Seri Pendidikan Dokter Spesialis Urologi Β· Subspesialis Urologi Onkologi

KEGANASAN GENITALIA PRIA

Testis, Paratestikular, Penis, dan Prostat

Buku 3 dari 9 Edisi 2026
Penanggung Jawab Proyek
dr. Aldilla Wahyu Ramadian, Sp.U.

Kata Pengantar

Buku ini disusun sebagai bagian dari Seri Pendidikan Dokter Spesialis Urologi Subspesialis Urologi Onkologi, yang mengacu pada Keputusan Konsil Kedokteran Indonesia (KKI) Nomor 47/KKI/KEP/V/2023 tentang Standar Pendidikan Profesi Dokter Spesialis Urologi Subspesialis Urologi Onkologi. Buku ketiga dalam seri ini secara khusus membahas keganasan pada genitalia pria, yaitu kanker testis, tumor paratestikular, kanker penis, dan kanker prostat, sebagai salah satu kelompok pokok bahasan penyakit yang wajib dikuasai oleh peserta didik program subspesialis urologi onkologi.

Penyusunan buku ini mengikuti kerangka kompetensi yang telah ditetapkan dalam Lampiran 1 dan Lampiran 2 Keputusan KKI tersebut, dengan penekanan pada kemampuan mendiagnosis dan merencanakan penatalaksanaan secara mandiri dan tuntas (Tingkat Kompetensi 4) untuk sebagian besar topik yang dibahas. Materi disusun secara sistematis mengikuti kerangka baku: definisi, epidemiologi, etiologi dan faktor risiko, patologi dan klasifikasi histologis, manifestasi klinis, pendekatan diagnostik dan stadium, tata laksana multimodal, komplikasi, serta pemantauan dan surveilans pascaterapi.

Rujukan utama yang digunakan dalam penyusunan buku ini adalah Campbell-Walsh-Wein Urology edisi ke-12, European Association of Urology (EAU) Guidelines on Oncology, National Comprehensive Cancer Network (NCCN) Guidelines, AJCC Cancer Staging Manual edisi ke-8, serta pedoman dan literatur nasional dan internasional yang relevan dan tervalidasi. Diharapkan buku ini dapat menjadi sumber belajar yang komprehensif, akurat, dan sesuai dengan perkembangan ilmu urologi onkologi terkini bagi peserta didik program pendidikan dokter subspesialis urologi onkologi di Indonesia.

Tim Penyusun

DAFTAR ISI

BAB

BAB I β€” PENDAHULUAN ONKOLOGI GENITALIA PRIA

Keganasan pada genitalia pria β€” meliputi testis, jaringan paratestikular, penis, dan prostat β€” merupakan kelompok penyakit dengan karakteristik epidemiologi, biologi tumor, dan pendekatan tata laksana yang sangat beragam. Kanker testis merupakan keganasan padat tersering pada laki-laki usia muda (15–40 tahun)1, sedangkan kanker prostat merupakan salah satu keganasan tersering pada laki-laki usia lanjut di banyak negara2. Kanker penis relatif jarang di negara maju namun memiliki insidensi yang lebih tinggi di sejumlah wilayah berkembang, termasuk beberapa daerah di Indonesia, yang diduga berkaitan dengan faktor risiko seperti fimosis kronik dan infeksi human papillomavirus (HPV)8.

1.1 Beban Penyakit dan Relevansi Klinis

Secara global, kanker prostat menempati posisi sebagai salah satu keganasan tersering pada pria, dengan insidensi yang terus meningkat seiring pertambahan usia harapan hidup dan meluasnya pemeriksaan prostate-specific antigen (PSA)2. Kanker testis, meskipun jarang secara proporsi keseluruhan keganasan, memiliki dampak sosial dan ekonomi yang besar karena mengenai laki-laki pada usia produktif dan reproduktif1. Tumor paratestikular jarang ditemukan namun penting dikenali karena sebagian bersifat ganas (seperti rhabdomiosarkoma paratestikular pada dewasa muda) dan memerlukan pendekatan bedah serta onkologis yang spesifik1. Kanker penis, walaupun jarang, memiliki dampak psikososial yang besar karena tata laksana kuratif sering melibatkan pembedahan mutilatif pada organ genital.

1.2 Prinsip Umum Pendekatan Multidisiplin

Tata laksana keempat kelompok keganasan ini menuntut pendekatan multidisiplin yang melibatkan urologi onkologi, patologi anatomi, radiologi, onkologi radiasi, onkologi medik, serta layanan paliatif. Keputusan tata laksana idealnya diambil melalui forum tumor board multidisiplin, khususnya pada kasus dengan komplikasi dan/atau risiko tinggi, sebagaimana diamanatkan pada pokok bahasan penyakit Lampiran 1 Tabel 6 Keputusan KKI No. 47/KKI/KEP/V/2023.

Peserta didik program subspesialis urologi onkologi dituntut memiliki kompetensi Tingkat 4 pada sebagian besar topik dalam buku ini, yaitu mampu membuat diagnosis klinik dan merencanakan penatalaksanaan secara mandiri dan tuntas, baik secara mandiri maupun rawat bersama, serta merujuk ke fasilitas dengan sumber daya lebih tinggi bila diperlukan3.

1.3 Kerangka Pembahasan Buku

Buku ini disusun dalam lima bab. Bab II membahas kanker testis, meliputi tumor sel germinal testis tanpa komplikasi, kanker testis dengan komplikasi dan/atau risiko tinggi, serta tumor paratestikular. Bab III membahas kanker penis stadium dini serta kanker penis dengan komplikasi dan/atau risiko tinggi. Bab IV membahas kanker prostat berdasarkan stratifikasi risiko: risiko rendah-sedang, risiko tinggi/lokal lanjut, serta kanker prostat dengan komplikasi dan/atau metastasis. Bab V membahas prinsip terapi hormonal dan terapi sistemik yang berlaku lintas keganasan genitalia pria yang dibahas dalam buku ini.

Poin Penting
  • Keganasan genitalia pria mencakup spektrum usia yang luas, dari dewasa muda (kanker testis) hingga usia lanjut (kanker prostat).
  • Pendekatan multidisiplin dan tumor board merupakan standar tata laksana, terutama pada kasus berisiko tinggi atau bermetastasis.
  • Kompetensi Tingkat 4 menuntut kemampuan mendiagnosis dan merencanakan tata laksana secara mandiri dan tuntas3.
BAB

BAB II β€” KANKER TESTIS

Kanker testis merupakan keganasan padat tersering pada laki-laki usia 15–40 tahun, dengan lebih dari 90% kasus berasal dari sel germinal. Bab ini membahas tumor sel germinal testis tanpa komplikasi, kanker testis dengan komplikasi dan/atau risiko tinggi, serta tumor paratestikular sebagai entitas terkait yang penting dikenali dalam diagnosis banding massa skrotum.

2.1 Tumor Sel Germinal Testis Tanpa Komplikasi

Tingkat Kompetensi: 4 (Does β€” mendiagnosis dan merencanakan penatalaksanaan secara mandiri dan tuntas) β€” sesuai Lampiran 1 Tabel 6 dan Lampiran 2 Tabel 7 Keputusan KKI No. 47/KKI/KEP/V/2023.

Definisi

Tumor sel germinal testis (germ cell tumor, GCT) adalah keganasan yang berasal dari sel germinal primordial testis, diklasifikasikan secara luas menjadi seminoma dan non-seminoma (embrional karsinoma, teratoma, koriokarsinoma, dan tumor yolk sac)1. Kategori "tanpa komplikasi" pada bab ini merujuk pada tumor yang terbatas pada testis (stadium klinis I) tanpa bukti metastasis regional maupun jauh.

Epidemiologi

Kanker testis menyumbang sekitar 1% dari seluruh keganasan pada pria namun merupakan keganasan padat tersering pada kelompok usia 15–40 tahun, dengan insidensi tertinggi dilaporkan di Eropa Utara dan lebih rendah di Asia2. Insidensi bimodal terlihat pada usia 25–35 tahun (predominan seminoma dan non-seminoma campuran) serta puncak kedua yang lebih kecil pada usia lanjut.

Etiologi dan Faktor Risiko

Faktor risiko utama meliputi riwayat kriptorkismus (baik yang telah maupun belum dikoreksi), riwayat kanker testis kontralateral, riwayat keluarga dengan kanker testis, infertilitas, serta adanya sindrom disgenesis testis1. Mikrolitiasis testis dan atrofi testis juga dikaitkan dengan peningkatan risiko, meskipun signifikansi klinisnya pada individu asimtomatik masih diperdebatkan.

