-and-localized-renal-cancer-evaluation-management-and-follow-up
- Stephenson A, Bass EB, Bixler BR, et al. Diagnosis and Treatment of Early-Stage Testicular Cancer: AUA Guideline (Amended 2023). J Urol. 2023. Tersedia pada: https://www.auanet.org/guidelines-and-quality/guidelines/testicular-cancer-guideline
GLOSARIUM
- Adrenalektomi
- Prosedur bedah pengangkatan kelenjar adrenal, baik sebagian maupun seluruhnya.
- BCG (Bacillus Calmette-Guérin)
- Vaksin hidup dilemahkan yang digunakan sebagai terapi intravesikal imunoterapeutik pada kanker buli non-invasif otot risiko tinggi.
- Diversi Urin
- Prosedur rekonstruksi bedah untuk mengalihkan aliran urin dari saluran kemih normal, umumnya pascasistektomi atau kelainan lain.
- En bloc resection
- Prinsip reseksi tumor secara utuh dalam satu kesatuan jaringan tanpa fragmentasi, untuk mencegah tumor seeding dan memastikan margin bedah akurat.
- Feokromositoma
- Tumor sel kromafin medula adrenal yang menghasilkan katekolamin berlebih, dapat menyebabkan krisis hipertensi bila tidak dipersiapkan sebelum bedah.
- Grade Group (ISUP)
- Sistem klasifikasi derajat histologis kanker prostat berdasarkan skor Gleason menurut International Society of Urological Pathology.
- Ileal conduit
- Bentuk diversi urin inkontinen menggunakan segmen ileum terminal sebagai saluran penghubung ureter ke stoma kutan.
- Karsinoma in situ (KIS)
- Lesi urotelial datar derajat tinggi non-invasif namun berisiko tinggi progresi menjadi kanker invasif.
- Karsinoma urotelial
- Tipe histologis keganasan tersering pada saluran kemih, berasal dari epitel urotelium.
- Konduit
- Saluran buatan yang dibentuk dari segmen usus untuk mengalirkan urin ke permukaan tubuh.
- Limfadenektomi
- Sinonim diseksi kelenjar getah bening; pengangkatan kelenjar getah bening regional.
- Limfokel
- Kumpulan cairan limfe pascaoperasi akibat kebocoran pembuluh limfatik yang tidak terligasi sempurna.
- Margin bedah
- Tepi jaringan sehat di sekitar tumor yang direseksi untuk memastikan tidak ada sel tumor tersisa.
- Nefroureterektomi
- Pengangkatan ginjal dan ureter secara utuh beserta manset jaringan vesika, standar tata laksana UTUC risiko tinggi.
- Neobladder ortotopik
- Reservoir urin kontinen yang dibentuk dari segmen usus dan disambungkan langsung ke uretra untuk memungkinkan miksi alami.
- Nephron-sparing surgery
- Istilah lain untuk nefrektomi parsial, bertujuan mempertahankan jaringan ginjal sehat semaksimal mungkin.
- Orkidektomi radikal (inguinal)
- Pengangkatan testis beserta funikulus spermatikus melalui insisi inguinal dengan kontrol dini pembuluh darah.
- Prostatektomi radikal
- Pengangkatan kelenjar prostat beserta vesikula seminalis sebagai tata laksana kuratif kanker prostat lokal.
- PSA (Prostate-Specific Antigen)
- Penanda tumor serum yang digunakan untuk skrining, diagnosis, dan pemantauan kanker prostat.
- RPLND (Retroperitoneal Lymph Node Dissection)
- Diseksi kelenjar getah bening retroperitoneal, digunakan pada tata laksana tumor sel germinal testis.
- Sistektomi radikal
- Pengangkatan buli beserta organ terkait (prostat/vesikula seminalis pada pria, uterus/adneksa pada wanita bila relevan) disertai diseksi KGB panggul.
- Sistoskopi
- Prosedur endoskopik untuk memeriksa bagian dalam uretra dan buli menggunakan instrumen optik.
- Stadium TNM
- Sistem klasifikasi stadium kanker berdasarkan ukuran/perluasan tumor primer (T), keterlibatan kelenjar getah bening (N), dan metastasis jauh (M).
- Templat diseksi
- Batas anatomis area diseksi kelenjar getah bening yang ditentukan berdasarkan lokasi tumor primer dan tujuan prosedur.
- TURBT (Transurethral Resection of Bladder Tumor)
- Prosedur endoskopik reseksi tumor buli melalui uretra, digunakan untuk diagnosis dan tata laksana kanker buli non-invasif otot.
- Tumor seeding
- Penyebaran sel tumor secara tidak sengaja ke jaringan sekitar akibat manipulasi bedah yang tidak sesuai prinsip onkologis.
- Ureterektomi parsial
- Reseksi segmen ureter yang mengandung tumor dengan rekonstruksi kontinuitas saluran kemih, sebagai strategi konservasi ginjal.
- Uretrektomi
- Pengangkatan sebagian atau seluruh uretra pada kasus karsinoma uretra primer atau rekurensi uretra.
TENTANG BUKU INI
Buku ini merupakan Buku 6 dari 9 buku dalam Seri Pendidikan Dokter Spesialis Urologi Subspesialis Urologi Onkologi, yang secara khusus membahas terapi operatif lanjut dan diversi urin pada kanker urologi onkologi. Pembaca yang ingin mendalami aspek diagnosis awal dan tata laksana non-operatif (terapi intravesikal, terapi sistemik, radioterapi) pada keganasan yang sama disarankan merujuk pada buku-buku lain dalam seri ini yang membahas terapi non-operatif dan prosedur diagnostik urologi onkologi, sedangkan aspek manajemen perioperatif dan penanganan komplikasi pascabedah lanjutan dibahas lebih rinci pada buku seri yang membahas manajemen pre- dan pascaoperatif kanker urologi onkologi. Seluruh buku dalam seri ini disusun dengan format dan kaidah ilmiah yang konsisten sesuai Keputusan Konsil Kedokteran Indonesia Nomor 47/KKI/KEP/V/2023, guna mendukung pencapaian kompetensi peserta didik Program Pendidikan Dokter Subspesialis Urologi Onkologi secara komprehensif dan terstruktur.