Seri Pendidikan Urologi Onkologi
Buku 1 dari 9 Diaudit Jul 2026
Seri Pendidikan Dokter Spesialis Urologi · Subspesialis Urologi Onkologi

Diagnostik, Stadium, dan Prosedur Diagnostik Kanker Urologi Onkologi

Buku 1 dari 9 — mengacu pada Keputusan Konsil Kedokteran Indonesia Nomor 47/KKI/KEP/V/2023
7 Bab 24 Referensi Terverifikasi 25 Istilah Glosarium 2026
dr. Aldilla Wahyu Ramadian, Sp.U.Penanggung Jawab Proyek Penulisan

Kata Pengantar

Buku Diagnostik, Stadium, dan Prosedur Diagnostik Kanker Urologi Onkologi merupakan buku pertama dari rangkaian sembilan buku ajar yang disusun sebagai materi pendukung Program Pendidikan Dokter Subspesialis Urologi Onkologi, mengacu pada Keputusan Konsil Kedokteran Indonesia (KKI) Nomor 47/KKI/KEP/V/2023 tentang Standar Pendidikan Profesi Dokter Spesialis Urologi Subspesialis Urologi Onkologi1. Keputusan tersebut menetapkan standar kompetensi, standar isi, dan standar proses pendidikan bagi calon dokter subspesialis urologi onkologi di seluruh institusi penyelenggara pendidikan di Indonesia.

Kompetensi diagnostik merupakan fondasi bagi seluruh cabang tata laksana keganasan urologi. Sebelum seorang peserta didik mampu merencanakan pembedahan radikal, terapi sistemik, maupun pendekatan multimodal lainnya, ia harus terlebih dahulu menguasai pendekatan klinis sistematis, interpretasi biomarker dan pencitraan, penerapan sistem stadium TNM yang akurat, serta empat prosedur diagnostik invasif berisiko tinggi sebagaimana diamanatkan pada Lampiran 2 Tabel 8 Nomor 1 sampai dengan 4 Keputusan KKI dimaksud1. Buku ini disusun untuk memenuhi kebutuhan tersebut secara komprehensif.

Penulisan buku ini merujuk pada sumber ilmiah primer yang diakui secara internasional, antara lain Campbell-Walsh-Wein Urology edisi ke-123, AJCC Cancer Staging Manual edisi ke-82, pedoman European Association of Urology (EAU) untuk masing-masing organ4,5,6,7,8,9,10, pedoman National Comprehensive Cancer Network (NCCN)11,12,13,14,15, klasifikasi WHO 2022 untuk tumor sistem urinarius dan genitalia pria16,17, serta pedoman nasional dari Ikatan Ahli Urologi Indonesia (IAUI) dan Pedoman Nasional Pelayanan Kedokteran Kementerian Kesehatan Republik Indonesia22,23.

Setiap topik disusun dengan kerangka yang konsisten dan disertai penanda tingkat kompetensi (Tingkat 1 sampai 4) sesuai Lampiran 1 Tabel 5 dan Lampiran 2 Tabel 7 Keputusan KKI Nomor 47/KKI/KEP/V/2023, sehingga peserta didik dan pembimbing dapat menilai capaian pembelajaran secara objektif dan terstandardisasi1. Semoga buku ini bermanfaat bagi peserta didik, dosen pembimbing klinik, dan seluruh pemangku kepentingan pendidikan subspesialis urologi onkologi di Indonesia.

Jakarta, 2026

Tim Penyusun Seri Pendidikan Dokter Subspesialis Urologi Onkologi

Daftar Isi

Navigasi lengkap tersedia pada panel sisi kiri (atau menu di perangkat mobile).

BAB I — Pendahuluan Diagnostik Kanker Urologi Onkologi

Diagnosis yang akurat dan tepat waktu merupakan penentu utama keberhasilan tata laksana kanker urologi. Bab ini menguraikan kerangka pikir menyeluruh yang akan digunakan sepanjang buku, mulai dari pendekatan klinis awal, pemeriksaan penunjang laboratorium dan pencitraan, penerapan sistem stadium, hingga prosedur diagnostik invasif yang menjadi kompetensi inti dokter subspesialis urologi onkologi.

Beban keganasan traktus urinarius dan genitalia pria di Indonesia terus meningkat sejalan dengan peningkatan usia harapan hidup dan perbaikan akses layanan kesehatan. Kanker prostat, kanker buli, karsinoma sel ginjal, kanker testis, dan kanker penis masing-masing memiliki karakteristik epidemiologis, biologis, dan klinis yang berbeda, sehingga memerlukan alur diagnostik yang disesuaikan namun tetap berpijak pada prinsip dasar yang sama: anamnesis dan pemeriksaan fisik yang cermat, pemilihan pemeriksaan penunjang yang rasional berbasis bukti, serta interpretasi hasil secara terintegrasi3.

Peserta didik Program Pendidikan Dokter Subspesialis Urologi Onkologi diharapkan mencapai tingkat kompetensi tertinggi (Tingkat 4) pada sebagian besar topik diagnostik yang dibahas dalam buku ini, yaitu mampu membuat diagnosis klinik dan merencanakan penatalaksanaan penyakit secara mandiri dan tuntas, sesuai definisi tingkat kompetensi pada Lampiran 1 Tabel 5 Keputusan KKI Nomor 47/KKI/KEP/V/20231.

Poin Penting

• Pendekatan diagnostik pada onkologi urologi bersifat multimodal: klinis, laboratorium, pencitraan, histopatologi, dan molekuler.

• Sistem stadium TNM AJCC/UICC adalah bahasa bersama yang menghubungkan diagnosis dengan keputusan tata laksana; per pertengahan 2026, sebagian besar organ urologi masih menggunakan edisi ke-8 (2017) sementara transisi bertahap ke edisi ke-9 (UICC, 2025) telah dimulai — lihat Bab V.