Patologi dan Klasifikasi Histologis

Klasifikasi WHO membagi tumor sel germinal testis menjadi tumor yang berasal dari germ cell neoplasia in situ (GCNIS) β€” meliputi seminoma dan non-seminoma (embrional karsinoma, tumor yolk sac tipe pascapubertas, koriokarsinoma, teratoma pascapubertas) β€” serta tumor yang tidak berasal dari GCNIS (spermatocytic tumour, tumor yolk sac dan teratoma tipe prapubertas)1. Marka tumor serum β€” alpha-fetoprotein (AFP), beta-human chorionic gonadotropin (Ξ²-hCG), dan laktat dehidrogenase (LDH) β€” memiliki peran penting dalam diagnosis, stratifikasi risiko, dan pemantauan.

Manifestasi Klinis

Manifestasi klinis tersering adalah massa testis unilateral yang tidak nyeri, terkadang disertai rasa berat atau tidak nyaman pada skrotum. Nyeri akut dapat terjadi akibat perdarahan intratumoral. Ginekomastia dapat ditemukan pada tumor yang mensekresi Ξ²-hCG dalam jumlah besar. Pemeriksaan fisik menunjukkan massa testis yang keras, tidak rata, dan tidak tembus cahaya (tidak transiluminasi), berbeda dengan hidrokel.

Pendekatan Diagnostik dan Stadium

Evaluasi awal meliputi ultrasonografi skrotum bilateral serta pemeriksaan marka tumor serum (AFP, Ξ²-hCG, LDH) sebelum orkidektomi4. Orkidektomi radikal inguinal merupakan prosedur diagnostik sekaligus terapeutik awal yang wajib dilakukan sebelum stadium ditegakkan secara definitif5. Stadium ditentukan menggunakan sistem TNM AJCC edisi ke-8, yang secara khas untuk tumor sel germinal testis turut menyertakan kategori S (marka tumor serum pascaorkidektomi) di samping T, N, dan M6. Pencitraan CT abdomen-pelvis dan foto/CT toraks digunakan untuk menilai metastasis kelenjar getah bening retroperitoneal dan metastasis jauh. Buku ini mengacu pada sistem AJCC edisi ke-8 sebagai standar utama; perlu dicatat bahwa International Union Against Cancer (UICC) telah menerbitkan klasifikasi TNM edisi ke-9 (2025) untuk kanker testis yang kini direkomendasikan oleh pedoman EAU, dengan perbedaan utama pada subklasifikasi kategori T1 seminoma murni berdasarkan ukuran tumor4.

KategoriDeskripsi Ringkas (AJCC Edisi ke-8)
T (Tumor primer)pTis: GCNIS; pT1–pT4 berdasarkan invasi tunika albuginea, epididimis, funikulus spermatikus, atau skrotum
N (Kelenjar getah bening regional)N1: KGB ≀2 cm; N2: >2–5 cm; N3: >5 cm
M (Metastasis jauh)M1a: KGB non-regional/paru; M1b: metastasis viseral non-paru
S (Marka tumor serum pascaorkidektomi)S0: normal; S1–S3 berdasarkan kadar AFP, Ξ²-hCG, dan LDH

Stratifikasi risiko pada penyakit metastatik menggunakan klasifikasi International Germ Cell Cancer Collaborative Group (IGCCCG), yang membagi pasien menjadi kelompok prognosis baik, sedang, dan buruk berdasarkan lokasi tumor primer, ada tidaknya metastasis viseral non-paru, dan kadar marka tumor7.

Tata Laksana Multimodal

Tata laksana stadium klinis I bergantung pada histologi dan faktor risiko. Pada seminoma stadium I, pilihan meliputi surveilans aktif, kemoterapi karboplatin satu siklus (AUC 7), atau radioterapi para-aorta, dengan surveilans aktif menjadi pilihan yang semakin direkomendasikan pada kasus risiko rendah mengingat profil toksisitas jangka panjang yang lebih baik4. Pada non-seminoma stadium I, pilihan meliputi surveilans aktif (terutama tanpa invasi limfovaskular), satu hingga dua siklus kemoterapi BEP (bleomisin, etoposid, cisplatin), atau diseksi kelenjar getah bening retroperitoneal (retroperitoneal lymph node dissection, RPLND) nerve-sparing pada pusat dengan keahlian yang memadai5.

Ringkasan Klinis β€” Regimen Kemoterapi Standar Tumor Sel Germinal
  • BEP (bleomisin 30 unit hari 1, 8, 15; etoposid 100 mg/mΒ² hari 1–5; cisplatin 20 mg/mΒ² hari 1–5), diulang setiap 21 hari4.
  • Karboplatin AUC 7 dosis tunggal untuk seminoma stadium I risiko rendah sebagai alternatif radioterapi/surveilans4.
  • EP (etoposid-cisplatin) empat siklus dapat dipertimbangkan pada risiko baik IGCCCG bila bleomisin dikontraindikasikan7.

Komplikasi

Komplikasi tata laksana meliputi toksisitas kemoterapi (nefrotoksisitas dan ototoksisitas cisplatin, fibrosis paru akibat bleomisin, mielosupresi), infertilitas pascakemoterapi, serta risiko keganasan sekunder jangka panjang. Komplikasi bedah RPLND meliputi gangguan ejakulasi akibat cedera saraf simpatis, kilotoraks/asites kilosa, dan cedera vaskular retroperitoneal.

Pemantauan dan Surveilans Pascaterapi

Surveilans pascaterapi meliputi pemeriksaan klinis berkala, marka tumor serum, serta pencitraan CT abdomen-pelvis dan foto toraks dengan interval yang lebih ketat pada dua tahun pertama, kemudian diperjarang hingga tahun kelima4. Kepatuhan surveilans sangat penting terutama pada strategi surveilans aktif stadium I.

Poin Penting β€” Tumor Sel Germinal Testis Tanpa Komplikasi
  • Orkidektomi radikal inguinal adalah langkah diagnostik dan terapeutik awal wajib; biopsi transkrotal dihindari karena risiko kontaminasi limfatik.
  • Marka tumor (AFP, Ξ²-hCG, LDH) wajib diperiksa sebelum dan sesudah orkidektomi untuk penentuan kategori S dan stratifikasi risiko IGCCCG.
  • Surveilans aktif merupakan pilihan yang semakin diutamakan pada stadium I risiko rendah untuk meminimalkan toksisitas jangka panjang.

2.2 Kanker Testis dengan Komplikasi dan/atau Risiko Tinggi

Tingkat Kompetensi: 4 (Does β€” mendiagnosis dan merencanakan penatalaksanaan secara mandiri dan tuntas) β€” sesuai Lampiran 1 Tabel 6 dan Lampiran 2 Tabel 7 Keputusan KKI No. 47/KKI/KEP/V/2023.

Definisi

Kategori ini mencakup tumor sel germinal testis stadium II dan III (dengan metastasis kelenjar getah bening retroperitoneal atau metastasis jauh), tumor dengan risiko tinggi berdasarkan IGCCCG, serta kasus dengan komplikasi seperti massa residual pascakemoterapi, penyakit refrakter, atau relaps.

Epidemiologi

Sekitar 20–30% pasien kanker testis datang dengan penyakit metastatik pada saat diagnosis, dengan non-seminoma cenderung bermetastasis lebih dini dibandingkan seminoma1.

Etiologi dan Faktor Risiko

Faktor risiko progresi meliputi keterlambatan diagnosis, histologi non-seminoma (khususnya koriokarsinoma dan komponen embrional dominan), invasi limfovaskular pada tumor primer, serta kadar marka tumor pascaorkidektomi yang tinggi (kategori S2–S3).

Patologi dan Klasifikasi Histologis

Massa residual pascakemoterapi pada non-seminoma dapat terdiri atas jaringan nekrotik/fibrosis, teratoma matur, atau karsinoma viabel β€” masing-masing dengan implikasi tata laksana yang berbeda, sehingga reseksi bedah massa residual β‰₯1 cm umumnya diindikasikan pada non-seminoma.

Manifestasi Klinis

Selain massa testis, dapat ditemukan limfadenopati retroperitoneal teraba, nyeri punggung akibat massa retroperitoneal besar, gejala metastasis paru (batuk, sesak), atau gejala metastasis viseral lain sesuai lokasi (hepar, otak, tulang).

Pendekatan Diagnostik dan Stadium

Stadium ditegakkan berdasarkan TNM-S AJCC edisi ke-8 dengan pencitraan CT toraks-abdomen-pelvis, dan MRI/CT kepala pada kecurigaan metastasis otak (terutama pada koriokarsinoma dengan kadar Ξ²-hCG sangat tinggi)6. Klasifikasi IGCCCG digunakan untuk menentukan kelompok prognosis baik, sedang, atau buruk yang akan menentukan intensitas kemoterapi7.