• Empat prosedur diagnostik invasif berisiko tinggi (biopsi ginjal, biopsi tumor saluran kemih per endoskopi, biopsi prostat, dan biopsi tumor genitalia pria) merupakan kompetensi wajib Tingkat 4 bagi lulusan subspesialis urologi onkologi1.

Kaitan dengan Buku Lain dalam Seri

Materi pada buku ini menjadi prasyarat konseptual bagi Buku Tematik 2 hingga 6 dalam seri yang membahas tata laksana spesifik per organ (kanker buli, karsinoma sel ginjal, kanker prostat, kanker testis dan penis, serta kondisi onkologi urologi kompleks dan pediatrik). Tanpa penguasaan diagnostik dan stadium yang tepat sebagaimana diuraikan di sini, perencanaan tata laksana pada buku-buku berikutnya tidak dapat dilakukan secara rasional.

BAB II — Pendekatan Klinis Sistematis Pasien Keganasan Urologi

Pendekatan klinis yang sistematis menjadi titik tolak seluruh alur diagnostik onkologi urologi. Bab ini membahas anamnesis terarah, pemeriksaan fisik yang relevan, serta pengenalan tanda bahaya (red flags) yang menuntut tindakan segera.

2.1 Anamnesis dan Faktor Risiko Onkologi Urologi

Anamnesis pada pasien dengan kecurigaan keganasan urologi diarahkan untuk menggali gejala kardinal serta faktor risiko yang telah terbukti berhubungan dengan masing-masing jenis kanker. Hematuria tanpa nyeri merupakan gejala kardinal kanker buli dan karsinoma sel urotelial saluran kemih atas, sementara nyeri pinggang, massa abdomen teraba, dan hematuria membentuk trias klasik karsinoma sel ginjal meskipun kini jarang ditemukan lengkap karena diagnosis dini insidental3. Gejala saluran kemih bawah yang memburuk progresif, nyeri tulang, dan penurunan berat badan tanpa sebab jelas mengarah pada kecurigaan kanker prostat lanjut7.

Faktor risiko yang wajib digali meliputi riwayat merokok (faktor risiko utama kanker buli dan berkontribusi pada karsinoma sel ginjal), paparan pekerjaan terhadap amina aromatik dan senyawa kimia industri, riwayat radioterapi pelvis sebelumnya, infeksi Schistosoma haematobium pada karsinoma sel skuamosa buli di daerah endemis, riwayat keluarga kanker prostat dan sindrom herediter (mutasi BRCA2, Lynch syndrome), riwayat kriptorkismus pada kanker testis, serta status fimosis dan infeksi human papillomavirus (HPV) pada kanker penis3,7,8,9.

2.2 Pemeriksaan Fisik dan Tanda Klinis Kunci

Pemeriksaan fisik pada kecurigaan keganasan urologi mencakup pemeriksaan abdomen untuk mendeteksi massa ginjal atau buli yang teraba, colok dubur (digital rectal examination) untuk menilai konsistensi, asimetri, dan nodul prostat, pemeriksaan genitalia eksterna untuk menilai massa testis (padat, tidak nyeri, tidak tembus cahaya pada transiluminasi merupakan tanda klasik tumor testis), serta inspeksi cermat glans dan preputium untuk lesi kanker penis8,9. Pemeriksaan kelenjar getah bening inguinal wajib dilakukan pada setiap kecurigaan kanker penis karena status kelenjar getah bening merupakan penentu prognosis utama9.

Organ Temuan Klinis Kunci Tingkat Kompetensi
Buli Hematuria makroskopik tanpa nyeri, iritatif berkemih 4
Ginjal Massa pinggang, hematuria, nyeri pinggang 4
Prostat Nodul keras pada colok dubur, LUTS progresif 4
Testis Massa testis padat tidak nyeri 4
Penis Lesi ulseratif/eksofitik glans, limfadenopati inguinal 4

2.3 Pengenalan Red Flags dan Kegawatdaruratan Onkologi Urologi

Beberapa kondisi menuntut kewaspadaan tinggi dan penanganan segera: hematuria masif dengan gumpalan darah yang menyebabkan retensi urin akibat bekuan (clot retention), obstruksi ureter bilateral oleh massa panggul yang menyebabkan cedera ginjal akut pascarenal, kompresi medula spinalis akibat metastasis vertebra pada kanker prostat lanjut, sindrom vena kava superior atau sindrom lisis tumor pada kanker testis dengan beban tumor besar, serta syok hemoragik akibat ruptur tumor ginjal spontan3. Lulusan dokter subspesialis urologi harus mampu mengenali kondisi gawat darurat ini, memberikan tata laksana awal penyelamatan nyawa, dan menentukan rujukan yang tepat, sesuai Tingkat Kompetensi 3B dan 4 pada Lampiran 1 Tabel 5 Keputusan KKI Nomor 47/KKI/KEP/V/20231.

Ringkasan Klinis

Pendekatan klinis sistematis — anamnesis terarah, pemeriksaan fisik fokal, dan pengenalan red flags — tetap menjadi langkah pertama yang tidak tergantikan oleh kecanggihan pencitraan maupun biomarker, karena menentukan kecepatan dan ketepatan alur diagnostik selanjutnya.

BAB III — Diagnostik Laboratorium dan Biomarker

Pemeriksaan laboratorium dan biomarker tumor melengkapi temuan klinis dan menjadi dasar objektif untuk konfirmasi kecurigaan diagnosis, stratifikasi risiko, serta pemantauan respons terapi.

3.1 Pemeriksaan Darah Rutin dan Fungsi Ginjal

Pemeriksaan darah perifer lengkap, ureum, kreatinin, dan laju filtrasi glomerulus (LFG) estimasi merupakan pemeriksaan dasar wajib sebelum tindakan diagnostik invasif maupun terapi definitif, karena fungsi ginjal memengaruhi pemilihan modalitas pencitraan (penggunaan kontras iodin atau gadolinium) dan strategi bedah (nefrektomi radikal versus parsial)6. Anemia dapat mengindikasikan penyakit lanjut atau kehilangan darah kronis akibat hematuria, sedangkan polisitemia dapat menyertai karsinoma sel ginjal akibat produksi eritropoietin ektopik3. Hiperkalsemia harus dievaluasi pada kanker prostat dan karsinoma sel ginjal karena dapat mencerminkan metastasis tulang atau sekresi peptida terkait hormon paratiroid3.

3.2 Biomarker Tumor (PSA, AFP, β-hCG, LDH)

Prostate-specific antigen (PSA) merupakan biomarker kunci pada evaluasi kanker prostat; peningkatan kadar PSA, kecepatan peningkatan PSA (PSA velocity), dan densitas PSA digunakan bersama temuan colok dubur dan pencitraan multiparametrik untuk menentukan indikasi biopsi prostat7,13. Pada tumor sel germinal testis, triad biomarker alfa-fetoprotein (AFP), beta human chorionic gonadotropin (β-hCG), dan laktat dehidrogenase (LDH) wajib diperiksa sebelum orkidektomi radikal karena berperan dalam klasifikasi histologis, stadium, stratifikasi risiko International Germ Cell Cancer Collaborative Group (IGCCCG), serta pemantauan respons kemoterapi8,14. AFP tidak pernah meningkat pada seminoma murni, sehingga peningkatan AFP pada tumor dengan histologi seminoma murni mengindikasikan komponen non-seminoma tersembunyi yang mengubah tata laksana8.

Biomarker Organ Target Kegunaan Utama
PSA Prostat Skrining terarah, pemantauan pasca-terapi
AFP Testis (tumor non-seminoma) Diagnosis, stadium, respons terapi
β-hCG Testis (seminoma & non-seminoma) Diagnosis, stadium, respons terapi
LDH Testis Penanda beban tumor, stratifikasi IGCCCG

3.3 Sitologi Urin dan Marker Molekuler Kanker Buli

Sitologi urin memiliki sensitivitas tinggi untuk mendeteksi karsinoma urotelial derajat tinggi dan karsinoma in situ, meskipun sensitivitasnya rendah untuk tumor derajat rendah5. Marker molekuler berbasis urin generasi terbaru — termasuk uji berbasis FISH, mRNA, dan metilasi DNA — telah dikembangkan untuk meningkatkan deteksi dini dan pemantauan rekurensi kanker buli non-invasif otot, namun penggunaannya di Indonesia masih terbatas pada pusat rujukan tersier dan belum menggantikan sistoskopi sebagai baku emas surveilans5,18.

3.4 Histopatologi dan Imunohistokimia

Konfirmasi histopatologis tetap menjadi baku emas diagnosis keganasan urologi. Klasifikasi WHO 2022 memperbarui kriteria histologis dan sistem gradasi untuk tumor ginjal, prostat, kandung kemih, testis, dan penis, termasuk penerapan Grade Group pada adenokarsinoma prostat dan subtipe histologis baru karsinoma sel ginjal16,17. Pewarnaan imunohistokimia (misalnya PAX8 dan CD10 untuk tumor ginjal, OCT3/4 dan SALL4 untuk tumor sel germinal, GATA3 untuk karsinoma urotelial) digunakan untuk konfirmasi lineage pada kasus histologi ambigu atau metastasis dengan tumor primer tidak diketahui3.

Poin Penting

• Biomarker tumor (PSA, AFP, β-hCG, LDH) wajib diinterpretasikan bersama temuan klinis dan pencitraan, tidak berdiri sendiri sebagai alat diagnostik tunggal.

• Histopatologi berbasis klasifikasi WHO 2022 tetap menjadi baku emas konfirmasi diagnosis keganasan urologi16,17.

BAB IV — Diagnostik Pencitraan

Pencitraan berperan sentral dalam deteksi, karakterisasi, dan penentuan stadium keganasan urologi. Pemilihan modalitas harus mempertimbangkan akurasi diagnostik, ketersediaan, biaya, serta profil keamanan radiasi dan kontras.

4.1 Ultrasonografi pada Keganasan Saluran Kemih dan Genitalia

Ultrasonografi (USG) transabdominal merupakan modalitas lini pertama yang murah dan tersedia luas untuk evaluasi awal massa ginjal, hidronefrosis, dan massa buli, meskipun sensitivitasnya terbatas untuk lesi buli kecil dan karsinoma in situ19. USG skrotum resolusi tinggi merupakan modalitas wajib dan sangat akurat untuk karakterisasi massa testis, membedakan lesi intratestikular (curiga ganas) dari ekstratestikular (umumnya jinak)8,14. USG transrektal digunakan untuk memandu biopsi prostat sistematis dan sebagai panduan real-time pada biopsi fusi.

4.2 CT-Scan dan Urografi CT

Computed tomography (CT) multifase dengan dan tanpa kontras merupakan modalitas utama karakterisasi massa ginjal (protokol CT tanpa kontras, fase kortikomedular, fase nefrografik, dan fase ekskresi), penilaian invasi vena renalis/vena kava inferior, serta deteksi metastasis toraks dan abdomen6,20. Urografi CT (CT urography) merupakan modalitas pilihan untuk evaluasi hematuria dan kecurigaan karsinoma urotelial saluran kemih atas karena memberikan visualisasi seluruh traktus urinarius dalam satu pemeriksaan10,19. CT toraks-abdomen-pelvis merupakan komponen standar stadium pada kanker buli invasif otot, karsinoma sel ginjal, dan tumor sel germinal testis lanjut4,6,8.