Kelompok Risiko IGCCCGKriteria UmumKemoterapi Standar
Prognosis BaikNon-seminoma: tumor primer testis/retroperitoneal, tanpa metastasis viseral non-paru, marka rendah; Seminoma: marka berapapun, tanpa metastasis viseral non-paru3 siklus BEP atau 4 siklus EP
Prognosis SedangNon-seminoma: marka sedang; Seminoma: dengan metastasis viseral non-paru4 siklus BEP
Prognosis BurukNon-seminoma: tumor primer mediastinum, metastasis viseral non-paru, atau marka tinggi4 siklus BEP (pertimbangkan intensifikasi pada pusat rujukan)

Tata Laksana Multimodal

Tata laksana lini pertama penyakit metastatik adalah kemoterapi berbasis cisplatin sesuai kelompok risiko IGCCCG, diikuti reevaluasi marka tumor dan pencitraan4. Massa residual non-seminoma β‰₯1 cm pascakemoterapi dengan normalisasi marka tumor umumnya direseksi melalui RPLND pascakemoterapi (post-chemotherapy RPLND); pada seminoma, massa residual β‰₯3 cm dievaluasi dengan FDG-PET/CT untuk menentukan kebutuhan reseksi atau surveilans4. Penyakit refrakter atau relaps dapat memerlukan kemoterapi salvage (misalnya TIP: paclitaxel-ifosfamid-cisplatin) atau kemoterapi dosis tinggi dengan dukungan sel punca pada pusat rujukan tersier5.

Komplikasi

Komplikasi meliputi toksisitas kumulatif kemoterapi multisiklus, komplikasi bedah RPLND pascakemoterapi (jaringan fibrotik yang lebih sulit didiseksi, risiko cedera vaskular besar retroperitoneal, ejakulasi retrograd), serta risiko sindrom growing teratoma pada kasus dengan komponen teratoma yang terus membesar meski marka tumor normal.

Pemantauan dan Surveilans Pascaterapi

Pemantauan jangka panjang pada kelompok risiko tinggi memerlukan interval yang lebih ketat pada dua tahun pertama, disertai perhatian terhadap efek lambat kardiovaskular dan metabolik akibat kemoterapi berbasis cisplatin, serta risiko keganasan sekunder.

Poin Penting β€” Kanker Testis Risiko Tinggi
  • Klasifikasi IGCCCG menjadi dasar utama penentuan intensitas kemoterapi pada penyakit metastatik.
  • Massa residual non-seminoma β‰₯1 cm pascakemoterapi dengan marka normal merupakan indikasi RPLND pascakemoterapi.
  • Kasus refrakter/relaps memerlukan rujukan ke pusat tersier dengan fasilitas kemoterapi dosis tinggi dan dukungan sel punca.

2.3 Tumor Paratestikular

Tingkat Kompetensi: 4 (Does β€” mendiagnosis dan merencanakan penatalaksanaan secara mandiri dan tuntas) β€” sesuai Lampiran 1 Tabel 6 dan Lampiran 2 Tabel 7 Keputusan KKI No. 47/KKI/KEP/V/2023.

Definisi

Tumor paratestikular berasal dari struktur di sekitar testis β€” epididimis, funikulus spermatikus, tunika, dan jaringan lunak skrotum β€” dan dapat bersifat jinak (mayoritas, misalnya adenomatoid tumor) maupun ganas (minoritas, terutama rhabdomiosarkoma pada anak dan dewasa muda, serta liposarkoma dan leiomiosarkoma pada dewasa)1.

Epidemiologi

Tumor paratestikular relatif jarang. Rhabdomiosarkoma paratestikular merupakan sarkoma jaringan lunak tersering pada region paratestikular pada kelompok usia anak hingga dewasa muda, sedangkan liposarkoma funikulus spermatikus lebih sering pada usia lanjut.

Etiologi dan Faktor Risiko

Sebagian besar tumor paratestikular ganas tidak memiliki faktor risiko yang jelas teridentifikasi; riwayat trauma skrotum atau operasi hernia inguinal sebelumnya kadang dilaporkan namun tanpa hubungan kausal yang tegas.

Patologi dan Klasifikasi Histologis

Diagnosis histopatologis definitif memerlukan pemeriksaan spesimen bedah dengan panel imunohistokimia untuk membedakan subtipe sarkoma (embrional, alveolar, atau pleomorfik pada rhabdomiosarkoma), mengingat implikasi prognostik dan terapeutik yang berbeda antarsubtipe.

Manifestasi Klinis

Manifestasi klinis berupa massa skrotum yang teraba terpisah dari testis, umumnya tidak nyeri, dengan pertumbuhan yang dapat cepat pada tumor ganas. Diagnosis banding meliputi hidrokel, spermatokel, dan varikokel yang harus disingkirkan melalui ultrasonografi.

Pendekatan Diagnostik dan Stadium

Ultrasonografi skrotum merupakan modalitas awal, dilanjutkan MRI panggul/skrotum untuk karakterisasi lebih lanjut bila dicurigai keganasan. Stadium mengikuti sistem staging sarkoma jaringan lunak AJCC edisi ke-8, dengan CT toraks-abdomen-pelvis untuk menilai metastasis kelenjar getah bening retroperitoneal (rute limfatik serupa dengan tumor testis) dan metastasis jauh6.

Tata Laksana Multimodal

Orkidektomi radikal inguinal dengan reseksi luas funikulus spermatikus merupakan tata laksana bedah standar untuk tumor paratestikular ganas, dilanjutkan staging retroperitoneal karena pola penyebaran limfatik serupa tumor testis1. Rhabdomiosarkoma paratestikular ditata laksana secara multimodal dengan kemoterapi sistemik (regimen berbasis vincristine-actinomycin D-cyclophosphamide, mengacu protokol onkologi anak/dewasa muda) dan pertimbangan radioterapi pada kasus dengan KGB retroperitoneal positif, idealnya dikoordinasikan dengan tim onkologi anak/dewasa muda dan onkologi medik.

Komplikasi

Komplikasi meliputi risiko rekurensi lokal bila margin bedah tidak adekuat, komplikasi kemoterapi sistemik pada regimen multiagen, serta dampak fungsi reproduksi pada dewasa muda pascaorkidektomi unilateral maupun bilateral pada kasus jarang.

Pemantauan dan Surveilans Pascaterapi

Pemantauan berkala dengan pencitraan CT/MRI dan evaluasi klinis diperlukan mengingat risiko rekurensi lokal maupun metastasis jauh, dengan interval yang disesuaikan subtipe histologis dan stadium awal.

Poin Penting β€” Tumor Paratestikular
  • Mayoritas tumor paratestikular bersifat jinak, namun rhabdomiosarkoma dan sarkoma jaringan lunak lain harus disingkirkan pada massa skrotum yang cepat membesar.
  • Orkidektomi radikal inguinal (bukan skrotal) adalah pendekatan bedah standar untuk tumor paratestikular yang dicurigai ganas.
  • Tata laksana multimodal dengan kemoterapi dan/atau radioterapi diperlukan pada rhabdomiosarkoma, idealnya dalam koordinasi tim onkologi anak/dewasa muda.
BAB

BAB III β€” KANKER PENIS

Kanker penis adalah keganasan yang relatif jarang di negara maju namun memiliki insidensi lebih tinggi di beberapa wilayah Asia, Afrika, dan Amerika Selatan, termasuk dilaporkan pada sejumlah wilayah di Indonesia, dengan lebih dari 95% kasus berupa karsinoma sel skuamosa1. Bab ini membahas kanker penis stadium dini dan kanker penis dengan komplikasi dan/atau risiko tinggi.

3.1 Kanker Penis Stadium Dini

Tingkat Kompetensi: 4 (Does β€” mendiagnosis dan merencanakan penatalaksanaan secara mandiri dan tuntas) β€” sesuai Lampiran 1 Tabel 6 dan Lampiran 2 Tabel 7 Keputusan KKI No. 47/KKI/KEP/V/2023.

Definisi

Kanker penis stadium dini mengacu pada karsinoma sel skuamosa penis yang terbatas pada glans, preputium, atau korpus tanpa invasi struktur korpora kavernosa/spongiosum yang luas, tanpa metastasis kelenjar getah bening inguinal teraba yang mencurigakan, dan tanpa metastasis jauh (stadium klinis Tis–T1 umumnya).

Epidemiologi

Insidensi kanker penis bervariasi luas secara geografis, dengan angka yang jauh lebih tinggi di beberapa wilayah Asia, Afrika, dan Amerika Selatan dibandingkan Eropa dan Amerika Utara, berkaitan dengan perbedaan praktik sirkumsisi dan prevalensi infeksi HPV8.