4.3 MRI Multiparametrik Prostat dan Ginjal

MRI multiparametrik prostat (mpMRI), yang menggabungkan sekuens T2-weighted, difusi terbatas (diffusion-weighted imaging), dan kontras dinamik, telah menjadi standar pemeriksaan pra-biopsi untuk mendeteksi lesi curiga klinis signifikan serta memandu biopsi target/fusi, dengan pelaporan menggunakan sistem Prostate Imaging Reporting and Data System (PI-RADS)7,13,21. MRI abdomen merupakan alternatif pada pasien dengan kontraindikasi kontras iodin atau kebutuhan karakterisasi lesi ginjal kompleks (klasifikasi Bosniak) dan penilaian trombus tumor vena kava inferior secara lebih presisi dibandingkan CT6,20.

4.4 Kedokteran Nuklir dan PET-CT dalam Stadium Kanker Urologi

Bone scan (skintigrafi tulang) digunakan untuk deteksi metastasis tulang pada kanker prostat risiko tinggi dan bergejala, meskipun modalitas PET berbasis Prostate-Specific Membrane Antigen (PSMA PET-CT) kini menunjukkan akurasi lebih tinggi untuk stadium awal dan deteksi rekurensi biokimia, dan mulai diadopsi secara bertahap sesuai ketersediaan fasilitas7. FDG PET-CT memiliki peran terbatas pada kanker prostat namun bermanfaat pada evaluasi rekurensi tumor sel germinal testis pascakemoterapi dengan massa residu di atas 3 cm untuk membedakan jaringan viabel dari fibrosis/nekrosis8. Kedokteran nuklir tidak menjadi modalitas lini pertama secara rutin pada kanker buli dan penis, namun tetap dipertimbangkan secara selektif berdasarkan indikasi klinis4,9.

Modalitas Indikasi Utama Keterangan
USG abdomen/skrotum Deteksi awal massa ginjal/buli, karakterisasi massa testis Lini pertama, tanpa radiasi
CT urografi Hematuria, kecurigaan karsinoma urotelial saluran atas Standar evaluasi hematuria
CT toraks-abdomen-pelvis Stadium sistemik kanker buli/ginjal/testis Deteksi metastasis
mpMRI prostat (PI-RADS) Deteksi lesi signifikan pra-biopsi prostat Memandu biopsi target/fusi
Bone scan / PSMA PET-CT Deteksi metastasis tulang kanker prostat PSMA PET-CT: akurasi lebih tinggi
FDG PET-CT Evaluasi massa residu tumor testis pascakemoterapi Ambang keputusan >3 cm

Referensi Kunci

ACR Appropriateness Criteria menyediakan panduan berbasis bukti mengenai pemilihan modalitas pencitraan yang paling tepat untuk setiap skenario klinis, termasuk evaluasi hematuria dan stadium karsinoma sel ginjal19,20.

BAB V — Sistem Stadium (Staging) Kanker Urologi Onkologi

Penentuan stadium yang akurat merupakan jembatan antara diagnosis dan keputusan tata laksana. Bab ini membahas prinsip umum sistem TNM AJCC/UICC—termasuk transisi edisi ke-8 menuju edisi ke-9 yang sedang berlangsung—serta stratifikasi risiko spesifik per organ.

5.1 Sistem TNM AJCC/UICC

Sistem Tumor-Node-Metastasis (TNM) yang diterbitkan bersama oleh American Joint Committee on Cancer (AJCC) dan Union for International Cancer Control (UICC) merupakan bahasa universal untuk menggambarkan luas anatomis tumor primer (T), keterlibatan kelenjar getah bening regional (N), dan ada tidaknya metastasis jauh (M)2. Edisi ke-8 (berlaku sejak 2018) memperkenalkan sejumlah perubahan penting dibandingkan edisi ke-7 pada kanker urologi, antara lain penyederhanaan subklasifikasi T2 pada kanker prostat, revisi kriteria stadium pada kanker testis dan penis, serta penyesuaian kelompok prognostik yang mengintegrasikan faktor non-anatomis seperti kadar PSA, Grade Group, dan kadar biomarker tumor testis2.

Pembaca perlu mencermati bahwa UICC telah menerbitkan TNM Classification of Malignant Tumours edisi ke-9 pada tahun 2025, direkomendasikan berlaku efektif mulai 1 Januari 202624. Transisi ini bersifat bertahap per organ: pedoman EAU 2026 untuk kanker testis, misalnya, telah secara eksplisit mengadopsi TNM edisi ke-9 (UICC, 2025) sebagai rujukan stadium terkini8, sedangkan sebagian besar organ urologi lain (buli, ginjal, prostat, dan penis) hingga pertengahan tahun 2026 masih secara luas menggunakan kriteria AJCC/UICC edisi ke-8 (2017) karena pembaruan spesifik-organ dari AJCC Version 9 belum mencakup seluruh kanker urologi2,24. Dokter subspesialis urologi onkologi wajib memantau organ mana yang telah bertransisi ke edisi ke-9 dan menyesuaikan pelaporan stadium serta pendaftaran kanker sesuai edisi yang berlaku untuk organ bersangkutan2,3,24.

5.2 Stratifikasi Risiko pada Kanker Buli, Ginjal, Prostat, Testis, dan Penis

Selain stadium anatomis TNM, setiap organ memiliki sistem stratifikasi risiko tambahan yang memandu intensitas tata laksana dan surveilans.

Kanker Buli

Pada kanker buli non-invasif otot, EAU membagi risiko rekurensi dan progresi menjadi kelompok risiko rendah, menengah, tinggi, dan sangat tinggi berdasarkan jumlah tumor, ukuran, derajat, ada tidaknya karsinoma in situ, dan riwayat rekurensi, yang menentukan kebutuhan terapi intravesikal adjuvan5,18.

Karsinoma Sel Ginjal

Stadium anatomis TNM dilengkapi dengan sistem prognostik seperti International Metastatic RCC Database Consortium (IMDC) untuk penyakit metastatik, yang mengklasifikasikan pasien ke dalam kelompok risiko baik, menengah, dan buruk berdasarkan faktor klinis dan laboratorium6.

Kanker Prostat

Kelompok risiko NCCN/EAU (risiko sangat rendah hingga sangat tinggi) mengintegrasikan kadar PSA, stadium klinis T, dan Grade Group untuk memandu pilihan surveilans aktif, terapi lokal, atau terapi multimodal7,13.

Kanker Testis dan Kanker Penis

Stratifikasi risiko IGCCCG pada tumor sel germinal metastatik menggunakan histologi, lokasi tumor primer, lokasi metastasis, dan kadar AFP/β-hCG/LDH untuk membagi risiko baik, menengah, dan buruk yang menentukan intensitas kemoterapi8. Pada kanker penis, status dan jumlah kelenjar getah bening inguinal merupakan determinan prognostik terkuat, sehingga penilaian nodal yang akurat—termasuk pertimbangan biopsi kelenjar sentinel pada kasus klinis N0 berisiko tinggi—menjadi bagian integral stadium9.

Organ Sistem Stadium Utama Stratifikasi Risiko Tambahan
Buli TNM AJCC ed.8 Risiko EAU (NMIBC): rendah–sangat tinggi
Ginjal TNM AJCC ed.8 IMDC (penyakit metastatik)
Prostat TNM AJCC ed.8 + Grade Group Kelompok risiko NCCN/EAU
Testis TNM-S (S = biomarker), edisi ke-9 (UICC 2025) IGCCCG (baik/menengah/buruk)
Penis TNM AJCC ed.8 Status KGB inguinal

Catatan: kolom “Sistem Stadium Utama” mencerminkan status per pertengahan 2026 — buli, ginjal, prostat, dan penis masih menggunakan AJCC/UICC edisi ke-8 (2017), sedangkan testis telah bertransisi ke edisi ke-9 (UICC, 2025) mengikuti pembaruan pedoman EAU 20262,8,24. Pembaca disarankan mengecek edisi terkini pada organ terkait secara berkala.

Poin Penting

Stadium TNM menjawab pertanyaan "seberapa luas kanker ini secara anatomis", sedangkan stratifikasi risiko menjawab "seberapa agresif perilaku biologis kanker ini". Kedua informasi ini harus digabungkan untuk menghasilkan keputusan tata laksana yang optimal3.

BAB VI — Prosedur Invasif untuk Diagnosis

Bab ini membahas empat prosedur diagnostik invasif yang tercantum dalam Lampiran 2 Tabel 8 Nomor 1 sampai dengan 4 Keputusan KKI Nomor 47/KKI/KEP/V/2023, seluruhnya menjadi kompetensi Tingkat 4 (mampu melakukan secara mandiri) bagi lulusan dokter subspesialis urologi onkologi1. Setiap prosedur diuraikan mencakup indikasi, kontraindikasi, teknik, komplikasi, dan penatalaksanaan komplikasi terkait mengingat seluruh prosedur ini dikategorikan "dengan komplikasi dan/atau risiko tinggi" pada standar kompetensi tersebut.

6.1 Biopsi Ginjal/Tumor Ginjal dengan Komplikasi dan/atau Risiko Tinggi

Biopsi ginjal perkutan dengan tuntunan pencitraan (USG atau CT) diindikasikan pada massa ginjal kecil yang ambigu secara radiologis, kecurigaan limfoma atau metastasis ke ginjal, kecurigaan infeksi/inflamasi ginjal atipikal, serta pada pasien yang menjadi kandidat terapi ablatif atau pengawasan aktif yang memerlukan konfirmasi histologis sebelum keputusan tata laksana6,20. Kontraindikasi relatif meliputi koagulopati tidak terkoreksi, hipertensi tidak terkontrol berat, dan ginjal soliter fungsional pada kasus tertentu yang memerlukan pertimbangan risiko-manfaat cermat. Komplikasi utama meliputi hematoma perirenal, hematuria, fistula arteriovenosa, dan—meskipun sangat jarang—penyemaian sel tumor sepanjang jalur jarum (tract seeding), yang harus diwaspadai dan dikelola dengan observasi ketat, transfusi bila diperlukan, dan embolisasi angiografik pada perdarahan bermakna6. Tingkat kompetensi: 4.

6.2 Biopsi Tumor Saluran Kemih per Endoskopi (termasuk Barbotage) dengan Komplikasi dan/atau Risiko Tinggi

Reseksi transuretra tumor buli (TURBT) dengan biopsi dan sitologi barbotage merupakan prosedur diagnostik sekaligus terapeutik pada kanker buli non-invasif otot, bertujuan memperoleh jaringan yang cukup termasuk lapisan otot detrusor untuk penentuan stadium T yang akurat5,18. Biopsi tumor saluran kemih atas per endoskopi (ureterorenoskopi) dengan atau tanpa barbotage sitologi diindikasikan pada kecurigaan karsinoma urotelial saluran kemih atas berdasarkan urografi CT atau sitologi positif dengan pencitraan tidak konklusif10. Komplikasi meliputi perforasi buli atau ureter, perdarahan, striktur ureter pascatindakan, dan reaksi terhadap anestesi; komplikasi berisiko tinggi seperti perforasi ekstraperitoneal memerlukan kateterisasi berkepanjangan, sedangkan perforasi intraperitoneal dapat memerlukan eksplorasi bedah5,10. Tingkat kompetensi: 4.