Etiologi dan Faktor Risiko

Faktor risiko utama meliputi fimosis kronik, riwayat balanitis xerotika obliterans (lichen sclerosus), infeksi HPV onkogenik (terutama tipe 16 dan 18), higiene genital yang buruk, kebiasaan merokok, serta ketiadaan sirkumsisi neonatal8. Sirkumsisi neonatal memiliki efek protektif yang signifikan terhadap risiko kanker penis di kemudian hari.

Patologi dan Klasifikasi Histologis

Karsinoma sel skuamosa penis memiliki beberapa subtipe histologis dengan implikasi prognostik berbeda, termasuk subtipe usual, basaloid, verukosa, papiler, dan sarkomatoid; subtipe basaloid dan sarkomatoid umumnya berkaitan dengan prognosis lebih buruk dibandingkan subtipe verukosa8. Derajat diferensiasi histologis dan kedalaman invasi merupakan faktor prognostik penting untuk risiko metastasis kelenjar getah bening inguinal.

Manifestasi Klinis

Manifestasi klinis awal berupa lesi pada glans atau preputium yang dapat berupa ulkus, plak, nodul, atau lesi eksofitik seperti kutil, sering disertai riwayat fimosis yang menghambat evaluasi visual langsung. Keterlambatan diagnosis sering terjadi karena pasien enggan memeriksakan diri akibat rasa malu.

Pendekatan Diagnostik dan Stadium

Diagnosis definitif memerlukan biopsi insisi atau eksisi lesi primer untuk konfirmasi histologis, kedalaman invasi, dan grading, sebelum menentukan strategi bedah definitif8. Evaluasi kelenjar getah bening inguinal dilakukan melalui palpasi bimanual yang cermat pada kedua sisi, dengan ultrasonografi inguinal dan aspirasi jarum halus pada KGB yang mencurigakan. Stadium ditentukan menggunakan sistem TNM AJCC edisi ke-86.

Kategori TDeskripsi Ringkas
TisKarsinoma in situ
TaKarsinoma verukosa non-invasif
T1a/T1bInvasi jaringan ikat subepitelial tanpa (T1a) atau dengan (T1b) invasi limfovaskular/perineural atau diferensiasi buruk
T2Invasi korpus spongiosum
T3Invasi korpora kavernosa
T4Invasi struktur berdekatan (skrotum, prostat, pubis)

Tata Laksana Multimodal

Prinsip utama tata laksana kanker penis stadium dini adalah pembedahan penile-preserving (organ-sparing) bila secara onkologis aman, meliputi eksisi lokal luas, glansektomi parsial/total dengan atau tanpa rekonstruksi, sirkumsisi luas untuk lesi preputium terbatas, atau terapi topikal/laser pada Tis terseleksi, dengan tujuan mempertahankan fungsi seksual dan berkemih semaksimal mungkin8. Manajemen KGB inguinal pada kasus tanpa KGB teraba (cN0) bergantung pada faktor risiko histologis: surveilans aktif pada risiko rendah, atau modified/dynamic sentinel node biopsy pada risiko sedang-tinggi9.

Ringkasan Klinis β€” Prinsip Pembedahan Konservatif Organ
  • Eksisi lokal luas dengan margin bebas tumor merupakan pilihan pada lesi terbatas Ta–T1.
  • Glansektomi parsial/total dengan rekonstruksi dipertimbangkan pada lesi glans yang lebih luas namun masih terbatas pada glans.
  • Dynamic sentinel node biopsy direkomendasikan pada cN0 risiko sedang-tinggi sebagai alternatif diseksi KGB inguinal profilaktik yang lebih invasif9.

Komplikasi

Komplikasi meliputi stenosis meatus uretra pascaglansektomi, gangguan sensasi dan fungsi seksual, serta kekambuhan lokal bila margin bedah tidak adekuat, yang memerlukan reseksi ulang atau penektomi parsial.

Pemantauan dan Surveilans Pascaterapi

Surveilans meliputi pemeriksaan fisik lokal dan palpasi inguinal berkala, dengan interval lebih ketat pada dua tahun pertama, mengingat mayoritas rekurensi terjadi pada periode tersebut8.

Poin Penting β€” Kanker Penis Stadium Dini
  • Pendekatan bedah organ-sparing diutamakan bila onkologis aman, untuk mempertahankan fungsi seksual dan berkemih.
  • Evaluasi KGB inguinal wajib dilakukan pada seluruh kasus, karena status KGB merupakan faktor prognostik terpenting.
  • Fimosis kronik dan infeksi HPV merupakan faktor risiko utama yang dapat dicegah melalui sirkumsisi dan edukasi higiene genital.

3.2 Kanker Penis dengan Komplikasi dan/atau Risiko Tinggi

Tingkat Kompetensi: 4 (Does β€” mendiagnosis dan merencanakan penatalaksanaan secara mandiri dan tuntas) β€” sesuai Lampiran 1 Tabel 6 dan Lampiran 2 Tabel 7 Keputusan KKI No. 47/KKI/KEP/V/2023.

Definisi

Kategori ini mencakup kanker penis dengan invasi korpora kavernosa (T3) atau struktur berdekatan (T4), metastasis KGB inguinal dan/atau pelvis yang teraba/terkonfirmasi, metastasis jauh, serta kasus dengan komplikasi lokal seperti infeksi, perdarahan, atau destruksi jaringan luas.

Epidemiologi

Sekitar 20–30% pasien kanker penis datang dengan KGB inguinal teraba pada saat diagnosis, dan sebagian di antaranya telah mengalami keterlambatan bermakna sejak onset gejala akibat rasa malu atau akses layanan kesehatan yang terbatas8.

Etiologi dan Faktor Risiko

Faktor risiko progresi ke stadium lanjut meliputi keterlambatan diagnosis, subtipe histologis agresif (basaloid, sarkomatoid), derajat diferensiasi buruk, serta invasi limfovaskular pada tumor primer.

Patologi dan Klasifikasi Histologis

Pemeriksaan histopatologis KGB yang direseksi penting untuk menentukan jumlah KGB positif, ada tidaknya ekstensi ekstranodal, dan lateralitas keterlibatan β€” seluruhnya merupakan faktor prognostik kuat yang memengaruhi keputusan terapi adjuvan.

Manifestasi Klinis

Manifestasi klinis meliputi massa inguinal yang teraba (dapat unilateral atau bilateral), ulserasi kulit inguinal akibat KGB yang menembus kulit pada kasus lanjut, edema tungkai akibat obstruksi limfatik/vaskular, serta gejala metastasis jauh pada penyakit stadium IV.

Pendekatan Diagnostik dan Stadium

Pencitraan CT/MRI panggul-inguinal digunakan untuk menilai perluasan KGB inguinal dan pelvis, sedangkan CT toraks-abdomen dilakukan untuk menyingkirkan metastasis jauh. FDG-PET/CT dapat digunakan pada kasus dengan KGB inguinal terkonfirmasi untuk deteksi KGB pelvis atau metastasis jauh subklinis9.

Kategori N/MDeskripsi Ringkas (AJCC Edisi ke-8)
N11 KGB inguinal mobile unilateral
N2β‰₯2 KGB inguinal mobile unilateral atau bilateral
N3KGB inguinal fiksasi/ulserasi, atau keterlibatan KGB pelvis
M1Metastasis jauh

Tata Laksana Multimodal

Kasus T3/T4 umumnya memerlukan penektomi parsial atau total dengan margin onkologis adekuat, dilanjutkan diseksi KGB inguinal bilateral (superfisial dan/atau dalam) pada KGB teraba/terkonfirmasi8. Kemoterapi neoadjuvan berbasis cisplatin (misalnya regimen TIP: paclitaxel-ifosfamid-cisplatin) dipertimbangkan pada KGB inguinal yang fiksasi atau bulky sebelum diseksi radikal, guna meningkatkan reseksibilitas9. Diseksi KGB pelvis dilakukan pada kasus dengan β‰₯2 KGB inguinal positif, ekstensi ekstranodal, atau KGB pelvis yang terkonfirmasi pada pencitraan. Radioterapi adjuvan dipertimbangkan pada kasus dengan ekstensi ekstranodal atau margin bedah positif9. Pada penyakit metastasis jauh, kemoterapi sistemik paliatif menjadi andalan tata laksana.

Komplikasi

Komplikasi diseksi KGB inguinal meliputi limfedema tungkai kronik, nekrosis flap kulit, infeksi luka, dan seroma/limfokel, yang dapat diminimalkan dengan teknik diseksi yang mempertahankan integritas vaskular kulit (video endoscopic inguinal lymphadenectomy dapat menjadi alternatif pada pusat dengan keahlian yang memadai).