6.3 Biopsi Prostat dengan Komplikasi dan/atau Risiko Tinggi

Biopsi prostat sistematis 10–12 titik dengan tuntunan USG transrektal, idealnya digabung dengan biopsi target berbasis fusi gambar mpMRI/USG pada lesi PI-RADS ≥3, merupakan standar baku untuk konfirmasi histologis kanker prostat7,13,21. Profilaksis antibiotik dan persiapan rektal yang tepat penting untuk menurunkan risiko sepsis pascabiopsi, salah satu komplikasi paling serius yang dapat mengancam nyawa dan memerlukan rawat inap dengan antibiotik intravena spektrum luas segera7. Komplikasi lain meliputi hematuria, hematospermia, dan retensi urin akut. Pendekatan transperineal semakin direkomendasikan pada kasus berisiko tinggi infeksi karena menurunkan risiko sepsis dibandingkan pendekatan transrektal7. Tingkat kompetensi: 4.

6.4 Biopsi Tumor Genitalia Pria dengan Komplikasi dan/atau Risiko Tinggi

Biopsi insisional atau eksisional pada lesi penis dilakukan untuk konfirmasi histologis sebelum menentukan luas eksisi definitif, terutama pada lesi meragukan antara kondisi jinak (misalnya balanitis kronik, liken sklerosus) dan keganasan awal, atau untuk menentukan kedalaman invasi pada lesi kecil yang menjadi kandidat terapi hemat organ (organ-sparing)9. Pada tumor testis, prinsip diagnostik berbeda: biopsi perkutan langsung pada massa intratestikular yang dicurigai ganas umumnya dihindari karena risiko penyemaian sel tumor sepanjang jalur biopsi dan gangguan integritas kantong skrotum yang mengubah jalur limfatik; pendekatan baku adalah eksplorasi inguinal dengan kontrol vaskular dini dan orkidektomi radikal inguinal atau, pada kasus terpilih dengan kecurigaan rendah, biopsi eksisional intraoperatif dengan potong beku8,14. Komplikasi meliputi hematoma skrotum/penis, infeksi luka, dan pada kasus jarang, gangguan fungsi seksual pascatindakan hemat organ yang tidak adekuat. Tingkat kompetensi: 4.

Poin Penting

Keempat prosedur di atas dikategorikan "dengan komplikasi dan/atau risiko tinggi" pada Lampiran 2 Tabel 8 Keputusan KKI Nomor 47/KKI/KEP/V/2023, sehingga peserta didik wajib menguasai bukan hanya teknik pelaksanaan, tetapi juga deteksi dini dan penatalaksanaan mandiri terhadap seluruh komplikasi yang mungkin timbul1.

BAB VII — Interpretasi Diagnostik Terintegrasi pada Kasus Kompleks

Pada praktik klinis nyata, informasi klinis, laboratorium, pencitraan, dan histopatologi jarang memberikan jawaban tunggal yang sederhana. Bab penutup ini membahas prinsip integrasi diagnostik pada situasi kompleks yang sering dihadapi dokter subspesialis urologi onkologi.

Diskordansi antara temuan klinis dan pencitraan — misalnya kecurigaan klinis tinggi terhadap kanker prostat dengan mpMRI negatif (PI-RADS 1–2) — memerlukan penilaian ulang faktor risiko individual (riwayat keluarga, ras, kadar PSA density) sebelum memutuskan untuk tetap melakukan biopsi sistematis atau melakukan pemantauan ketat7. Demikian pula, massa ginjal kompleks (Bosniak IIF–III) menuntut algoritma pengawasan pencitraan berjenjang atau reseksi diagnostik-terapeutik langsung tergantung kondisi klinis pasien dan preferensi setelah diskusi bersama6.

Pada kasus tumor sel germinal testis dengan massa residu pascakemoterapi, keputusan reseksi bedah residu (post-chemotherapy retroperitoneal lymph node dissection) bergantung pada ukuran residu, jenis histologi awal (seminoma versus non-seminoma), dan hasil FDG PET-CT, yang mencerminkan bagaimana data multimoda harus disintesis menjadi satu keputusan tata laksana yang koheren8. Pada kanker buli dengan sitologi urin positif namun sistoskopi dan pencitraan tidak menunjukkan lesi jelas (upper tract occult), pencarian sumber di saluran kemih atas melalui ureteroskopi diagnostik dan barbotage menjadi langkah wajib berikutnya5,10.

Prinsip umum yang harus dipegang oleh dokter subspesialis urologi onkologi adalah: tidak ada satu pun pemeriksaan tunggal yang bersifat absolut; setiap hasil harus ditempatkan dalam konteks probabilitas pra-tes, dikonfirmasi silang dengan modalitas lain bila terdapat keraguan, dan didiskusikan dalam forum multidisiplin (tumor board) pada kasus dengan kompleksitas tinggi sebelum keputusan tata laksana final ditetapkan3. Kemampuan mensintesis data yang tampak bertentangan menjadi rencana tata laksana yang rasional merupakan penanda kematangan klinis Tingkat Kompetensi 4 yang menjadi capaian akhir buku ini1.

Ringkasan Klinis

Interpretasi diagnostik terintegrasi menuntut sintesis aktif, bukan sekadar akumulasi data. Forum multidisiplin (tumor board) direkomendasikan untuk seluruh kasus kompleks atau diskordan sebelum keputusan tata laksana ditetapkan.

Daftar Referensi

1. Konsil Kedokteran Indonesia. Keputusan Konsil Kedokteran Indonesia Nomor 47/KKI/KEP/V/2023 tentang Standar Pendidikan Profesi Dokter Spesialis Urologi Subspesialis Urologi Onkologi. Jakarta: KKI; 2023.