Pemantauan dan Surveilans Pascaterapi

Pemantauan pascaterapi pada kasus risiko tinggi memerlukan interval lebih ketat pada dua tahun pertama dengan pencitraan inguinal-pelvis dan toraks-abdomen berkala, mengingat risiko rekurensi lokal dan sistemik yang lebih tinggi dibandingkan stadium dini.

Poin Penting β€” Kanker Penis Risiko Tinggi
  • Status dan jumlah KGB inguinal positif merupakan faktor prognostik terkuat pada kanker penis.
  • Diseksi KGB inguinal bilateral radikal diindikasikan pada KGB teraba/terkonfirmasi, dengan diseksi KGB pelvis pada kriteria tertentu.
  • Kemoterapi neoadjuvan berbasis cisplatin dipertimbangkan pada KGB inguinal bulky/fiksasi untuk meningkatkan reseksibilitas.
BAB

BAB IV β€” KANKER PROSTAT

Kanker prostat merupakan salah satu keganasan tersering pada laki-laki di dunia, dengan spektrum klinis yang sangat luas β€” dari penyakit indolen yang dapat diamati tanpa terapi aktif hingga penyakit metastatik yang mengancam jiwa2. Bab ini membahas kanker prostat lokal berisiko rendah-sedang, kanker prostat lokal lanjut/berisiko tinggi, serta kanker prostat dengan komplikasi dan/atau metastasis.

4.1 Kanker Prostat Lokal Berisiko Rendah-Sedang

Tingkat Kompetensi: 4 (Does β€” mendiagnosis dan merencanakan penatalaksanaan secara mandiri dan tuntas) β€” sesuai Lampiran 1 Tabel 6 dan Lampiran 2 Tabel 7 Keputusan KKI No. 47/KKI/KEP/V/2023.

Definisi

Kanker prostat lokal berisiko rendah-sedang mengacu pada adenokarsinoma prostat yang terbatas pada organ (stadium klinis T1–T2) dengan stratifikasi risiko rendah hingga sedang berdasarkan kombinasi kadar PSA, skor Gleason/grade group ISUP, dan stadium klinis T10.

Epidemiologi

Kanker prostat merupakan salah satu keganasan tersering pada pria di banyak negara, dengan insidensi yang meningkat seiring bertambahnya usia dan meluasnya skrining PSA, meskipun mortalitas spesifik penyakit relatif rendah pada kelompok risiko rendah2.

Etiologi dan Faktor Risiko

Faktor risiko utama meliputi usia lanjut, riwayat keluarga kanker prostat (terutama pada kerabat derajat pertama), ras/etnis tertentu, serta mutasi germline pada gen BRCA1/BRCA2 dan gen perbaikan DNA lain yang berkaitan dengan risiko lebih tinggi dan fenotipe yang lebih agresif1.

Patologi dan Klasifikasi Histologis

Lebih dari 90% kanker prostat adalah adenokarsinoma asinar. Grading menggunakan sistem Grade Group ISUP 2014, yang mengelompokkan skor Gleason menjadi lima grade group dengan korelasi prognostik yang lebih baik dibandingkan skor Gleason tunggal13.

Grade Group (ISUP)Skor GleasonDeskripsi Pola
1≀6Hanya pola Gleason 3 (well-differentiated)
23+4=7Predominan pola 3, komponen minor pola 4
34+3=7Predominan pola 4, komponen minor pola 3
484+4, 3+5, atau 5+3
59–10Predominan/eksklusif pola 5

Manifestasi Klinis

Mayoritas kasus risiko rendah-sedang bersifat asimtomatik dan terdeteksi melalui skrining PSA atau colok dubur abnormal. Gejala saluran kemih bawah (LUTS) bila ada umumnya berkaitan dengan pembesaran prostat jinak yang menyertai, bukan spesifik kanker.

Pendekatan Diagnostik dan Stadium

Evaluasi awal meliputi PSA serum dan colok dubur menggunakan strategi skrining berbasis risiko individual (risk-adapted), umumnya dimulai pada usia 50 tahun atau lebih awal pada kelompok risiko tinggi, dilanjutkan MRI multiparametrik prostat pada kecurigaan klinis untuk memandu biopsi target (fusion biopsy) dikombinasikan dengan biopsi sistematis10,12. Stratifikasi risiko menggunakan kombinasi kategori D'Amico atau kelompok risiko EAU, yang mempertimbangkan kadar PSA, grade group, dan stadium klinis T10. Stadium ditentukan menggunakan sistem TNM AJCC edisi ke-86.

Kelompok RisikoPSA (ng/mL)Grade GroupStadium Klinis T
Risiko Rendah<101T1–T2a
Risiko Sedang Favorable10–20 atau2T2b
Risiko Sedang Unfavorable10–203T2b–T2c

Tata Laksana Multimodal

Pada risiko rendah, active surveillance merupakan pilihan utama pada pasien dengan harapan hidup memadai yang menghendaki penghindaran/penundaan terapi definitif, dengan protokol pemantauan PSA berkala, colok dubur, MRI ulang, dan biopsi konfirmasi10. Pada risiko sedang, pilihan terapi definitif meliputi prostatektomi radikal (terbuka, laparoskopik, atau robotik) dengan atau tanpa diseksi KGB pelvis, atau radioterapi eksterna/brakiterapi dengan atau tanpa terapi deprivasi androgen (ADT) jangka pendek (4–6 bulan) pada risiko sedang unfavorable10.

Prinsip stratifikasi risiko dan pilihan tata laksana ini sejalan dengan Pedoman Nasional Pelayanan Kedokteran (PNPK) Tata Laksana Kanker Prostat yang diterbitkan Kementerian Kesehatan RI serta panduan Ikatan Ahli Urologi Indonesia (IAUI), yang menjadi acuan praktik klinis di Indonesia15,16.

Ringkasan Klinis β€” Pilihan Tata Laksana Risiko Rendah-Sedang
  • Active surveillance: pilihan utama risiko rendah, dengan PSA setiap 3–6 bulan, colok dubur tahunan, dan biopsi konfirmasi/MRI ulang berkala.
  • Prostatektomi radikal: pendekatan nerve-sparing dipertimbangkan pada risiko rendah-sedang untuk mempertahankan fungsi ereksi bila onkologis aman.
  • Radioterapi + ADT jangka pendek pada risiko sedang unfavorable meningkatkan kontrol biokimia dibandingkan radioterapi tunggal14.

Komplikasi

Komplikasi prostatektomi radikal meliputi inkontinensia urin stres, disfungsi ereksi, striktur anastomosis vesikouretra, dan cedera rektum (jarang). Komplikasi radioterapi meliputi proktitis radiasi, sistitis radiasi, dan disfungsi ereksi onset lambat.

Pemantauan dan Surveilans Pascaterapi

Pemantauan PSA berkala pascaprostatektomi (target undetectable) atau pasca-radioterapi (menggunakan definisi nadir+2 ng/mL untuk kekambuhan biokimia) merupakan komponen utama surveilans jangka panjang10,11.

Poin Penting β€” Kanker Prostat Risiko Rendah-Sedang
  • Grade Group ISUP dan stratifikasi risiko D'Amico/EAU menjadi dasar utama pemilihan strategi tata laksana.
  • Active surveillance merupakan strategi yang aman dan direkomendasikan pada risiko rendah untuk menghindari overtreatment.
  • Keputusan antara pembedahan dan radioterapi mempertimbangkan preferensi pasien, komorbiditas, dan profil efek samping masing-masing modalitas.

4.2 Kanker Prostat Lokal Lanjut/Berisiko Tinggi

Tingkat Kompetensi: 4 (Does β€” mendiagnosis dan merencanakan penatalaksanaan secara mandiri dan tuntas) β€” sesuai Lampiran 1 Tabel 6 dan Lampiran 2 Tabel 7 Keputusan KKI No. 47/KKI/KEP/V/2023.

Definisi

Kanker prostat risiko tinggi/lokal lanjut mencakup tumor dengan PSA >20 ng/mL, grade group 4–5, dan/atau stadium klinis T3–T4, termasuk keterlibatan vesikula seminalis atau struktur berdekatan, tanpa bukti metastasis jauh10.

Epidemiologi

Proporsi pasien yang terdiagnosis pada stadium risiko tinggi/lokal lanjut bervariasi antarwilayah, cenderung lebih tinggi pada populasi dengan cakupan skrining PSA yang rendah, termasuk pada sejumlah wilayah di Indonesia.

Etiologi dan Faktor Risiko

Faktor risiko progresi ke stadium lokal lanjut serupa dengan kanker prostat pada umumnya, dengan tambahan faktor keterlambatan diagnosis dan akses skrining yang terbatas sebagai kontributor penting pada praktik klinis di Indonesia.

Patologi dan Klasifikasi Histologis

Grade group 4–5 (skor Gleason 8–10) mendominasi kelompok risiko tinggi, dengan pola kribriform dan glomeruloid yang berkaitan dengan prognosis lebih buruk dan risiko metastasis lebih tinggi13.

Manifestasi Klinis

Manifestasi klinis dapat meliputi LUTS obstruktif yang lebih berat, hematuria pada invasi lokal ke leher kandung kemih, atau teraba indurasi ekstrakapsular pada colok dubur. Sebagian pasien tetap asimtomatik meski secara patologis berisiko tinggi.

Pendekatan Diagnostik dan Stadium

MRI multiparametrik pelvis digunakan untuk menilai ekstensi ekstrakapsular, invasi vesikula seminalis, dan keterlibatan struktur berdekatan. Pencitraan tulang (bone scan atau PSMA PET/CT bila tersedia) dan CT/MRI abdomen-pelvis direkomendasikan untuk menyingkirkan metastasis jauh pada kelompok risiko tinggi10.

Tata Laksana Multimodal

Tata laksana risiko tinggi/lokal lanjut bersifat multimodal: prostatektomi radikal dengan diseksi KGB pelvis extended, sering dilanjutkan radioterapi adjuvan/salvage bila terdapat margin positif atau kekambuhan biokimia; atau radioterapi eksterna dosis definitif dikombinasikan dengan ADT jangka panjang (2–3 tahun)10. Penambahan agen hormonal generasi baru (abiraterone asetat atau apalutamide) pada ADT dan radioterapi dapat dipertimbangkan pada subkelompok risiko sangat tinggi berdasarkan bukti uji klinis fase III10.

Ringkasan Klinis β€” Prinsip Terapi Kombinasi Risiko Tinggi
  • ADT jangka panjang (2–3 tahun) merupakan komponen standar bersama radioterapi definitif pada risiko tinggi.
  • Diseksi KGB pelvis extended direkomendasikan pada prostatektomi radikal risiko tinggi untuk staging patologis yang akurat.
  • Radioterapi adjuvan/salvage dipertimbangkan pada margin positif atau kekambuhan biokimia pascaprostatektomi10.

Komplikasi

Komplikasi meliputi risiko lebih tinggi inkontinensia dan disfungsi ereksi pascaprostatektomi radikal luas, efek samping ADT jangka panjang (sindrom metabolik, osteoporosis, penurunan libido, hot flashes), serta toksisitas radioterapi pelvis extended (enteritis radiasi, sistitis radiasi).

Pemantauan dan Surveilans Pascaterapi

Pemantauan PSA lebih ketat pada 2–3 tahun pertama, disertai evaluasi klinis terhadap efek samping ADT jangka panjang seperti densitas tulang dan profil metabolik, penting dilakukan secara berkala.

Poin Penting β€” Kanker Prostat Risiko Tinggi/Lokal Lanjut
  • Tata laksana bersifat multimodal, menggabungkan pembedahan atau radioterapi dengan ADT jangka panjang.
  • Diseksi KGB pelvis extended penting untuk staging patologis akurat pada prostatektomi radikal risiko tinggi.
  • Efek samping metabolik dan tulang akibat ADT jangka panjang perlu dipantau dan dikelola secara proaktif.

4.3 Kanker Prostat dengan Komplikasi dan/atau Metastasis

Tingkat Kompetensi: 4 (Does β€” mendiagnosis dan merencanakan penatalaksanaan secara mandiri dan tuntas) β€” sesuai Lampiran 1 Tabel 6 dan Lampiran 2 Tabel 7 Keputusan KKI No. 47/KKI/KEP/V/2023.

Definisi

Kategori ini mencakup kanker prostat dengan metastasis jauh (tulang, KGB non-regional, viseral) pada saat diagnosis (metastasis de novo) maupun yang berkembang setelah terapi definitif, termasuk kanker prostat resisten kastrasi (castration-resistant prostate cancer, CRPC), serta komplikasi lokal seperti retensi urin akut atau obstruksi ureter bilateral.

Epidemiologi

Sebagian pasien di negara dengan cakupan skrining terbatas β€” termasuk sejumlah wilayah di Indonesia β€” masih terdiagnosis pada stadium metastasis de novo, yang berkaitan dengan prognosis yang jauh lebih buruk dibandingkan penyakit lokal2.

Etiologi dan Faktor Risiko

Faktor risiko progresi menjadi CRPC meliputi durasi respons awal terhadap ADT yang singkat, volume metastasis tinggi saat diagnosis (high-volume disease), dan grade group tinggi pada histologi awal.

Patologi dan Klasifikasi Histologis

Pada kasus CRPC, biopsi ulang dapat menunjukkan transformasi neuroendokrin (small cell/neuroendocrine prostate cancer) pada sebagian kecil kasus, yang memerlukan pendekatan terapi sistemik berbeda dari adenokarsinoma konvensional.

Manifestasi Klinis

Manifestasi klinis meliputi nyeri tulang akibat metastasis osseus (lokasi tersering), fraktur patologis, kompresi medula spinalis sebagai kegawatdaruratan onkologis, retensi urin akut, obstruksi ureter bilateral dengan gagal ginjal post-renal, serta gejala konstitusional pada penyakit lanjut.

Pendekatan Diagnostik dan Stadium

Bone scan atau PSMA PET/CT (bila tersedia) merupakan modalitas utama deteksi metastasis tulang, sedangkan CT/MRI abdomen-pelvis menilai KGB dan metastasis viseral. Definisi CRPC memerlukan konfirmasi kadar testosteron kastrasi (<50 ng/dL) disertai progresi PSA atau radiologis meski ADT adekuat10.

Tata Laksana Multimodal

Pada metastasis hormone-sensitive de novo, ADT dikombinasikan dengan agen hormonal generasi baru (abiraterone asetat, enzalutamide, apalutamide, atau darolutamide sesuai indikasi) dan/atau docetaxel, terutama pada penyakit volume tinggi, terbukti memperpanjang kesintasan dibandingkan ADT tunggal10. Pada CRPC, pilihan lini pertama meliputi agen hormonal generasi baru atau docetaxel, dengan lini selanjutnya mencakup cabazitaxel, radium-223 pada metastasis tulang dominan tanpa metastasis viseral, atau terapi target PARP inhibitor pada kasus dengan mutasi gen perbaikan DNA homolog10. Radioterapi paliatif diberikan untuk nyeri tulang lokal, dan dekompresi bedah/radioterapi emergensi untuk kompresi medula spinalis. Retensi urin akut dan obstruksi ureter bilateral memerlukan drainase urin segera (kateterisasi, nefrostomi perkutan, atau stent ureter) sebelum tata laksana onkologis definitif.

Terapi radioligand bertarget prostate-specific membrane antigen (PSMA), yaitu lutetium-177 (¹⁷⁷Lu)-PSMA-617, terbukti memperpanjang kesintasan progression-free dan kesintasan keseluruhan pada mCRPC dengan ekspresi PSMA positif pada pencitraan yang telah mendapat terapi agen hormonal generasi baru dan kemoterapi berbasis taxane, dan kini merupakan pilihan lini lanjut standar pada populasi tersebut17.

KondisiTata Laksana Lini Awal
Metastasis hormone-sensitive, volume tinggiADT + docetaxel dan/atau agen hormonal generasi baru
Metastasis hormone-sensitive, volume rendahADT + agen hormonal generasi baru
CRPC non-metastatik risiko tinggiADT + apalutamide/enzalutamide/darolutamide
CRPC metastatikAgen hormonal generasi baru, docetaxel, atau cabazitaxel sesuai lini terapi sebelumnya
CRPC metastatik, PSMA-positif, pasca-ARPI dan taxaneRadioligand ¹⁷⁷Lu-PSMA-617 (bila tersedia dan sesuai kriteria pencitraan PSMA)

Komplikasi

Komplikasi meliputi fraktur patologis, kompresi medula spinalis, gagal ginjal post-renal akibat obstruksi ureter bilateral, efek samping kumulatif ADT jangka panjang, serta toksisitas kemoterapi sitotoksik (neutropenia febril, neuropati perifer).

Pemantauan dan Surveilans Pascaterapi

Pemantauan meliputi PSA, evaluasi radiologis berkala sesuai respons klinis, serta manajemen suportif berkelanjutan terhadap nyeri tulang, kesehatan tulang (bisphosphonate/denosumab pada metastasis tulang), dan kualitas hidup, dengan pelibatan tim paliatif pada stadium lanjut.