2. Amin MB, Edge SB, Greene FL, et al., editors. AJCC Cancer Staging Manual. 8th ed. New York: Springer; 2017.

3. Wein AJ, Kavoussi LR, Partin AW, Peters CA, editors. Campbell-Walsh-Wein Urology. 12th ed. Philadelphia: Elsevier; 2020.

4. Witjes JA, Bruins HM, Carrión A, et al. European Association of Urology Guidelines on Muscle-invasive and Metastatic Bladder Cancer: Summary of the 2023 Guidelines. Eur Urol. 2024;85(1):17-31. doi:10.1016/j.eururo.2023.08.016. Tersedia di: https://uroweb.org/guidelines/bladder-cancer-muscle-invasive-and-metastatic

5. Babjuk M, Compérat EM, Escrig JLD, et al. European Association of Urology Guidelines on Non-muscle-invasive Bladder Cancer (TaT1 and Carcinoma In Situ): Summary of the 2024 Guidelines Update. Eur Urol. 2024. Pembaruan terakhir: Maret 2025. Tersedia di: https://uroweb.org/guidelines/non-muscle-invasive-bladder-cancer

6. European Association of Urology Guidelines on Renal Cell Carcinoma: The 2025 Update. Eur Urol. 2025. Tersedia di: https://uroweb.org/guidelines/renal-cell-carcinoma

7. Tilki D, van den Bergh RCN, Briers E, et al. EAU-EANM-ESTRO-ESUR-ISUP-SIOG Guidelines on Prostate Cancer — 2026 Update, Part I dan Part II. Eur Urol. 2026. Tersedia di: https://uroweb.org/guidelines/prostate-cancer

8. European Association of Urology Guidelines on Testicular Cancer: Summary of the 2026 Guidelines. Eur Urol. 2026. PMID: 42049597. Tersedia di: https://uroweb.org/guidelines/testicular-cancer

9. European Association of Urology. EAU Guidelines on Penile Cancer — pembaruan menyeluruh 2026 (revisi lengkap edisi 2023). Arnhem: EAU Guidelines Office; 2026. Tersedia di: https://uroweb.org/guidelines/penile-cancer

10. European Association of Urology. EAU Guidelines on Upper Urinary Tract Urothelial Cell Carcinoma (pembaruan terbatas 2023/2024 dari edisi 2022). Arnhem: EAU Guidelines Office. Tersedia di: https://uroweb.org/guidelines/upper-urinary-tract-urothelial-cell-carcinoma

11. Flaig TW, Spiess PE, Abern M, et al. NCCN Guidelines Insights: Bladder Cancer, Version 3.2024. J Natl Compr Canc Netw. 2024;22(4):216-225. PMID: 38754471.

12. National Comprehensive Cancer Network. NCCN Clinical Practice Guidelines in Oncology: Kidney Cancer, Version 1.2027. Plymouth Meeting: NCCN; 2026. Tersedia di: https://www.nccn.org/guidelines/category_1

13. National Comprehensive Cancer Network. NCCN Clinical Practice Guidelines in Oncology: Prostate Cancer, Version 6.2026. Plymouth Meeting: NCCN; 2026. Tersedia di: https://www.nccn.org/guidelines/category_1

14. National Comprehensive Cancer Network. NCCN Clinical Practice Guidelines in Oncology: Testicular Cancer, Version 2.2026. Plymouth Meeting: NCCN; 2026. Tersedia di: https://www.nccn.org/guidelines/category_1

15. National Comprehensive Cancer Network. NCCN Clinical Practice Guidelines in Oncology: Penile Cancer, Version 2.2026. Plymouth Meeting: NCCN; 2026. Tersedia di: https://www.nccn.org/guidelines/category_1

16. Netto GJ, Amin MB, Berney DM, et al. The 2022 World Health Organization Classification of Tumours of the Urinary System and Male Genital Organs—Part A: Renal, Penile, and Testicular Tumours. Eur Urol. 2022;82(5):459-468.

17. Netto GJ, Amin MB, Berney DM, et al. The 2022 World Health Organization Classification of Tumours of the Urinary System and Male Genital Organs—Part B: Prostate and Urinary Tract Tumours. Eur Urol. 2022;82(5):469-482.

18. Chang SS, Boorjian SA, Chou R, et al. Diagnosis and Treatment of Non-Muscle Invasive Bladder Cancer: AUA/SUO Guideline. J Urol. 2016;196(4):1021-1029 (diperbarui 2020).

19. Wolfman DJ, Marko J, Nikolaidis P, et al. ACR Appropriateness Criteria® Hematuria. J Am Coll Radiol. 2020;17(5S):S138-S147. doi:10.1016/j.jacr.2020.01.028.

20. Vikram R, Beland MD, Blaufox MD, et al. ACR Appropriateness Criteria® Staging of Renal Cell Carcinoma. J Am Coll Radiol. 2016;13(5):518-525 (revisi 2022).

21. Expert Panel on Urological Imaging; Akin O, Woo S, Oto A, et al. ACR Appropriateness Criteria® Pretreatment Detection, Surveillance, and Staging of Prostate Cancer: 2022 Update. J Am Coll Radiol. 2023;20(5S):S187-S210. doi:10.1016/j.jacr.2023.02.010.

22. Ikatan Ahli Urologi Indonesia (IAUI). Panduan Penanganan Kanker Prostat 2022. Jakarta: IAUI; 2022. Tersedia di: https://iaui.or.id/uploads/guidelines/Panduan_Penanganan_Kanker_Prostat_2022_Final.pdf — serta Panduan Penanganan Kanker Kandung Kemih Tipe Urotelial (draf revisi 2024). Tersedia di: https://iaui.or.id/guidelines/oncology

23. Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. Pedoman Nasional Pelayanan Kedokteran (PNPK) Tata Laksana Kanker Prostat. Jakarta: Kemenkes RI; 2018. Tersedia di: https://kemkes.go.id/id/pnpk-2018---tata-laksana-kanker-prostat (Catatan: hingga saat penyusunan buku ini, PNPK Kemenkes RI khusus untuk kanker buli dan karsinoma sel ginjal belum ditemukan tersedia secara resmi; pembaca disarankan merujuk pedoman IAUI dan EAU/NCCN untuk kedua organ tersebut).