Poin Penting β€” Kanker Prostat Metastasis/CRPC
  • Kompresi medula spinalis dan obstruksi ureter bilateral merupakan kegawatdaruratan urologi onkologi yang memerlukan tata laksana segera.
  • Intensifikasi terapi (ADT + agen hormonal generasi baru dan/atau docetaxel) pada metastasis hormone-sensitive volume tinggi memperbaiki kesintasan.
  • Tata laksana CRPC bersifat sekuensial dan individual, mempertimbangkan terapi sebelumnya, status mutasi, dan profil metastasis.

BAB V β€” PRINSIP TERAPI HORMONAL DAN TERAPI SISTEMIK KANKER GENITALIA PRIA

Bab ini merangkum prinsip lintas-penyakit terapi hormonal dan terapi sistemik yang digunakan pada keganasan genitalia pria yang dibahas dalam buku ini, sebagai pelengkap pembahasan spesifik per penyakit pada Bab II hingga Bab IV.

5.1 Terapi Deprivasi Androgen (ADT) pada Kanker Prostat

ADT bekerja menurunkan kadar testosteron ke tingkat kastrasi (<50 ng/dL) melalui supresi sumbu hipotalamus-hipofisis-gonad, menggunakan agonis atau antagonis GnRH (leuprorelin, goserelin, triptorelin, atau degarelix), atau melalui orkidektomi bilateral sebagai kastrasi bedah10. Agonis GnRH memerlukan anti-androgen pendamping pada inisiasi terapi untuk mencegah fenomena flare akibat lonjakan testosteron sementara, sedangkan antagonis GnRH tidak memerlukan hal tersebut.

Indikasi Klinis

ADT diindikasikan sebagai terapi neoadjuvan/konkuren/adjuvan bersama radioterapi pada risiko sedang-tinggi, sebagai komponen utama tata laksana penyakit metastatik hormone-sensitive, serta pada CRPC sebagai terapi latar belakang yang tetap dilanjutkan meski penyakit telah resisten kastrasi10.

Efek Samping dan Pemantauan

Efek samping ADT jangka panjang meliputi penurunan densitas mineral tulang (osteopenia/osteoporosis), sindrom metabolik (resistensi insulin, dislipidemia, peningkatan massa lemak visceral), penurunan libido dan fungsi seksual, hot flashes, serta peningkatan risiko kardiovaskular yang memerlukan pemantauan dan pengelolaan proaktif bersama sejawat penyakit dalam/kardiologi.

5.2 Agen Hormonal Generasi Baru

Abiraterone asetat menghambat enzim CYP17 yang berperan dalam biosintesis androgen, baik di testis, kelenjar adrenal, maupun jaringan tumor, dan harus dikombinasikan dengan prednison/prednisolon dosis rendah untuk mencegah kelebihan mineralokortikoid10. Enzalutamide, apalutamide, dan darolutamide merupakan antagonis reseptor androgen generasi baru yang bekerja tanpa memerlukan kortikosteroid pendamping. Keempat agen ini memiliki indikasi yang tumpang tindih namun berbeda pada tiap fase penyakit (hormone-sensitive volume tinggi/rendah, CRPC non-metastatik, dan CRPC metastatik) sesuai bukti uji klinis fase III masing-masing10.

5.3 Kemoterapi Sitotoksik

Docetaxel merupakan taxane lini pertama pada kanker prostat metastatik hormone-sensitive volume tinggi dan CRPC metastatik, bekerja menstabilkan mikrotubulus dan menghambat mitosis sel tumor10. Cabazitaxel digunakan sebagai lini kedua pascadocetaxel pada CRPC. Pada tumor sel germinal testis, regimen berbasis cisplatin (BEP, EP) merupakan andalan terapi kuratif, sedangkan regimen salvage seperti TIP digunakan pada kasus refrakter/relaps4. Pada kanker penis metastatik/lokal lanjut, regimen berbasis cisplatin (termasuk TIP) digunakan baik sebagai neoadjuvan maupun paliatif9.

5.4 Terapi Target dan Radiofarmaka

PARP inhibitor (misalnya olaparib) memiliki peran pada CRPC metastatik dengan mutasi gen perbaikan DNA homolog (seperti BRCA1/2), berdasarkan prinsip synthetic lethality10,11. Radium-223 merupakan radiofarmaka pemancar partikel alfa yang digunakan pada CRPC dengan metastasis tulang simtomatik tanpa metastasis viseral, bekerja secara selektif pada mikrolingkungan tulang yang mengalami remodeling akibat metastasis. Radioligand ¹⁷⁷Lu-PSMA-617 merupakan modalitas theranostic yang lebih baru, memberikan radiasi beta-partikel terarah pada sel yang mengekspresikan PSMA; pada studi acak fase III, penambahan ¹⁷⁷Lu-PSMA-617 pada tata laksana standar memperpanjang kesintasan bebas progresi berbasis pencitraan maupun kesintasan keseluruhan pada mCRPC pasca-ARPI dan taxane17. Pemilihan pasien memerlukan konfirmasi ekspresi PSMA melalui PSMA PET/CT.

5.5 Prinsip Umum Pemilihan dan Sekuensing Terapi Sistemik

Pemilihan dan sekuensing terapi sistemik pada keganasan genitalia pria harus mempertimbangkan status performa pasien, komorbiditas, volume dan lokasi penyakit, terapi sebelumnya, ketersediaan pemeriksaan biomarker/mutasi, serta preferensi pasien setelah diskusi pengambilan keputusan bersama (shared decision making). Keputusan idealnya diambil dalam forum tumor board multidisiplin, sejalan dengan prinsip yang ditekankan pada Bab I.

Poin Penting β€” Terapi Hormonal dan Sistemik
  • ADT tetap menjadi dasar terapi sistemik kanker prostat lanjut, dikombinasikan dengan agen hormonal generasi baru dan/atau kemoterapi sesuai fase penyakit.
  • Kemoterapi berbasis cisplatin merupakan andalan kuratif tumor sel germinal testis dan komponen penting tata laksana kanker penis lanjut.
  • Sekuensing terapi sistemik memerlukan pertimbangan multidisiplin dan individual berdasarkan karakteristik pasien dan penyakit.

DAFTAR REFERENSI

1. Wein AJ, Kavoussi LR, Partin AW, Peters CA, editors. Campbell-Walsh-Wein Urology. 12th ed. Philadelphia: Elsevier; 2020.

2. Siegel RL, Kratzer TB, Wagle NS, Sung H, Jemal A. Cancer statistics, 2026. CA Cancer J Clin. 2026;76(1):e70043. doi:10.3322/caac.70043.

3. Konsil Kedokteran Indonesia. Keputusan Konsil Kedokteran Indonesia Nomor 47/KKI/KEP/V/2023 tentang Standar Pendidikan Profesi Dokter Spesialis Urologi Subspesialis Urologi Onkologi. Jakarta: KKI; 2023.

4. Patrikidou A, Cazzaniga W, Oing C, et al. European Association of Urology Guidelines on Testicular Cancer: Summary of the 2026 Guidelines. Eur Urol. 2026 Apr 27. doi:10.1016/j.eururo.2026.03.021. Pedoman lengkap tersedia pada: https://uroweb.org/guidelines/testicular-cancer

5. National Comprehensive Cancer Network. NCCN Clinical Practice Guidelines in Oncology: Testicular Cancer, Version 1.2026. Tersedia pada: https://www.nccn.org/guidelines/guidelines-detail?category=1&id=1468

6. Brierley JD, Gospodarowicz MK, Wittekind C, editors. AJCC Cancer Staging Manual. 8th ed. New York: Springer; 2017. (Edisi ke-8 tetap berlaku untuk kanker testis, penis, dan prostat hingga penerbitan protokol AJCC Version 9 untuk ketiga lokasi ini.)

7. International Germ Cell Cancer Collaborative Group. International Germ Cell Consensus Classification: a prognostic factor-based staging system for metastatic germ cell cancers. J Clin Oncol. 1997;15(2):594–603.