24. Brierley JD, Giuliani M, O'Sullivan B, Rous B, Van Eycken E, editors. TNM Classification of Malignant Tumours. 9th ed. Hoboken: Wiley; 2025. Berlaku efektif 1 Januari 2026.

Glosarium

AFP (Alfa-fetoprotein) — Biomarker tumor serum yang meningkat pada tumor sel germinal non-seminoma testis.

Barbotage — Teknik aspirasi dan irigasi berulang pada endoskopi saluran kemih untuk memperoleh spesimen sitologi.

Biopsi fusi — Biopsi prostat yang menggabungkan citra MRI dan USG secara real-time untuk menargetkan lesi spesifik.

Bosniak, klasifikasi — Sistem kategorisasi kista ginjal kompleks (I–IV) berdasarkan gambaran CT/MRI untuk memperkirakan risiko keganasan.

β-hCG (Beta human chorionic gonadotropin) — Biomarker tumor serum yang dapat meningkat pada seminoma maupun non-seminoma testis.

Grade Group — Sistem gradasi histologis adenokarsinoma prostat (1–5) berdasarkan skor Gleason menurut ISUP/WHO 2022.

Hematuria — Adanya darah dalam urin, baik makroskopik maupun mikroskopik, gejala kardinal keganasan traktus urinarius.

IGCCCG — International Germ Cell Cancer Collaborative Group, sistem stratifikasi risiko tumor sel germinal metastatik.

IMDC — International Metastatic RCC Database Consortium, sistem prognostik karsinoma sel ginjal metastatik.

Karsinoma in situ (CIS) — Lesi urotelial derajat tinggi datar tanpa invasi lamina propria, berisiko progresi tinggi.

Karsinoma sel ginjal (RCC) — Keganasan primer parenkim ginjal, subtipe tersering adalah karsinoma sel jernih.

Karsinoma urotelial — Keganasan epitel transisional yang melapisi saluran kemih dari pelvis renalis hingga uretra proksimal.

LDH (Laktat dehidrogenase) — Enzim yang kadarnya meningkat sebanding dengan beban tumor pada tumor sel germinal testis.

Nefrektomi parsial — Reseksi bedah tumor ginjal dengan mempertahankan parenkim ginjal sehat di sekitarnya.

Orkidektomi radikal inguinal — Pengangkatan testis beserta korda spermatika melalui insisi inguinal, baku emas tata laksana awal tumor testis.

PI-RADS — Prostate Imaging Reporting and Data System, sistem pelaporan standar mpMRI prostat (skor 1–5).

PSA (Prostate-specific antigen) — Glikoprotein serum yang diproduksi jaringan prostat, biomarker utama kecurigaan kanker prostat.

PSMA PET-CT — Pencitraan fungsional berbasis Prostate-Specific Membrane Antigen untuk deteksi metastasis kanker prostat.

Sitologi urin — Pemeriksaan sel eksfoliatif dalam urin untuk deteksi sel ganas urotelial derajat tinggi.

Stadium TNM — Sistem klasifikasi kanker berdasarkan luas tumor primer (T), kelenjar getah bening regional (N), dan metastasis jauh (M).

TNM edisi ke-9 (UICC 2025) — Pembaruan global sistem stadium TNM yang diterbitkan UICC tahun 2025, efektif 1 Januari 2026; diadopsi bertahap per organ (misalnya kanker testis pada pedoman EAU 2026), sementara organ lain masih menggunakan edisi ke-8 (2017).

Tract seeding — Penyemaian sel tumor sepanjang jalur jarum biopsi atau instrumen bedah, komplikasi jarang namun serius.

Tumor board — Forum diskusi multidisiplin untuk menetapkan rencana tata laksana kasus onkologi kompleks.

TURBT — Transurethral resection of bladder tumor, reseksi tumor buli transuretra untuk diagnosis dan tata laksana awal.

Ureteroskopi — Prosedur endoskopi untuk visualisasi dan biopsi saluran kemih atas (ureter dan pelvis renalis).

WHO/ISUP, klasifikasi — Sistem klasifikasi histologis dan gradasi tumor urologi yang diperbarui oleh World Health Organization dan International Society of Urological Pathology.

Tentang Buku Ini

Buku ini adalah Buku Tematik 1 dari 9 dalam Seri Pendidikan Dokter Spesialis Urologi Subspesialis Urologi Onkologi, yang seluruhnya disusun berdasarkan Keputusan Konsil Kedokteran Indonesia Nomor 47/KKI/KEP/V/20231. Buku ini berfungsi sebagai fondasi konseptual dan teknis bagi seluruh buku tematik berikutnya dalam seri: pembaca disarankan mempelajari buku ini terlebih dahulu sebelum melanjutkan ke Buku Tematik 2 (Kanker Buli dan Karsinoma Urotelial Saluran Kemih Atas), Buku Tematik 3 (Karsinoma Sel Ginjal), Buku Tematik 4 (Kanker Prostat), Buku Tematik 5 (Kanker Testis dan Kanker Penis), serta buku-buku tematik lanjutan mengenai tata laksana onkologi urologi kompleks, penelitian, dan pengabdian masyarakat dalam seri ini. Rujukan silang antarbuku ditandai secara eksplisit pada bagian yang relevan untuk memudahkan pembaca menelusuri keterkaitan antar topik.