8. EAU Guidelines Panel on Penile Cancer. EAU Guidelines on Penile Cancer. Arnhem: European Association of Urology; 2026 (pembaruan besar dari edisi 2023). Tersedia pada: https://uroweb.org/guidelines/penile-cancer

9. National Comprehensive Cancer Network. NCCN Clinical Practice Guidelines in Oncology: Penile Cancer, Version 2.2026. Tersedia pada: https://www.nccn.org/guidelines/guidelines-detail?id=1456

10. Cornford P, Tilki D, van den Bergh RCN, et al. EAU-EANM-ESTRO-ESUR-ISUP-SIOG Guidelines on Prostate Cancer 2026 (limited update Maret 2026). Arnhem: European Association of Urology; 2026. Tersedia pada: https://uroweb.org/guidelines/prostate-cancer

11. National Comprehensive Cancer Network. NCCN Clinical Practice Guidelines in Oncology: Prostate Cancer, Version 3.2026. Tersedia pada: https://www.nccn.org/guidelines/guidelines-detail?category=1&id=1459

12. Lin DW, Carlsson S, Filson CP, et al. Updates to Early Detection of Prostate Cancer: AUA/SUO Guideline (2026). J Urol. 2026. doi:10.1097/JU.0000000000004995. Tersedia pada: https://www.auanet.org/guidelines-and-quality/guidelines/early-detection-of-prostate-cancer-guideline

13. Epstein JI, Egevad L, Amin MB, Delahunt B, Srigley JR, Humphrey PA; Grading Committee. The 2014 International Society of Urological Pathology (ISUP) Consensus Conference on Gleason Grading of Prostatic Carcinoma. Am J Surg Pathol. 2016;40(2):244–252.

14. D'Amico AV, Whittington R, Malkowicz SB, et al. Biochemical outcome after radical prostatectomy, external beam radiation therapy, or interstitial radiation therapy for clinically localized prostate cancer. JAMA. 1998;280(11):969–974.

15. Umbas R, Hardjowijoto S, Mochtar CA, Safriadi F, Djatisoesanto W, Danarto HR, et al. Panduan Penanganan Kanker Prostat. Jakarta: Ikatan Ahli Urologi Indonesia (IAUI); 2011. Tersedia pada: https://www.iaui.or.id/uploads/guidelines/2011_Panduan_Penanganan_Kanker_Prostat.pdf

16. Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. Pedoman Nasional Pelayanan Kedokteran (PNPK) Tata Laksana Kanker Prostat. Jakarta: Kementerian Kesehatan RI; 2018. Tersedia pada: https://kemkes.go.id/id/pnpk-2018---tata-laksana-kanker-prostat

17. Sartor O, de Bono J, Chi KN, Fizazi K, Herrmann K, Rahbar K, et al; VISION Investigators. Lutetium-177-PSMA-617 for Metastatic Castration-Resistant Prostate Cancer. N Engl J Med. 2021;385(12):1091–1103. doi:10.1056/NEJMoa2107322.

GLOSARIUM

Active surveillance: Strategi pemantauan aktif tanpa terapi definitif segera pada kanker prostat risiko rendah, dengan evaluasi berkala untuk mendeteksi progresi.

ADT (Androgen Deprivation Therapy): Terapi deprivasi androgen yang menurunkan kadar testosteron ke tingkat kastrasi sebagai tata laksana kanker prostat lanjut.

AFP (Alpha-fetoprotein): Marka tumor serum yang meningkat pada tumor yolk sac dan sebagian tumor sel germinal non-seminoma testis.

AJCC: American Joint Committee on Cancer, badan yang menerbitkan sistem stadium kanker TNM yang digunakan secara internasional.

BEP: Regimen kemoterapi kombinasi bleomisin, etoposid, dan cisplatin untuk tumor sel germinal testis.

Brakiterapi: Teknik radioterapi dengan menempatkan sumber radioaktif langsung di dalam atau berdekatan dengan tumor, digunakan pada kanker prostat lokal.

CRPC (Castration-Resistant Prostate Cancer): Kanker prostat yang terus progresif meski kadar testosteron telah mencapai tingkat kastrasi.

Diseksi KGB inguinal: Prosedur bedah pengangkatan kelenjar getah bening inguinal, komponen penting tata laksana kanker penis dengan KGB positif.

Dynamic sentinel node biopsy: Teknik biopsi kelenjar getah bening sentinel pada kanker penis untuk mendeteksi metastasis KGB inguinal subklinis.

Ekstensi ekstranodal: Perluasan sel tumor melampaui kapsul kelenjar getah bening, faktor prognostik buruk pada kanker penis dan keganasan lain.

Fimosis: Ketidakmampuan menarik preputium ke belakang glans penis, merupakan faktor risiko utama kanker penis.

GCNIS (Germ Cell Neoplasia In Situ): Lesi prekursor non-invasif dari sebagian besar tumor sel germinal testis pascapubertas.

Glansektomi: Prosedur bedah pengangkatan sebagian atau seluruh glans penis, salah satu pendekatan organ-sparing pada kanker penis stadium dini.

Grade Group (ISUP): Sistem gradasi histologis kanker prostat 2014 yang mengelompokkan skor Gleason menjadi lima kelompok prognostik.

IGCCCG: International Germ Cell Cancer Collaborative Group, badan yang menetapkan klasifikasi prognostik tumor sel germinal metastatik.

Kastrasi kimiawi: Penurunan kadar testosteron ke tingkat kastrasi melalui agonis/antagonis GnRH, alternatif kastrasi bedah.

Kriptorkismus: Kegagalan turunnya testis ke dalam skrotum selama perkembangan janin, faktor risiko kanker testis.

LDH (Laktat Dehidrogenase): Enzim yang digunakan sebagai salah satu marka tumor serum pada tumor sel germinal testis.

Marka tumor: Zat biokimia yang kadarnya dalam darah berkorelasi dengan keberadaan/aktivitas tumor tertentu.

Nerve-sparing: Teknik bedah yang mempertahankan berkas saraf kavernosa untuk melestarikan fungsi ereksi pada prostatektomi radikal.

Orkidektomi radikal inguinal: Pengangkatan testis beserta funikulus spermatikus melalui insisi inguinal, standar bedah tumor testis dan paratestikular.

Penektomi: Prosedur bedah pengangkatan sebagian (parsial) atau seluruh (total) penis pada kanker penis lanjut.

PSA (Prostate-Specific Antigen): Protein yang diproduksi jaringan prostat, digunakan sebagai biomarker skrining dan pemantauan kanker prostat.

PSMA PET/CT: Modalitas pencitraan fungsional menggunakan pelacak prostate-specific membrane antigen untuk deteksi metastasis kanker prostat.

Radioligand ¹⁷⁷Lu-PSMA-617: Terapi theranostic yang menghantarkan radiasi beta-partikel secara terarah ke sel kanker prostat yang mengekspresikan PSMA, digunakan pada CRPC metastatik pasca-agen hormonal generasi baru dan taxane.

Rhabdomiosarkoma: Sarkoma jaringan lunak yang berasal dari sel otot rangka, subtipe tersering tumor paratestikular ganas pada anak/dewasa muda.

RPLND (Retroperitoneal Lymph Node Dissection): Diseksi kelenjar getah bening retroperitoneal, prosedur bedah pada tata laksana tumor sel germinal testis.

Sindrom growing teratoma: Pembesaran progresif komponen teratoma pascakemoterapi meski marka tumor telah normal, memerlukan reseksi bedah.

TIP: Regimen kemoterapi salvage paclitaxel, ifosfamid, dan cisplatin untuk tumor sel germinal testis refrakter/relaps dan kanker penis lanjut.

TNM: Sistem stadium kanker berbasis penilaian Tumor primer, Node (kelenjar getah bening), dan Metastasis jauh.

Tumor board: Forum diskusi multidisiplin untuk menentukan rencana tata laksana kanker secara kolaboratif.

Ξ²-hCG (Beta-human chorionic gonadotropin): Marka tumor serum yang meningkat pada koriokarsinoma dan sebagian tumor sel germinal testis lainnya.

TENTANG BUKU INI

Buku ini merupakan Buku 3 dari 9 dalam Seri Pendidikan Dokter Spesialis Urologi Subspesialis Urologi Onkologi, yang secara khusus membahas keganasan genitalia pria: kanker testis, tumor paratestikular, kanker penis, dan kanker prostat. Buku ini disusun mengacu pada Keputusan Konsil Kedokteran Indonesia Nomor 47/KKI/KEP/V/2023 dan ditujukan sebagai sumber belajar bagi peserta didik program pendidikan dokter subspesialis urologi onkologi di Indonesia. Pembaca disarankan merujuk pula pada buku lain dalam seri ini yang membahas keganasan saluran kemih (kanker buli, kanker sistem pelviokalises ginjal dan ureter, kanker ginjal, kanker uretra, kanker adrenal, dan sarkoma genitourinaria), serta buku-buku tematik lain mengenai prinsip umum onkologi urologi, keterampilan klinis dan prosedur bedah, dan metodologi riset dalam kurikulum yang sama, sebagai satu kesatuan pembelajaran yang saling melengkapi.